Shinkansen Hanya Tolerir Terlambat 6 Detik
Sabtu, 19 November 2011 | 16:15 WIB
Selama 2 jam 29 menit perjalanan menuju Osaka, hal yang menarik dilakukan adalah memandangi kota Tokyo, Yokohama, Nagoya, Kyoto dan Osaka.
Pagi itu, saya bersama teman saya akan meninggalkan Tokyo menuju Osaka. Kami memilih moda transportasi kereta peluru atau Shinkansen dengan alasan efisiensi waktu.
Yoshie Matsumoto, kawan Jepang kami, dari kemarin terus mengingatkan agar kami datang tepat waktu ke Stasiun Osaka.
"Jangan sampai terlambat. Shinkansen hanya mentolerir keterlambatan selama enam detik," kata Yoshie.
Beruntung, kami tiba lebih awal di Stasiun Tokyo.
Stasiun itu sangat ramai.
Orang-orang lokal jalan dengan tergesa-gesa.
Bukan karena takut ketinggalan kereta atau terlambat bekerja.
Tapi memang hampir seluruh orang Jepang berjalan dengan tempo yang cepat dibandingkan orang Indonesia.
Kami pun terbawa suasana. Sedikit berlari menuju peron keberangkatan, Nozomi 217.
Selagi menunggu kereta super cepat itu datang, beberapa kereta peluru lainnya tampak berlalu lalang.
Saya bisa merasakan hembusan angin kencang ketika berdiri tak jauh dari kereta yang tengah melaju cepat.
Pukul 09.27, kereta kami tiba. Tepat sesuai jadwal.
Kami pun terburu-buru memasuki satu gerbong khusus carteran.
Dalam reserved cars ini, kami dimanjakan dengan fasilitas kelas satu. Bangku super nyaman dan lebar, juga ruang untuk kaki berselonjor lebih luas.
Persis kelas bisnis pesawat terbang.
Tak lama setelah kereta meninggalkan stasiun, seorang kru kereta berkeliling membagikan tisu basah. Lalu, muncul satu kru lagi yang menawarkan minuman yang dibagikan secara gratis. Mereka nanti kembali lagi untuk mengumpulkan botol minuman kosong dan tisu basah yang sudah dipergunakan.
Tak heran, kereta ini sangat bersih.
Selama 2 jam 29 menit perjalanan menuju Osaka, hal yang menarik dilakukan adalah memandangi kota Tokyo, Yokohama, Nagoya, Kyoto dan Osaka.
Pemandangan seperti pedesaan, sawah, hingga perkotaan dengan gedung-gedung tinggi akan menjadi suguhan menarik sepanjang perjalanan.
Jika langit sedang bersahabat, Gunung Fuji akan menampakkan dirinya.
Dari dalam, kereta tampak berjalan normal. Akan tetapi, jika dilihat dari luar, kereta peluru ini melaju dengan kecepatan 300 km/jam.
Tak Pernah Kecelakaan
Shinkansen mulai beroperasi di Jepang pada Oktober 1964.
Selama 47 tahun beroperasi, tak pernah satu kali pun ada kecelakaan yang terjadi.
Meski tak bermasinis, kereta yang dijalankan dengan otomatis ini memiliki sistem keamanan yang canggih.
Setiap malam, setelah semua Shinkansen melayani rute terakirnya, akan ada kereta kecil yang menyusuri jalur yang dilewati Shinkansen.
Kereta kecil itu akan mengecek kelayakan kondisi rel.
Ia akan mendeteksi secara otomatis apabila ada gangguan pada rel.
Dengan pengecekan seperti itu di pagi hari, Shinkansen bisa memberikan pelayan dan keamanan terbaik untuk penumpang.
Selain sistem keamanan berupa pengecekan jalur kereta di malam hari, Shinkansen sendiri diberikan pengaman untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.
Pengamanan itu berupa rem udara berbentuk telinga kucing berwarna kuning.
Rem telinga kucing ini akan mengembang di bagian atap kereta apabila terjadi pengereman darurat. Telinga kucing ini akan membantu Shinkansen memperlambat laju kereta dalam keadaan darurat.
Sayang, sejak teknologi ini diperkenalkan pada 2005 lalu, rem kuping kucing ini tak pernah terlihat mengembang karena memang tidak pernah ada pengereman mendadak oleh Shinkansen.
Untuk bisa merasakan sensasi layanan pesawat terbang di darat ini, kita harus membayar 12.000 yen atau setara dengan Rp 1,2 juta.
Itu untuk reserved seat.
Sementara untuk kelas ekonomi biasa, kita hanya perlu merogok kocek Rp 300 ribu- Rp 800 ribu tergantung jauh dekatnya perjalanan kita.
Pagi itu, saya bersama teman saya akan meninggalkan Tokyo menuju Osaka. Kami memilih moda transportasi kereta peluru atau Shinkansen dengan alasan efisiensi waktu.
Yoshie Matsumoto, kawan Jepang kami, dari kemarin terus mengingatkan agar kami datang tepat waktu ke Stasiun Osaka.
"Jangan sampai terlambat. Shinkansen hanya mentolerir keterlambatan selama enam detik," kata Yoshie.
Beruntung, kami tiba lebih awal di Stasiun Tokyo.
Stasiun itu sangat ramai.
Orang-orang lokal jalan dengan tergesa-gesa.
Bukan karena takut ketinggalan kereta atau terlambat bekerja.
Tapi memang hampir seluruh orang Jepang berjalan dengan tempo yang cepat dibandingkan orang Indonesia.
Kami pun terbawa suasana. Sedikit berlari menuju peron keberangkatan, Nozomi 217.
Selagi menunggu kereta super cepat itu datang, beberapa kereta peluru lainnya tampak berlalu lalang.
Saya bisa merasakan hembusan angin kencang ketika berdiri tak jauh dari kereta yang tengah melaju cepat.
Pukul 09.27, kereta kami tiba. Tepat sesuai jadwal.
Kami pun terburu-buru memasuki satu gerbong khusus carteran.
Dalam reserved cars ini, kami dimanjakan dengan fasilitas kelas satu. Bangku super nyaman dan lebar, juga ruang untuk kaki berselonjor lebih luas.
Persis kelas bisnis pesawat terbang.
Tak lama setelah kereta meninggalkan stasiun, seorang kru kereta berkeliling membagikan tisu basah. Lalu, muncul satu kru lagi yang menawarkan minuman yang dibagikan secara gratis. Mereka nanti kembali lagi untuk mengumpulkan botol minuman kosong dan tisu basah yang sudah dipergunakan.
Tak heran, kereta ini sangat bersih.
Selama 2 jam 29 menit perjalanan menuju Osaka, hal yang menarik dilakukan adalah memandangi kota Tokyo, Yokohama, Nagoya, Kyoto dan Osaka.
Pemandangan seperti pedesaan, sawah, hingga perkotaan dengan gedung-gedung tinggi akan menjadi suguhan menarik sepanjang perjalanan.
Jika langit sedang bersahabat, Gunung Fuji akan menampakkan dirinya.
Dari dalam, kereta tampak berjalan normal. Akan tetapi, jika dilihat dari luar, kereta peluru ini melaju dengan kecepatan 300 km/jam.
Tak Pernah Kecelakaan
Shinkansen mulai beroperasi di Jepang pada Oktober 1964.
Selama 47 tahun beroperasi, tak pernah satu kali pun ada kecelakaan yang terjadi.
Meski tak bermasinis, kereta yang dijalankan dengan otomatis ini memiliki sistem keamanan yang canggih.
Setiap malam, setelah semua Shinkansen melayani rute terakirnya, akan ada kereta kecil yang menyusuri jalur yang dilewati Shinkansen.
Kereta kecil itu akan mengecek kelayakan kondisi rel.
Ia akan mendeteksi secara otomatis apabila ada gangguan pada rel.
Dengan pengecekan seperti itu di pagi hari, Shinkansen bisa memberikan pelayan dan keamanan terbaik untuk penumpang.
Selain sistem keamanan berupa pengecekan jalur kereta di malam hari, Shinkansen sendiri diberikan pengaman untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.
Pengamanan itu berupa rem udara berbentuk telinga kucing berwarna kuning.
Rem telinga kucing ini akan mengembang di bagian atap kereta apabila terjadi pengereman darurat. Telinga kucing ini akan membantu Shinkansen memperlambat laju kereta dalam keadaan darurat.
Sayang, sejak teknologi ini diperkenalkan pada 2005 lalu, rem kuping kucing ini tak pernah terlihat mengembang karena memang tidak pernah ada pengereman mendadak oleh Shinkansen.
Untuk bisa merasakan sensasi layanan pesawat terbang di darat ini, kita harus membayar 12.000 yen atau setara dengan Rp 1,2 juta.
Itu untuk reserved seat.
Sementara untuk kelas ekonomi biasa, kita hanya perlu merogok kocek Rp 300 ribu- Rp 800 ribu tergantung jauh dekatnya perjalanan kita.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




