ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indofarma Garap Tujuh Proyek Besar Senilai Rp 200 Miliar

Kamis, 20 Mei 2021 | 17:29 WIB
LO
FB
Penulis: Lona Olavia | Editor: FMB
Arief Pramuhanto.
Arief Pramuhanto. (B1/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com – Emiten BUMN farmasi, PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) siapkan tujuh proyek besar sebagai bagian dari upaya mengembangkan kemandirian produk alat kesehatan di Indonesia. Enam di antaranya merupakan proyek pengembangan produk dan satu sisanya proyek pendukung. Perseroan pun sudah menyiapkan dana untuk pembiayaan investasi sebesar Rp 169,86 miliar dan modal kerja Rp 30 miliar.

"Seluruh investasi kita 75% ke alat kesehatan. Tujuh investasi kita tadi 100% sumber dananya dari PMN (penyertaan modal negara) dari holding kami, tapi nanti kita akan lihat perkembangannya," ucap Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto dalam paparan publik Indofarma, Kamis (20/5/2021).

Perseroan jelasnya tengah melakukan pembangunan pabrik melt blown yang merupakan bahan baku masker di Cibitung seluas 20 hektare dengan nilai pembiayaan investasi Rp 14,86 miliar dan modal kerja Rp 5 miliar, pabrik hospital furniture dengan nilai pembiayaan investasi Rp 15 miliar dan modal kerja Rp 5 miliar, pabrik sarung tangan atau gloves dengan nilai pembiayaan investasi Rp 20 miliar dan pabrik kateter dengan nilai pembiayaan investasi Rp 50 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar.

Dengan nilai pembiayaan investasi Rp 30 miliar, perseroan juga akan mengembangkan produk natural extract. Untuk pengembangan central processing facility, nilai pembiayaan investasi yang digunakan Rp 30 miliar dan modal kerja Rp 10 miliar. Nilai pembiayaan investasi untuk supporting function sebesar Rp 10 miliar.

ADVERTISEMENT

"Pada akhir tahun ini, semua fasilitas produksi dan pendukung yang baru tersebut ditargetkan sudah selesai dan siap beroperasi pada awal 2022," katanya.

Indofarma, sambung Arief juga akan menggenjot pasar ekspor. Di mana, untuk lini bisnis farma perseroan sudah membuka pasar untuk negara Afghanistan, Vietnam, Timur Tengah, dan Singapura. Sedangkan, untuk produk natural extract, perseroan akan menjajaki peluang ekspor baru ke wilayah Amerika dan Eropa.

Lebih lanjut, hingga akhir tahun ini, Indofarma menargetkan, penjualan bisa sebesar Rp 2,5 triliun, atau meningkat dari akhir 2020 sebesar Rp 1,7 triliun. Begitupun dengan laba bersih di angka Rp 40 miliar, naik dari posisi akhir 2020 Rp 27,58 miliar. "Komposisinya tidak akan beda jauh di mana, 50%-55% berasal dari farma dan 45%-50% dari alat kesehatan," sebut Arief.

Hingga kuartal I-2021, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp 373,20 miliar, meningkat sebesar Rp 225,04 miliar atau 152% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 148,16 miliar. Peningkatan Penjualan Bersih tersebut terutama ditopang dari penjualan segmen ethical sebesar Rp 191,87 miliar dan alat kesehatan sebesar Rp 175,49 miliar. Keberhasilan peningkatan penjualan tersebut berkontribusi positif pada pencapaian laba bersih perseroan Rp 1,8 miliar setelah mengalami kerugian bersih Rp 21,43 miliar pada periode yang sama tahun buku 2020.

"Perseroan meningkatkan kinerja penjualan pada kuartal I-2021 dengan strategi penjualan obat ethical dan alat kesehatan terkait Covid-19," ujar Arief.

50 Juta Dosis Vaksin
Terkait Covid-19, Arief menyampaikan bahwa Indofarma memastikan akan mulai mendistribusi 50 juta dosis pasokan vaksin Novavax yang masuk dalam program vaksin pemerintah di bulan September 2021. Vaksin tersebut akan didatangkan dari perusahaan yang berada di India yang menjalin kerja sama dengan Novavax, perusahaan dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menjalin kerja sama untuk mendatangkan vaksin tersebut yang bersifat mengikat maupun tidak mengikat.

"Sebanyak 50 juta vaksin ini akan digunakan dalam program vaksinasi Covid-19 gratis oleh Kementerian Kesehatan. Kita akan kebut di 2021 distribusinya," pungkasnya.

Selain itu, perseroan bersiap menambah lini obat yang terkait dengan pengobatan efek Covid-19, yakni Ivermectin. Obat tersebut masih diproses oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengantongi izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA). Indofarma juga tengah bekerja sama dengan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan sekarang sedang berlangsung uji klinisnya dan melibatkan rumah sakit dibawah Kementerian Pertahanan.

"Ivermectin berfungsi tidak hanya sebagai obat, tapi juga pencegahan. Cara pakainya sebulan dua kali. Nantinya ini bisa didapatkan di dokter dan rumah sakit Juni ini," kata Arief.

Sebelum Ivermectin, Indofarma sudah lebih dahulu mendistribusikan obat Oseltamivir dan Remdesivir. Di mana, kedua obat ini mampu memberikan porsi penjualan hampir 2/3 pada kuartal IV-2020.

Untuk diketahui, Remdesivir memiliki nama dagang Desrem. Obat ini dijual ke rumah sakit untuk pasien kondisi sedang hingga berat. Obat ini diproduksi oleh Mylan Laboratories Limited, atas lisensi dari Gilead Sciences Inc, Foster City dan United States of America. Sedangkan, Oseltamivir digunakan untuk terapi penyembuhan pasien Covid-19 di dalam negeri dan didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19. 



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rugi Bersih Turun, Kimia Farma Targetkan Laba pada 2026

Rugi Bersih Turun, Kimia Farma Targetkan Laba pada 2026

EKONOMI
Indofarma Rombak Direksi, Sahat Sihombing Jadi Dirut Baru

Indofarma Rombak Direksi, Sahat Sihombing Jadi Dirut Baru

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon