ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kolaborasi, Solusi Utama Atasi Persoalan Sampah Makanan

Selasa, 21 Maret 2023 | 16:36 WIB
MB
FH
Penulis: Maria Fatima Bona | Editor: FER
Seorang juru sita Prancis mencatat sampah makanan di tempat sampah supermaket di Mimizan-Plage, barat daya Prancis, Kamis (4/3/2021). Sekitar 17% makanan yang tersedia untuk konsumen di seluruh dunia pada tahun 2019 - hampir satu miliar ton - dibuang oleh rumah tangga, pengecer, institusi, dan industri perhotelan.
Seorang juru sita Prancis mencatat sampah makanan di tempat sampah supermaket di Mimizan-Plage, barat daya Prancis, Kamis (4/3/2021). Sekitar 17% makanan yang tersedia untuk konsumen di seluruh dunia pada tahun 2019 - hampir satu miliar ton - dibuang oleh rumah tangga, pengecer, institusi, dan industri perhotelan. (AFP/GEORGES GOBET)

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan, mengatasi sampah makanan tentu tidak dapat dilakukan hanya dari satu sisi, karena harus melibatkan berbagai pihak.

Devie menyebutkan, kolaborasi produsen hingga masyarakat sebagai konsumen di setiap level harus dididik untuk memiliki kesadaran tidak membuang makanan sisa, yang berpotensi menjadi sampah makanan.

"Artinya, dari masyarakat di level produsen artinya petani harus dibantu agar mereka tidak sia-sia untuk setelah memanen proses seperti apa sehingga makanan tidak rusak. Lalu kelompok masyarakat yang ada di tahapan distribusi," kata Devie saat dihubungi Beritasatu.com secara virtual di Jakarta, Selasa (20/3/2023).

ADVERTISEMENT

Devie menuturkan, pada tingkat konsumen ini perlu ada figur menjadi contoh tentang pengelolaan sampah makanan, seperti tokoh masyarakat yang memperlihatkan gaya hidup sehat soal makanan.

"Misalnya, ketika merayakan ulang tahun, dihitung secara terperinci kebutuhan makanan untuk acara tersebut. Hal ini mencegah terjadinya sampah makanan," jelasnya.

Selain itu, kata Devie, mengajak masyarakat untuk dapat menyalurkan makanan melalui Foodbank of Indonesia agar makanan yang berlebihan tersebut tidak mubazir dan disalurkan tepat sasaran.

"Mewujudkan hal tersebut, perlu kolaborasi semua pihak, tidak hanya satu instansi terkait. Misalnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bisa mengimbau semua restoran dapat menghubungi lembaga seperti Foodbank of Indonesia untuk menyalurkan semua makanan sisanya," imbuhnya.

Kemudian, lanjut Devie, seluruh kementerian/ lembaga (K/L) lain ketika melakukan kegiatan selalu menjalin kerja sama dengan lembaga penyalur makanan sisa. Sementara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berperan sebagai leading sector.

"Intinya adalah semua orang harus ingat bahwa tidak boleh membuang-buang makanan. Ambillah makanan sesuai kapasitasnya termasuk di kawinan-kawinan. Diingatkan makanan sesuai kemampuan atau model seperti zaman pandemi dibagi kotak-kotak saja," ucapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon