Rusia Sambut Crimea Kendati Ada Sanksi dari Barat

Jumat, 7 Maret 2014 | 23:40 WIB
HA
FB
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: FMB
Infografis situasi di Crimea, Ukraina, setelah Rusia mengirim pasukan.
Infografis situasi di Crimea, Ukraina, setelah Rusia mengirim pasukan. (AFP)

Simferopol – Para anggota parlemen tinggi Rusia pada Jumat (7/3) menyambut prospek bergabungnya, kendati ada sanksi-sanksi keras terhadap Moskow atas krisis terburuk Timur-Barat sejak Perang Dingin.

Dua kepala parlemen Rusia mengatakan mereka akan menghormati keputusan dari para anggota parlemen di wilayah Ukraina tersebut untuk meninggalkan hubungannya dengan Kiev melalui tahapan referendum pada 16 Maret.

"Jika rakyat di Crimea memutuskan untuk bergabung dengan Rusia dalam referendum, kami…tidak akan menyangsikan kembali pilihan ini," kata juru bicara majelis tinggi Valentina Matviyenko.

"Kami akan menghormati pilihan bersejarah dari rakyat Crimea," kata mitranya dari majelis rendah Sergei Naryshkin.

Ketegangan pun meningkat dari Ukraina, negara bekas pecahan negara Soviet berpenduduk 46 juta, yang terbagi antara pro Barat Eropa dan bagian tenggara yang lebih memilih Rusia.

Untuk mencari jalan keluar, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama melakukan pembicaraan telepon satu jam lamanya pada mitranya dari Rusia, Vladimir Putin.

Hal ini menandai pembicaraan panjang melalui telepon kedua antara para pemimpin dalam lima hari dan kedua belah pihak menggambarkannya sebagai sesuatu hal yang sulit.

Gedung Putih mengatakan Obama "menekankan bahwa tindakan-tindakan Rusia ini merupakan pelanggaran dari kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina, yang membuat kami harus mengambil beberapa langkah untuk menanggapi, dalam koordinasi dengan para mitra Eropa kami.

Untuk bagian ini, Kremlin mengatakan Putin mencoba menenangkan ketegangan dengan menekankan bahwa hubungan AS-Rusia ini "harusnya tidak boleh dikorbankan karena adanya perselisihan-perselisihan atas masalah-masalah internasional individu—meskipun sangat signifikan".

Uni Eropa (UE) yang sebelumnya bertekad kuat untuk menjatuhkan sanksi-sanksi keras atas Rusia juga berjanji untuk menandatangani pakta perdagangan bersejarah yang bertujuan menarik Kiev dari orbit Moskow sebelum Ukraina menggelar pemilihan presiden pada 25 Mei.

Namun dengan keberadaan pasukan Rusia yang mengendalikan Crimea, ancaman perpecahan Ukraina tampaknya lebih nyata ketimbang pada setiap titik sejak Putin memenangkan persetujuan parlemen untuk menggunakan kekuatan terhadap tetangganya di bagian Barat.

Sebelumnya Putin telah mengecam naiknya pimpinan interim untuk berkuasa sebagai bentuk "kudeta tak konstitusional". 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon