30 Persen Sekolah di Jakarta Rawan Ambruk
Kamis, 14 November 2013 | 12:24 WIB
Jakarta - Dalam situasi bencana, sektor pendidikan merupakan yang paling sering terkena dampak. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengakui hampir 30% bangunan sekolah di Jakarta rawan ambruk.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, ancaman bencana yang paling sering mengancam sektor pendidikan selain banjir adalah ancaman ambruk. Sebab, banyak sekali bangunan sekolah yang bahan bangunannya terbuat dari kayu yang mudah rapuh dan dimakan rayap.
"Ancaman yang nyata pasti banjir. Setelah itu banyak juga sekolah yang terancam ambruk. Usia kayunya masih muda, tetapi mudah dimakan rayap. Karena kayu bangunan sekolah tidak langsung dikasih antirayap," kata Ahok usai membuka Lokakarya Pembelajaran Implementasi Sekolah Aman Komprehensif di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (14/11).
Melihat hal itu, lanjutnya, mulai ke depan, bangunan sekolah tidak akan lagi memakai bahan kayu, melainkan menggunakan baja ringan. Kekuatan baja ringan lebih baik dibandingkan kayu, karena tidak akan bisa dimakan rayap dan jauh lebih aman saat bencana gempa.
"Makanya, sekarang kita maunya pakai baja ringan. Karena yang paling rapuh dari bangunan sekolah adalah atap dan plafon yang terbuat dari kayu. Itu yang membuat bahaya. Kalau ada bencana gempa sih relatif kita bisa atasi, karena sekolah sudah dibangun tahan gempa. Tetapi bangunan sekolah rata-rata ambruk karena bahan baku bangunannya dari kayu. Semalam saja baru roboh satu sekolah di Klender," jelas mantan Bupati Belitung Timur ini.
Tahun depan, Pemprov DKI akan melakukan rehabilitasi seluruh gedung sekolah dengan memakai baja ringan. Targetnya seluruh sekolah negeri dari tingkat SD hingga SMA akan diperbaiki bangunannya supaya tidak rawan ambruk.
"Banyak sekolah yang rawan ambruk. Sekitar 30% pasti ada. Makanya kita mau perbagus semua gedung sekolah ini dulu. Kita lagi kebut. Sekolah negeri dulu," ujarnya.
Sambil menunggu perbaikan dengan baja ringan, pihaknya juga akan menyiapkan alokasi anggaran untuk pemeliharaan rayap dalam APBD DKI. Selain itu, bahan bangunan untuk perbaikan gedung sekolah akan dimasukkan dalam e-katalog.
"Iya, kita mau [masukkan dalam] e-katalog bahan bangungan untuk rehabilitasi sekolah. Nanti biar yang ditenderkan pihak yang membangun. Tetapi sekarang LKPP masih kelabakan. Ini masih bertahap. Sekarang kita utamakan bus dulu dan alat berat untuk penanganan banjir," kata Ahok.
Politisi Gerindra ini menilai bahaya bencana tidak hanya mengancam para siswa di lingkungan sekolah saja. Melainkan dalam perjalanan dari rumah menuju sekolah dan sebaliknya, bahaya bencana pun sudah mengintai mereka. Seperti bisa saja tertabrak kendaraan yang melintasi jalan. Karena itu, Pemprov DKI melakukan penataan dunia pendidikan melalui siswa menempuh pendidikan di sekolah yang dekat dengan domisilinya.
"Anak sekolah keluar rumah saja sudah bahaya. Kita ingin penataan. Kalau yang mampu kan tinggal di kompleks, kalau yang tidak mampu kita dorong ke rusun, sistem sekolah yang lebih dekat dengan naik sepeda dan jalan kaki. Kalau sekarang jalan kaki, lagi nunggu di trotoar saja bisa ditabrak mobil. Memang butuh waktulah. Tapi kita sudah kebut untuk tingkatkan keselamatan anak didik kita," papar Ahok.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




