Referendum Crimea Dimulai
Minggu, 16 Maret 2014 | 21:20 WIB
Simferopol, Ukraina – Warga di Semenanjung Crimea, Ukraina, yang tengah bergejolak melakukan pemungutan suara Minggu (16/3) dalam sebuah referendum untuk lepas dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia, atau mendapatkan otonomi yang lebih besar.
Referendum ini -- yang ditentang keras oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat -- dilakukan hanya beberapa pekan setelah pasukan pimpinan Rusia mengambil alih kekuasaan Crimea, wilayah yang mayoritas warganya beretnis Rusia.
Jika referendum ini lolos dengan pilihan lepas dari Ukraina, Rusia akan menghadapi sanksi dari Barat, namun Moskwa sedari awal memang bersikeras tak mau keluar dari Crimea.
Sejak Presiden Ukraina Viktor Yanukovych melarikan diri ke Rusia, Crimea telah dikuasai kelompok militan setempat dan pasukan bersenjata berat yang nampak jelas di bawah komando Rusia.
Sevastopol, ibukota Crimea yang menjadi pangkalan Armada Laut Hitam Rusia, antusias warga untuk mengikuti referendum sangat tinggi. Para pemilih berdiri mengantir di tempat pemungutan suara (TPS) bahkan sebelum dibuka.
"Ini hari yang penting untuk semua warga Crimea, Ukraina dan Rusia," kata warga bernama Manita Meshchina.
"Menurut saya mayoritas warga akan memilih "ya". Artinya adalah warga yakin dan ingin bersama dengan Rusia."
Di Sevastopol, lebih dari 70 orang mendatangi TPS yang baur dibuka 15 menit.
"Ini hari libur," kata Vera Sverkunova, 66 tahun. Saat ditanya pilihannya, dia menjawab dengan syair lagu patriotis: "Aku ingin pulang ke Rusia. Sudah lama sekali aku tak bertemu mamaku."
Pengeras suara juga memainkan lagu wajib wilayah itu. Sebuah kapal perang Rusia terlihat berhenti memblokir jalan dari pelabuhan menuju Laut Hitam.
Di TPS nomor 850097 yang terletak di dalam sebuah gedung sekolah, Vladimir Lozovoy, 75, berurai air mata ketika mengungkapkan perasaannya.
"Aku ingin menangis. Akhirnya aku telah kembali ke ibu pertiwi. Ini perasaan yang luar biasa. Ini hal yang sudah aku tunggu selama 23 tahun dan akhirnya terjadi juga," kata pensiunan Angkatan Laut di era Uni Soviet itu.
Namun kelompok minoritas Muslim beretnis Tatar menentang aneksasi oleh Rusia.
Referendum ini "pertunjukan badut, sebuah sirkus," kata pemimpin komunitas tersebut, Refat Chubarov, di televisi Tatar, Minggu.
"Ini sebuah tragedi, pemerintah yang tidak sah dengan angkatan bersenjata dari negara lain."
Bendera Ukraina warna biru dan kuning tak terlihat satu pun di jalanan Simferopol; yang didominasi warna merah, putih dan biru milik bendera Rusia, dna juga bendera Crimea sendiri di sepanjang trotoar, gedung-gedung dan mobil.
Beberapa warga beretnis Ukraina mengatakan mereka menolak ambil bagian dalam referendum, karena menganggapnya ilegal dan disponsori oleh Rusia. Sebagian mengatakan mereka takut akan terjadi pembersihan etnis dalam beberapa pekan lagi, seperti yang pernah terjadi di beberapa wilayah di Georgia, bekas pecahan Uni Soviet juga.
"Kami tidak mau terlibat dalam permainan separatis ini," kata Yevgen Sukhodolsky, 41.
"Putin itu fasis, pemerintah Rusia juga fasis."
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




