"Enjoy Jakarta" Diapresiasi, Namun Perlu Pembenahan Berbagai Sektor
Sabtu, 5 Oktober 2013 | 14:18 WIB
Jakarta - Program kerja Pemerintahan Provinsi Daerah DKI Jakarta untuk memopulerkan Jakarta melalui program "Enjoy Jakarta" mendapat apresiasi.
Menurut Calon Anggota DPD DKI Jakarta, Rommy, kota Jakarta sudah dikenal sebagai pusat mal, pusat kuliner, pusat hiburan, dan wisata belanja bagi turis mancanegara. Gemerlapnya kota menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan yang hidup baik siang maupun malam hari.
"Jakarta melalui promosi wisatanya 'Enjoy Jakarta' akan mengelola kembali budaya Betawi sebagai daya tarik Jakarta, juga pasar malam pedagang kaki lima, sebagai alternatif wisata kuliner yang sudah ada, serta wisata golf," kata Rommy di Jakarta, Sabtu (5/10).
Banyak sekali tujuan wisata di Jakarta, walau tidak memiliki banyak wisata alam seperti Bali atau Lombok. Jakarta justru memiliki banyak obyek wisata yang "man-made" seperti Ancol, TMII, kebun binatang, pusat olahraga, dan museum.
Akan tetapi jika dikelola dengan baik, kata Rommy, semua hal itu jadi daya tarik karena menyuguhkan wahana hiburan bagi anak-anak.
Akan semakin menarik karena Gubernur DKI Jakarta Jokowi yang mengusulkan adanya paket wisata terintegrasi kawasan Asean. Hal itu akan semakin menarik para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia, khususunya Jakarta.
Namun dari semua itu, pemerintah DKI harus mampu meyakinkan wisatawan bahwa Jakarta adalah kota yang aman dan nyaman. Karena jika tidak, mereka akan mencari alternatif tujuan ke daerah atau negara lain.
Keamanan hotel, apartemen, restoran, klub malam, transportasi, harus dijaga. Kata Rommy, jangan sampai ada peristiwa pemerkosaan di dalam taksi terhadap turis, berulangnya pengeboman JW Marriott 2003 dan 2009 di Jakarta, razia klub malam oleh sekelompok orang, dan tawuran antarmasyarakat.
"Transportasi yang buruk berujung pada kemacetan, serta banyaknya proses pembuatan makanan yang buruk oleh pedagang kaki lima, menjadi masalah pemerintah DKI Jakarta," ujarnya.
Selain itu, dia menilai harus ada transformasi visi wisata ke masyarakat, agar masyarakat juga berperan aktif dan "sadar wisata". Misalnya dengan menjaga keamanan lingkungan sekitar dan kontrol terhadap aktivitas penghuni yang mencurigakan.
"Dan juga menjaga kebersihan serta turut berpartisipasi dalam program mengurangi kemacetan," imbuhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




