Teten Dorong UKMK Bertranformasi ke Digital, Ini Alasannya
Senin, 6 September 2021 | 15:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil, Menengah (UKM) Teten Masduki mendorong usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bertranformasi ke digital di tengah pandemi Covid-19.
"Mereka harus beradaptasi dengan bertranformasi digital. Data dari asosiasi e-commerce saat ini UMKM yang sudah menggunakan digital mencapai 23,9% atau 15,2 juta UMKM dari total UMKM di Indonesia sekitar 64 juta," kata Teten Masduki saat menjadi pembicara pada webinar bertema "UMKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi" Senin (6/9/2021).
Padahal, lanjut Menkop, dalam 10 tahun terakhir hanya 8 juta UMKM yang terhubung platform e-commerce. "Tentu peningkatan ini cukup signifikan, yakni dari 13% menjadi 23,9%, ini akan kami percepat agar UMKM bisa terus beradaptasi dan bertransformasi ke digital," katanya.
Menurut dia, transformasi dari offline ke online didorong perilaku masyarakat yang gemar berbelanja di e-commerce. "Hal ini akan menjadi tren baru meskipun pandemi sudah berlalu," kata dia.
Lebih jauh Menkop mengungkapkan, salah satu masalah yang dihadapi UMKM adalah produk yang minim terserap oleh pasar. Kendati saat ini produk UMKM dari sektor kebutuhan pokok, kebutuhan kesehatan cukup bagus terserap di pasaran. "Catatan kami ada tiga, yakni literasi digital, kapasitas dan kualitas produksi, serta akses pasar," terangnya.
Menkop mengatakan, bantuan bagi UMKM merupakan bagian dari program pemulihan ekonomi nasional. Apalagi penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut mencapai 97%%. Dari 65 juta jumlah UMKM, menurut dia, 99,6% merupakan usaha mikro dengan omzet di bawah Rp 2 miliar setahun.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pimpinan Wilayah Jakarta I Kanwil VIII Pengadaian Mulyono mengatakan, PT Pegadaian (Persero) saat ini memiliki 66% nasabah dari usaha mikro. "Peruntukan kredit produktif masih tinggi, terutama untuk usaha rumahan," kata Mulyono.
Menurut dia, ada 5,2 juta usaha mikro nasabah Pegadaian telah berbasis digital. Adapun terbesar atau 78% nasabah adalah program gadai untuk memenuhi permodalan pelaku UMKM. "Kami memberikan perbantuan modal yang mudah, cepat dan aman," ungkapnya.
Sementara Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Komperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDP-KUMKM) Supomo mengatakan, penyaluran pinjaman badan Layanan Pengelola Dana Bergulir (LPDB) ke UMKM pada 2021 sebesar Rp 1,015 triliun. Dengan perincian komersional Rp 507 miliar, pembiayaan syariah Rp 508 miliar dengan jumlah total mitra 121. "Total akumulasi penyaluran dana bergulir 2008 hingga 2021 sebesar Rp 13 triliun," kata Supomo.
Sementara Anggota Komisi VI DPR Fraksi Demokrat Melani mengatakan, UMKM adalah kekuatan ekonomi nasional. Oleh karena itu, keberadaan UMKM merupakan salah satu kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa UMKM mencapai 64 juta atau 99,9% dari keseluruhan usaha di Indonesia.
Ketua Umum OK OCE Iim Rusyamsi menegaskan, UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Sebab, 61% UMKM menyumbang produk domestik bruto (PDB) dan 97% menyerap tenaga kerja di Indonesia. Adapun pelaku UMKM berbasis digital mencapai 15,3 juta atau 23,9% "Di masa pandemi UMKM terganggu, mereka 90% kehilangan pasar, 52% kehilangan pedapatan, 63% merumahkan karyawan," bebernya.
Namun dengan program bantuan dari pemerintah, dikatakan dia, UMKM di Indonesia tetap bertahan.
Pada saat membuka acara webinar Direktur Utama PT Indonesia Digital Pos (IDP) Syarief Hidayatullah mengatakan, pandemi Covid-19 telah memukul sektor ekonomi di Indonesia. Salah satu sektor yang sangat terpukul Covid-19 ialah UMKM.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




