Serang Nuklir Iran, Trump Didesak Israel dan Ditekan Politikus AS
Minggu, 22 Juni 2025 | 11:54 WIB
Washington, Beritasatu.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memerintahkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran tidak muncul begitu saja.
Di balik langkah ekstrem ini, terdapat tekanan yang kuat baik dari luar negeri, terutama dari Israel, maupun dari dalam negeri oleh politisi Partai Republik yang mendesak aksi tegas terhadap Teheran.
Langkah tersebut tidak hanya menjadi penanda perubahan besar dalam arah kebijakan luar negeri AS, tetapi juga membuka babak baru dalam pertarungan politik dan keamanan yang dihadapi Trump menjelang tahun pemilu.
Desakan Israel dan Dorongan Internal
Serangan udara Amerika terhadap tiga fasilitas pengayaan nuklir utama Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan terjadi hanya beberapa hari setelah Israel terlebih dahulu melancarkan gempuran terhadap sejumlah titik strategis milik Iran.
Israel mendorong Washington untuk bertindak cepat, terutama setelah mereka mengeklaim berhasil melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran secara signifikan.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan dari anggota Partai Republik yang melihat momen ini sebagai peluang emas untuk menghentikan ambisi nuklir Iran secara permanen.
Bagi mereka, keputusan Trump menegaskan posisi global AS sebagai kekuatan dominan yang selama ini dianggap meredup.
Kritik dari Sayap Konservatif
Namun tidak semua pihak di kubu konservatif mendukung keputusan ini. Tokoh seperti Tucker Carlson yang dikenal sebagai salah satu pendukung garis keras Trump, menyebut langkah tersebut sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye 2016 yang berkomitmen menjauhkan AS dari konflik luar negeri.
Carlson memperingatkan bahwa langkah Trump justru bisa menarik Amerika ke dalam perang panjang di Timur Tengah, kawasan yang selama ini menjadi kuburan bagi banyak misi militer AS.
Misi Berisiko
Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyatakan semua pesawat militer yang terlibat dalam serangan tersebut telah kembali dengan selamat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada militer AS dan menyatakan bahwa kini adalah "waktunya untuk perdamaian."
Namun, pernyataan tersebut dibayangi oleh risiko besar. Penggunaan kekuatan militer sebagai instrumen diplomatik selalu menyimpan potensi konflik yang lebih luas, terutama jika Iran memutuskan untuk melakukan pembalasan.
Iran memiliki jaringan milisi di berbagai negara Timur Tengah, seperti Irak, Suriah, dan Lebanon yang dapat dengan cepat digunakan untuk memperluas eskalasi. Langkah balasan ini bisa merusak kestabilan regional dan menyeret negara-negara lain ke dalam konflik.
Trump berharap bahwa serangan ini akan menjadi pukulan telak terhadap program nuklir Iran, sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat dan Israel dalam menekan Teheran agar menyerah.
Namun, para analis menyebutkan bahwa tindakan Trump ini justru bisa menyatukan faksi-faksi pro-Iran di kawasan dan membuat negosiasi di masa depan semakin sulit.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




