Video YouTube Telanjangi Korupsi di Malaysia (1)

Kamis, 21 Maret 2013 | 04:47 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Taib Mahmud, Kepala Negara Bagian Sarawak, Malaysia, diguncang skandal korupsi dan nepotisme dari video di YouTube yang menghebohkan Malaysia.
Taib Mahmud, Kepala Negara Bagian Sarawak, Malaysia, diguncang skandal korupsi dan nepotisme dari video di YouTube yang menghebohkan Malaysia. (malaysia-today.net)

Kuala Lumpur – Sebuah video klip realitas yang dibuat oleh LSM asal London, Global Witness, telah menggegerkan Malaysia karena dengan gamblang menggambarkan perilaku korup dan nepotisme dalam memberi konsesi hutan di negara bagian Sarawak.

Video ini memiliki kualitas gambar yang cukup jernih dan yang paling menghebohkan adalah kehadiran dan pengakuan mereka yang diidentifikasi sebagai para sepupu dan kroni kepala negara Sarawak, Taib Mahmud.

Seperti dilaporkan AFP, pengakuan itu didapat oleh si LSM terkait dengan cara mengirim seseorang untuk menyamar sebagai seorang investor asing dan menegosiasikan proyek dengan mereka.

AFP mengatakan belum dapat memastikan kebenaran identitas orang-orang yang ada di video tersebut. Namun sebagai catatan, mereka yang disebut keluarga dan kroni itu muncul dalam gambar yang jelas, dengan pencahayaan cukup dan tidak disamarkan.

Transaksi Yang Riil Dilakukan di Singapura
Yang juga membuat heboh, mereka ini mengaku setiap pembelian konsesi akan dibuat dua versi, satu yang dibuat lokal dengan harga murah, dan versi yang lebih mahal yang mencerminkan harga yang sebenarnya ditandatangani dan dilunasi di Singapura.

Dalam video itu, seperti yang disimak Beritasatu.com, seorang perempuan yang diidentifikasi sebagai salah satu sepupu Taib, Norlia Abdul Rahman, mengatakan trik seperti ini dilakukan untuk menghindari pajak yang disebut Real Property Gains Tax (RPGT).

Jadi harga yang tercantum di Malaysia hanya 10% sedangkan harga sebenarnya disebutkan dalam perjanjian rahasia yang dibuat di Singapura karena tidak terkena RPGT. Tindakan ini sebetulnya melanggar hukum dan terancam hukuman tiga tahun penjara di Malaysia.

Namun ketika ditanya oleh si penyamar apakah trik ini tidak beresiko, Norlia dengan tegas dan tampak yakin mengatakan "tidak, ini sudah pernah dilakukan sebelumnya. It’s been done before."

Bahkan dia juga menawarkan harga tanah hutan ke investor gadungan dari Global Witness itu sebesar RM 4.000 per ekar.

Bersama Norlia juga ada perempuan lain yang juga disebut sebagai sepupu Taib, bernama Fatimah Abdul Rahman.

Singapura = Swiss Baru
Lalu dalam adegan lain video itu muncul pengacara bernama Alvin Chong, yang disebut-sebut mewakili pemerintah negara bagian untuk berhubungan dengan pemerintah pusat di Kuala Lumpur. Untuk menguatkan, video itu juga memunculkan gambar dokumen perjanjian bisnis sebelumnya yang jelas-jelas menyebutkan nama, kantor dan alamat dia.

Pengacara itu meyakinkan si investor gadungan bahwa yang dia ajak bicara sebelumnya adalah orang-orang kunci, the people of substance, merujuk pada para sepupu Taib.

"Anda bicara dengan orang-orang kunci, orang-orang yang menguasai asset itu di tangan mereka," kata Chong.

Pengacara itu juga membenarkan praktek duplikasi perjanjian, satu di Malaysia yang hanya berisi "nilai nominal" dan satu lagi di Singapura yang mencantumkan "nilai yang sebenarnya" atau istilah dia substantial value.

Singapura disukai karena mereka bisa menjaga rahasia ini, kata Chong.

"Karena itulah kami memilih Singapura. Karena mereka tidak akan memberitahu pemerintah Malaysia (soal duplikasi perjanjian)," jelasnya.

Lalu dia didesak lagi oleh di investor gadungan apakah pemerintah Malaysia memang tidak pernah mempertanyakan hal seperti ini ke tetangganya.

"Memang pernah bertanya tapi ditolak," jawabnya tegas. "Mereka (Singapura) adalah Swiss baru."

Video di Youtube Telanjangi Korupsi di Malaysia (2)

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon