PNM Pelopori Obligasi UMKM
Rabu, 19 September 2012 | 20:31 WIB
Saat ini PNM sedang memproses penerbitan obligasi tersebut dengan nilai maksimal Rp500 miliar dan berjangka waktu lima tahun
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menilai penerbitan obligasi untuk membiayai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki prospek cukup baik. Oleh karena itu, perseroan menjadi pelopor penerbitan obligasi berbasis UMKM.
Direktur Bisnis Ritel PNM Tri Susilo mengatakan, saat ini PNM sedang memproses penerbitan obligasi tersebut dengan nilai maksimal Rp500 miliar dan berjangka waktu lima tahun untuk disalurkan sebagai pembiayaan UMKM. Sebab, UMKM belum bisa secara langsung masuk ke pasar modal untuk mencari pendanaan, sehingga diperlukan vehicle sebagai issuer obligasi UMKM.
“Bisnis UMKM saat ini berkembang dengan prospek dan profitabilitas yang baik. Sedangkan untuk perkembangan pembiayaan dari pasar modal, perlu ada dukungan lebih lanjut dari stakeholder khususnya Bapepam-LK dan otoritas bursa,” kata dia pada diskusi PNM bertajuk Prospek Obligasi Berbasis UKM di Jakarta, hari ini.
Masa penawaran awal Obligasi I PNM senilai Rp500 miliar tersebut pada 14-28 September 2012. Adapun perkiraan pernyataan efektif dari regulator akan didapat paling lama 4 Oktober 2012. Masa penawaran pada 8-9 Oktober 2012 dan pencatatan obligasi pada 15 Oktober 2012. Kupon Obligasi I PNM 2012 tersebut di kisaran 8,75-9,5 persen.
Tri menjelaskan, potensi pasar usaha mikro berdasarkan data Statistik Unit Usaha Tahun 2010 Kementerian Koperasi dan UKM cukup besar. Jumlah unit usaha mikro sebanyak 52,17 juta unit dan menyumbang 32,42 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah usaha kecil sebanyak 546.675 unit, usaha menengah 41.133 unit, dan usaha besar 4.667 unit.
“Jumlah unit UMKM mencakup 99,99 persen dari seluruh pelaku usaha, dengan porsi terbesar ditempati usaha mikro yakni 98,85 persen. Sedangkan porsi usaha besar hanya 0,01 persen,” ujar dia.
Di industri perbankan saja, papar dia, pertumbuhan penyaluran kredit mikro per Juni 2012 baru 3,62 persen secara year on year (yoy). Masih rendahnya penyaluran kredit tersebut karena perbankan sangat memperhatikan aspek risiko.
Obligasi UMKM, jelas dia, menjadi produk alternatif atau instrumen investasi bagi investor institusi maupun ritel melalui manajer investasi.
Tri menjelaskan, hingga Agustus 2012, pembiayaan PNM mencapai Rp2,7 triliun. Sedangkan nilai akumulasi pembiayaan yang disalurkan sejak PNM berdiri tahun 2008 mencapai Rp5,5 triliun. Sekitar 70 persen dari pembiayaan tersebut disalurkan ke sektor perdagangan.
Executive Vice President PNM Bambang Siswaji mengatakan, pihaknya menilai sumber pendanaan melalui penerbitan obligasi cocok untuk mendukung pembiayaan UMKM. Sebelumnya, perseroan telah melakukan alternatif pendanaan UMKM dari pasar modal melalui penerbitan reksa dana pendapatan terbatas sebanyak empat kali, dengan total akumulasi senilai Rp670 miliar.
“Bunga obligasi yakni fixed dibandingkan suku bunga bank yang cenderung floating. Jika penerbitan obligasi Rp500 miliar untuk UMKM tersebut sukses, tidak tertutup kemungkinan untuk melahirkan obligasi derivatifnya,” jelas dia.
Pada kesempatan itu, Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing mengapresiasi niat PNM untuk menjadi pionir di Indonesia dalam penerbitan obligasi berbasis UMKM. Penerbitan obligasi semacam itu sudah dilakukan di sejumlah bursa efek di Eropa. “Obligasi berbasis UMKM sudah menjadi tren global. Sedangkan di Indonesia, PNM menjadi pelopornya. Bursa efek di Jerman juga telah melakukan terobosan dengan membuka akses pendanaan terhadap UMKM,” jelas dia.
Menurut Pardomuan, penerbitan obligasi untuk membiayai UMKM sangat tepat dan tidak menimbulkan mismacth. Momentum penerbitan obligasi tersebut juga sangat tepat mengingat tren suku bunga perbankan saat ini cenderung rendah.
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menilai penerbitan obligasi untuk membiayai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki prospek cukup baik. Oleh karena itu, perseroan menjadi pelopor penerbitan obligasi berbasis UMKM.
Direktur Bisnis Ritel PNM Tri Susilo mengatakan, saat ini PNM sedang memproses penerbitan obligasi tersebut dengan nilai maksimal Rp500 miliar dan berjangka waktu lima tahun untuk disalurkan sebagai pembiayaan UMKM. Sebab, UMKM belum bisa secara langsung masuk ke pasar modal untuk mencari pendanaan, sehingga diperlukan vehicle sebagai issuer obligasi UMKM.
“Bisnis UMKM saat ini berkembang dengan prospek dan profitabilitas yang baik. Sedangkan untuk perkembangan pembiayaan dari pasar modal, perlu ada dukungan lebih lanjut dari stakeholder khususnya Bapepam-LK dan otoritas bursa,” kata dia pada diskusi PNM bertajuk Prospek Obligasi Berbasis UKM di Jakarta, hari ini.
Masa penawaran awal Obligasi I PNM senilai Rp500 miliar tersebut pada 14-28 September 2012. Adapun perkiraan pernyataan efektif dari regulator akan didapat paling lama 4 Oktober 2012. Masa penawaran pada 8-9 Oktober 2012 dan pencatatan obligasi pada 15 Oktober 2012. Kupon Obligasi I PNM 2012 tersebut di kisaran 8,75-9,5 persen.
Tri menjelaskan, potensi pasar usaha mikro berdasarkan data Statistik Unit Usaha Tahun 2010 Kementerian Koperasi dan UKM cukup besar. Jumlah unit usaha mikro sebanyak 52,17 juta unit dan menyumbang 32,42 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah usaha kecil sebanyak 546.675 unit, usaha menengah 41.133 unit, dan usaha besar 4.667 unit.
“Jumlah unit UMKM mencakup 99,99 persen dari seluruh pelaku usaha, dengan porsi terbesar ditempati usaha mikro yakni 98,85 persen. Sedangkan porsi usaha besar hanya 0,01 persen,” ujar dia.
Di industri perbankan saja, papar dia, pertumbuhan penyaluran kredit mikro per Juni 2012 baru 3,62 persen secara year on year (yoy). Masih rendahnya penyaluran kredit tersebut karena perbankan sangat memperhatikan aspek risiko.
Obligasi UMKM, jelas dia, menjadi produk alternatif atau instrumen investasi bagi investor institusi maupun ritel melalui manajer investasi.
Tri menjelaskan, hingga Agustus 2012, pembiayaan PNM mencapai Rp2,7 triliun. Sedangkan nilai akumulasi pembiayaan yang disalurkan sejak PNM berdiri tahun 2008 mencapai Rp5,5 triliun. Sekitar 70 persen dari pembiayaan tersebut disalurkan ke sektor perdagangan.
Executive Vice President PNM Bambang Siswaji mengatakan, pihaknya menilai sumber pendanaan melalui penerbitan obligasi cocok untuk mendukung pembiayaan UMKM. Sebelumnya, perseroan telah melakukan alternatif pendanaan UMKM dari pasar modal melalui penerbitan reksa dana pendapatan terbatas sebanyak empat kali, dengan total akumulasi senilai Rp670 miliar.
“Bunga obligasi yakni fixed dibandingkan suku bunga bank yang cenderung floating. Jika penerbitan obligasi Rp500 miliar untuk UMKM tersebut sukses, tidak tertutup kemungkinan untuk melahirkan obligasi derivatifnya,” jelas dia.
Pada kesempatan itu, Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing mengapresiasi niat PNM untuk menjadi pionir di Indonesia dalam penerbitan obligasi berbasis UMKM. Penerbitan obligasi semacam itu sudah dilakukan di sejumlah bursa efek di Eropa. “Obligasi berbasis UMKM sudah menjadi tren global. Sedangkan di Indonesia, PNM menjadi pelopornya. Bursa efek di Jerman juga telah melakukan terobosan dengan membuka akses pendanaan terhadap UMKM,” jelas dia.
Menurut Pardomuan, penerbitan obligasi untuk membiayai UMKM sangat tepat dan tidak menimbulkan mismacth. Momentum penerbitan obligasi tersebut juga sangat tepat mengingat tren suku bunga perbankan saat ini cenderung rendah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




