Ratusan Warga Mesuji Masih Duduki di Graha Cempaka Mas

Minggu, 2 Februari 2014 | 20:33 WIB
HS
LT
B
Graha Cempaka Mas
Graha Cempaka Mas (Istimewa)

Jakarta - Ratusan warga asal Mesuji, Lampung sejak Rabu (29/1) hingga Minggu (2/2) sore, masih menduduki apartemen dan rumah kantor (rukan) Graha Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

Peringatan Kapolres Jakarta Pusat, Kombes AR Yoyol yang mengultimatum agar para pendukung pengurus Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) tandingan besutan Saurip Kadi dan Palmer Situmorang segera ke luar dari kawasan GCM tak digubris.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Minggu (2/2) sore, ratusan warga Mesuji masih berkumpul di unit apartemen milik Justiani yang mengaku istri Saurip Kadi dan ruang aula milik warga yang terletak di Blok A2 Lantai 5.

Sejumlah spanduk aspirasi perlawan terlihat terpampang di dinding apartemen lantai 5. Beberapa spanduk berbunyi "Kami Warga Mesuji Siap Mati Untuk Bapak Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi", "Kalau Untuk Berdoa Saja Kami Diusir....!! Kami Warga Mesuji Siap Mati Untuk Berjihad Sekarang Juga .... !!!"

Sejumlah warga apartemen GCM khususnya di Blok A2 mengaku sangat resah dan terusik atas kehadiran ratusan warga pendukung Saurip Kadi.

Bahkan, sejumlah warga lainnya memilih mengungsi ke hotel atau rumah keluarga untuk sementara waktu. Pasca kehadiran massa Mesuji ini mengakibatkan kondisi koridor lantai lima hingga lantai dasar terlihat sangat kotor. Sampah berserakan di mana-mana.

"Yang paling jorok lantai basement tempat parkir, bau pesing sangat menyengat. Banyak kotoran manusia dibuang sembarangan. Mereka menjadikan areal parkir menjadi WC umum. Kondisinya lebih kotor daripada pasar tradisional," tutur Sari, warga Blok A 2, Minggu (2/2) sore.

Sari yang juga calon anggota legislatif ini mengaku tidak habis fikir melihat sikap PPRS bentukan Saurip Kadi dan Palmer Situmorang yang mengerahkan ratusan warga Mesuji untuk menduduki apartemen GCM.

"Kok pensiunan jenderal dan pengacara ngetop, tapi kelakuannya begitu. Apa nggak malu dimuat di media massa karena mempertontonkan kelakuan bodohnya yang melanggar hukum. Atas nama hukum dan rakyat, mantan bintang dua TNI bertindak menyengsarakan ratusan warga GCM," tegasnya.

Sari berharap aparat kepolisian segera merespon keresahan warga GCM. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut akan menyulut kemarahan warga.

"Jangan sampai warga bersama-sama juga membawa preman untuk membasmi orang bayaran Saurip agar angkat kaki dari GCM," paparnya.

Tony, warga yang juga mantan Ketua Rukun Tetangga (RT) GCM juga mengeluhkan, sikap polisi yang tak kunjung bertindak tegas.

"Dari spanduk yang terpampang sangat jelas indikasinya, mereka mau berbuat kerusuhan di GCM. Apa mereka mau membuat rusuh Graha Cempaka Mas seperti di Mesuji. Kami juga heran, kok polisi tidak bertindak tegas, apalagi mereka sudah berhari-hari di sini. Apa perlu terjadi pertumpahan darah dahulu, baru polisi mengusir mereka?" kata Tony, warga apartemen Blok A2.

Tony mengungkapkan, sejumlah spanduk berisi pesan perlawanan membuktikan kedatangan warga Mesuji bukan untuk tahlilan, seperti pernyataan juru bicara PPRS tandingan, Justiani kepada sejumlah media massa beberapa hari lalu.

"Warga Mesuji datang mengorbankan nyawa demi membela Saurip Kadi. Emangnya Saurip Kadi siapa? Dia bukan nabi, kok berjihad demi Saurip Kadi," ungkapnya.

Sekadar diketahui ratusan warga Mesuji tiba di apatemen dan rukan GCM, Rabu malam (29/1). Pantauan di lapangan, ratusan warga asal Lampung tiba di apartemen GCM, Jakarta Pusat sekitar pukul 18.30 WIB dengan menumpang lima bus.

Kedatangan warga Lampung tersebut di apartemen GCM disambut oleh Saurip Kadi selaku Pembina Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) tandingan dari hasil Rapat Umum Luar Biasa (RULB) yang tidak kuorum beberapa waktu lalu.

Ratusan warga Lampung menghuni di salah satu unit apartemen di Lantai 5 Blok A GCM dengan tidur beralasan karpet dan tikar yang disiapkan oleh Saurip Kadi bersama istrinya, Justiani.

Sontak kedatangan ratusan warga Lampung tersebut membuat para penghuni apartemen dan rukan GCM ketakutan. Menjelang tengah malam, suasana makin mencekam saat sekretaris PPRS GCM yang sah bersama Ketua RW 08 apartemen GCM, Djony Tandrianto dan Hary Wijaya didampingi Kapolsek Kemayoran M Sagala mendatangi tempat penampungan ratusan warga pendukung Saurip Kadi.

Sekretaris PPRS GCM yang sah, Djony Tandrianto mengungkapkan, kepengurusan PPRS tandingan besutan Saurip Kadi dan Palmer Situmorang tidak sah karena Rapat Umum Luar Biasa (RULB) yang digelar beberapa waktu lalu tidak quorum.

Kapolresta Jakarta Pusat, Kombes AR Yoyol menambahkan, pihakya mengerahkan 200 personil guna berjaga - jaga di apartemen GCM mengantisipasi terjadinya tindakan anarkis.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon