S&P 500 Catat Level Terendah di 2022, Bursa AS Terkapar
Selasa, 27 September 2022 | 05:59 WIB
New York, Beritasatu.com - Bursa AS Wall Street pada perdagangan Senin (26/9/2022) berada di zona merah karena kenaikan suku bunga dan gejolak mata uang global. S&P 500 mencatat penutupan terendah baru untuk 2022 dan Dow Jones Industrial Average tergelincir ke pasar bearish (pelemahan).
S&P 500 turun 1,03% menjadi 3,655,04, jatuh di bawah penutupan terendah Juni 3,666,77. S&P 500 sempat merosot ke 3.644,76, kurang dari delapan poin dari level terendah intraday 2022 S&P 500 yakni 3.636,87.
Baca Juga: Penguatan 8 Hari Beruntun S&P 500 Terhenti Jelang Rilis Inflasi Utama
Sementara Dow Jones turun 329,60 poin, atau 1,11%, menjadi 29.260,81, mempercepat pelemahan di saat-saat terakhir perdagangan. Indeks Dow Jones yang merupakan kumpulan 30 saham unggulan ini turun sekitar 20,4% dari penutupan tertinggi 4 Januari. Sedangkan Nasdaq Composite turun 0,6% menjadi 10.802,92.
Sedangkan pound sterling Inggris turun ke rekor terendah pada Senin terhadap dolar AS. Pound jatuh 4% pada satu titik ke level terendah sepanjang masa di $ 1,0382. Pound sejak itu turun dari level terburuknya karena spekulasi bahwa Bank of England akan menaikkan suku bunga lebih agresif untuk menekan inflasi.
Kampanye kenaikan agresif Federal Reserve the Fed, ditambah dengan pemotongan pajak Inggris yang diumumkan minggu lalu telah menyebabkan dolar AS menguat. Euro mencapai level terendah terhadap dolar sejak 2002. Penguatan dolar dapat merugikan keuntungan perusahaan multinasional AS dan mendatangkan malapetaka pada perdagangan global, karena banyak ditransaksikan dalam dolar.
"Penguatan dolar AS secara historis menyebabkan semacam krisis keuangan/ekonomi," tulis Kepala Strategi Ekuitas AS, Morgan Stanley, Michael Wilson dalam sebuah catatan.
Baca Juga: S&P 500 Lampaui 4.700 Pertama Kalinya Ditopang Saham Infrastruktur
Sementara imbal hasil obligasi melonjak pada Senin, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun capai 3,9%, atau level tertinggi sejak 2010.
Imbal hasil juga melonjak pada Treasury 2-tahun, yang sangat sensitif terhadap kebijakan Fed.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




