METI: Pengurangan Emisi Butuh Insentif
Senin, 5 November 2012 | 20:11 WIB
Pengurangan emisi juga dapat dicapai dengan memberikan insentif bagi perusahaan hijau.
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengakui upaya pengurangan emisi secara signifikan membutuhkan investasi besar karena memerlukan proses transformasi di berbagai sektor.
Pengurangan emisi juga dapat dicapai dengan memberikan insentif bagi perusahaan hijau.
Ketua METI Rahmat Gobel menjelaskan selain pengurangan emisi, kalangan pengusaha juga menyadari saat ini berkembang tuntutan pengembangan produk ramah lingkungan (green / eco product) untuk merespon tantangan dinamika sosial ekonomi dalam dampak perubahan iklim.
“Transformasi menuju green industry memerlukan adanya investasi yang masif serta dukungan yang kondusif dalam mengembangkan berbagai inovasi. Salah satunya, standar industri yang memungkinkan, baik produsen maupun konsumen mendapatkan produk hijau berkualitas,” kata Rahmat dalam acara 3rd Indonesia Carbon Update di Jakarta, Senin (5/11).
Menurut Rahmat, untuk memenuhi target pengurangan emisi dan kriteria ramah lingkungan, pengusaha harus memandang hal itu sebagai investasi dan perluasan daya penetrasi pasar untuk melahirkan keuntungan di masa mendatang, bukan semata-mata pemborosan biaya dan pengurangan keuntungan.
Rahmat juga berpendapat, untuk mempercepat upaya pengurangan emisi, pemerintah bisa membuat aturan insentif terhadap perusahaan yang menerapkan standar produk dan juga fasilitas industri yang ramah lingkungan.
Namun dia juga tidak bisa berharap banyak karena pemberian insentif bukan merupakan hal yang mudah karena terkait pengurangan potensi pendapatan negara.
Sementara itu Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rahmat Witoelar mejelaskan Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengurangan emisi dan perubahan iklim baik ditingkat nasional maupun global.
Hal ini tercermin dari telah diselenggarakannya serangkaian kegiatan seperti penyusunan Rencana Aksi Nasional/Daerah, pembangunan sistem inventarisasi gas rumah kaca, penyiapan lembaga REDD+, pengembangan instrumen pendanaan maupun berbagai kegiatan pendukungnya seperti pemetaan maupun penelitian terkait.
“Saya merasa bangga bahwa pada pertemuan Indonesia carbon Update (ICU) -3 tahun ini telah dicapai banyak kemajuan di tingkat nasional. Ini menunjukkan adanya kesadaran dan komitmen bersama dalam mendukung berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah serta sekaligus kontribusi terhadap persoalan global,” tukas dia.
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengakui upaya pengurangan emisi secara signifikan membutuhkan investasi besar karena memerlukan proses transformasi di berbagai sektor.
Pengurangan emisi juga dapat dicapai dengan memberikan insentif bagi perusahaan hijau.
Ketua METI Rahmat Gobel menjelaskan selain pengurangan emisi, kalangan pengusaha juga menyadari saat ini berkembang tuntutan pengembangan produk ramah lingkungan (green / eco product) untuk merespon tantangan dinamika sosial ekonomi dalam dampak perubahan iklim.
“Transformasi menuju green industry memerlukan adanya investasi yang masif serta dukungan yang kondusif dalam mengembangkan berbagai inovasi. Salah satunya, standar industri yang memungkinkan, baik produsen maupun konsumen mendapatkan produk hijau berkualitas,” kata Rahmat dalam acara 3rd Indonesia Carbon Update di Jakarta, Senin (5/11).
Menurut Rahmat, untuk memenuhi target pengurangan emisi dan kriteria ramah lingkungan, pengusaha harus memandang hal itu sebagai investasi dan perluasan daya penetrasi pasar untuk melahirkan keuntungan di masa mendatang, bukan semata-mata pemborosan biaya dan pengurangan keuntungan.
Rahmat juga berpendapat, untuk mempercepat upaya pengurangan emisi, pemerintah bisa membuat aturan insentif terhadap perusahaan yang menerapkan standar produk dan juga fasilitas industri yang ramah lingkungan.
Namun dia juga tidak bisa berharap banyak karena pemberian insentif bukan merupakan hal yang mudah karena terkait pengurangan potensi pendapatan negara.
Sementara itu Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rahmat Witoelar mejelaskan Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengurangan emisi dan perubahan iklim baik ditingkat nasional maupun global.
Hal ini tercermin dari telah diselenggarakannya serangkaian kegiatan seperti penyusunan Rencana Aksi Nasional/Daerah, pembangunan sistem inventarisasi gas rumah kaca, penyiapan lembaga REDD+, pengembangan instrumen pendanaan maupun berbagai kegiatan pendukungnya seperti pemetaan maupun penelitian terkait.
“Saya merasa bangga bahwa pada pertemuan Indonesia carbon Update (ICU) -3 tahun ini telah dicapai banyak kemajuan di tingkat nasional. Ini menunjukkan adanya kesadaran dan komitmen bersama dalam mendukung berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah serta sekaligus kontribusi terhadap persoalan global,” tukas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




