Kabinet Mesir Mundur di Tengah Bentrokan Berdarah

Selasa, 22 November 2011 | 12:02 WIB
XC
B
Penulis: Xiantira Ghassani Celesta | Editor: B1
Seorang demonstran yang terluka berteriak setelah bentrokan dengan pihak keamanan Mesir, Minggu (20/11)
Seorang demonstran yang terluka berteriak setelah bentrokan dengan pihak keamanan Mesir, Minggu (20/11) (AFP)
Dari Lapangan Tahrir masa bersorak "Allahu Akbar"

Kabinet Mesir yang dipimpin oleh Perdana Menteri Essam Sharaf telah mengumumkan pengunduran diri menyusul kerusuhan di beberapa kota di negeri itu yang telah menyebabkan 26 orang tewas sekaligus mendorong Dewan Militer yang kini memegang kekuasaan untuk membuka dialog.

Pengunduran diri itu diumumkan tiga hari setelah kerusuhan anti-militer pecah di negara yang baru saja berhasil melengserkan diktator Hosni Mubarak, Februari silam.

"Pemerintahan Perdana Menteri Essam Sharaf telah menyerahkan permohonan pengunduran diri kepada Dewan Tinggi Militer," kata juru bicara kabinet, Mohammed Hegazy, Senin (21/11).

Meski demikian Hegazy juga mengabarkan pengunduran diri itu belum diterima oleh Dewan Militer. Sementara sebuah stasiun televisi pemerintah menegaskan Dewan Militer telah menolak permohonan itu.

Jika kabinet pimpinan Sharaf dibubarkan, pemilihan parlemen yang dijadwalkan digelar pada 28 November, bisa tertunda. Padahal pemilihan itu telah digadang-gadang bakal menjadi pemilihan demokratis pertama paskakejatuhan Mubarak.

Sementara itu BBC melaporkan dari Lapangan Tahrir masa bersorak "Allahu Akbar" ketika mendengar permintaan pengunduran diri kabinet itu.

Ada pun Dewan Militer mengundang semua pimpinan politik dan kekuatan nasional untuk melakukan dialog "mencari tahu sebab di balik krisis yang semakin parah dan menemukan jalan keluar secepat mungkin," kutip AFP dari kantor berita MENA.

Hingga Senin malam waktu setempat, di Lapangan Tahrir, yang menjadi pusat demonstran antimiliter, terus berkumpul puluhan ribu demonstran yang terus mendesak agar pemerintahan militer diserahkan kepada kelompok sipil.

Bentrokan berdarah di ibu kota Kairo dan beberapa kota lain sebenarnya telah pecah sejak Sabtu (19/11) dan menelan 26 korban jiwa, termasuk dua korban yang meninggal Selasa dini hari di kota Ismailiyah, dekat Laut Merah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon