Credit Suisse dan Deutsche Bank Borong Saham BCA
Rabu, 8 Agustus 2012 | 10:38 WIB
Transaksi itu dilakukan pada 7 Agustus 2012. Harga pelaksanaannya Rp7.700 per saham.
Credit Suisse (Hong Kong) Limited dan Deutsche Bank AG Cabang Hong Kong membeli 90,9 juta saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) senilai Rp699,9 miliar.
Credit Suisse membeli 49,3 juta saham, sedangkan Deutsche Bank 41,6 juta saham.
Transaksi itu dilakukan pada 7 Agustus 2012. Harga pelaksanaannya Rp7.700 per saham atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata penutupan selama 90 hari sebelum transaksi. Harga itu setara dengan harga penutupan sehari sebelum transaksi.
“Saham-saham yang dijual merupakan saham simpanan (treasury stock) yang dibeli dalam program pembelian kembali (buyback) saham selama 17 Januari-31 Oktober 2006,” ujar Sekretaris Perusahaan BCA Inge Setiawati dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (7/8).
Inge menjelaskan, setelah penjualan saham itu, sisa saham simpanan perseroan mencapai 198,7 juta. Saham ini dibeli dalam program buyback kedua pada 11 Februari-15 November 2008.
Sesuai ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), emiten berkode saham BBCA itu wajib menjual seluruh saham simpanan paling lambat pada 15 November 2013. Adapun total saham BCA mencapai 24,6 miliar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) 181,9 juta saham BCA senilai Rp1,4 triliun, Senin (6/8). Transaksi itu difasilitasi PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS) dan PT Deutsche Securities Indonesia (DB).
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengakui, sebanyak 90,9 juta saham simpanan yang dijual telah di-crossing. Namun, perseroan tidak menambah jumlah saham yang dilepas (upsize).
Menurut dia, penjualan saham simpanan bertujuan meningkatkan permodalan perseroan, sehingga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) menjadi 14,8 persen. Per Juni 2012, CAR BCA mencapai 14,7 persen.
BCA adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Pada semester I-2012, perseroan meraih laba bersih sebesar Rp5,3 triliun, naik 10,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp4,79 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp9,19 triliun atau naik 14,4 persen dari Rp8,03 triliun. Pendapatan nonbunga juga naik 12,1 persen, dari Rp3,24 triliun menjadi Rp3,63 triliun.
“Penguatan pendapatan didorong kuatnya pertumbuhan kredit BCA selama semester I tahun ini. Kredit tumbuh 41,5 persen atau bertambah Rp66,3 triliun menjadi Rp226 triliun,” ujar Jahja Setiaatmadja belum lama ini.
Loan to deposit ratio (LDR) perseroan mencapai 65,5 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada level rendah, yakni 0,5 persen. Perolehan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 19,4 persen menjadi Rp341,1 triliun. Ini terdiri atas tabungan Rp182,3 triliun, giro Rp82,8 triliun, dan deposito Rp76 triliun. “Sedangkan secondary reserves tercatat Rp59,8 tri- liun,” ucap Jahja.
Credit Suisse (Hong Kong) Limited dan Deutsche Bank AG Cabang Hong Kong membeli 90,9 juta saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) senilai Rp699,9 miliar.
Credit Suisse membeli 49,3 juta saham, sedangkan Deutsche Bank 41,6 juta saham.
Transaksi itu dilakukan pada 7 Agustus 2012. Harga pelaksanaannya Rp7.700 per saham atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata penutupan selama 90 hari sebelum transaksi. Harga itu setara dengan harga penutupan sehari sebelum transaksi.
“Saham-saham yang dijual merupakan saham simpanan (treasury stock) yang dibeli dalam program pembelian kembali (buyback) saham selama 17 Januari-31 Oktober 2006,” ujar Sekretaris Perusahaan BCA Inge Setiawati dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (7/8).
Inge menjelaskan, setelah penjualan saham itu, sisa saham simpanan perseroan mencapai 198,7 juta. Saham ini dibeli dalam program buyback kedua pada 11 Februari-15 November 2008.
Sesuai ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), emiten berkode saham BBCA itu wajib menjual seluruh saham simpanan paling lambat pada 15 November 2013. Adapun total saham BCA mencapai 24,6 miliar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) 181,9 juta saham BCA senilai Rp1,4 triliun, Senin (6/8). Transaksi itu difasilitasi PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS) dan PT Deutsche Securities Indonesia (DB).
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengakui, sebanyak 90,9 juta saham simpanan yang dijual telah di-crossing. Namun, perseroan tidak menambah jumlah saham yang dilepas (upsize).
Menurut dia, penjualan saham simpanan bertujuan meningkatkan permodalan perseroan, sehingga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) menjadi 14,8 persen. Per Juni 2012, CAR BCA mencapai 14,7 persen.
BCA adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Pada semester I-2012, perseroan meraih laba bersih sebesar Rp5,3 triliun, naik 10,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp4,79 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp9,19 triliun atau naik 14,4 persen dari Rp8,03 triliun. Pendapatan nonbunga juga naik 12,1 persen, dari Rp3,24 triliun menjadi Rp3,63 triliun.
“Penguatan pendapatan didorong kuatnya pertumbuhan kredit BCA selama semester I tahun ini. Kredit tumbuh 41,5 persen atau bertambah Rp66,3 triliun menjadi Rp226 triliun,” ujar Jahja Setiaatmadja belum lama ini.
Loan to deposit ratio (LDR) perseroan mencapai 65,5 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada level rendah, yakni 0,5 persen. Perolehan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 19,4 persen menjadi Rp341,1 triliun. Ini terdiri atas tabungan Rp182,3 triliun, giro Rp82,8 triliun, dan deposito Rp76 triliun. “Sedangkan secondary reserves tercatat Rp59,8 tri- liun,” ucap Jahja.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




