ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

S&P 500 Turun 6 Hari Beruntun Jelang Pengumuman Inflasi

Kamis, 13 Oktober 2022 | 05:55 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street.
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (AFP/Johannes Eisele)

New York, Beritasatu.com- Bursa AS Wall Street turun pada perdagangan Rabu (12/10/2022) karena investor menantikan laporan konsumen utama atau inflasi AS yang akan menginformasikan kenaikan suku bunga Federal Reserve (the Fed).

S&P 500 kehilangan 0,33% ke 3.577,03, mencatat pelemahan harian keenam berturut-turut dan mencapai level terendah sejak November 2020. Dow Jones Industrial Average turun 28,34 poin, atau 0,10%, menjadi 29.210,85. Nasdaq Composite turun tipis 0,09% menjadi berakhir di 10.417,10.

Pergerakan saham sempat naik pada Rabu dan imbal hasil obligasi turun setelah risalah pertemuan Federal Reserve September dirilis pada sore hari. Risalah menunjukkan bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga. The Fed baru akan menahan suku bunga jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Satu komentar dalam risalah memunculkan optimisme bahwa The Fed akan memperlambat pengetatan moneter atau bahkan menghentikan jika ada banyak turbulensi di pasar keuangan.

ADVERTISEMENT

"Beberapa peserta mencatat dalam lingkungan ekonomi dan keuangan global yang sangat tidak pasti seperti saat ini, penting untuk mengkalibrasi laju pengetatan kebijakan dengan tujuan mengurangi risiko negatif terhadap prospek ekonomi," demikian bunyi risalah tersebut. 

Bursa AS termasuk S&P 500 bergerak flat ketika indeks harga produsen (producer price index/PPI) September, ukuran harga grosir permintaan lebih tinggi dari yang diharapkan. Indeks harga produsen naik 0,4% lebih dari perkiraan konsensus Dow Jones, 0,2%.

Data PPI adalah salah satu pengukur inflasi yang dipantau investor bersama Federal Reserve. Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral kemungkinan akan melanjutkan kenaikan suku bunga agresif. Itu berarti suku bunga akan terus naik dan mungkin tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan pasar, sehingga membebani saham, termasuk S&P 500.

Investor di S&P 500 menanti data inflasi pada Kamis (13/10/2022). Indeks harga konsumen adalah ukuran perubahan harga barang dan jasa konsumen.

"Harga tetap tinggi sehingga tidak mengejutkan melihat barang dan jasa produsen naik. Peningkatan tersebut masih di bawah apa yang kami lihat secara konsisten dari bulan ke bulan di awal tahun ini," kata Kepala Portofolio Morgan Stanley Global Investment Office, Mike Loewengart.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru, Saham AI Jadi Pendorong

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru, Saham AI Jadi Pendorong

EKONOMI
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi

EKONOMI
Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

Wall Street Melesat, S&P 500 Tembus ATH Baru di Atas Level 7.200

EKONOMI
Wall Street Melemah, Reli Nasdaq Terhenti Akibat Konflik AS Iran

Wall Street Melemah, Reli Nasdaq Terhenti Akibat Konflik AS Iran

EKONOMI
Wall Street Naik Tinggi setelah Selat Hormuz Dibuka dan Risiko Mereda

Wall Street Naik Tinggi setelah Selat Hormuz Dibuka dan Risiko Mereda

EKONOMI
Purbaya: Keraguan World Bank dan S&P Semakin Berkurang

Purbaya: Keraguan World Bank dan S&P Semakin Berkurang

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon