Komunitas Disabilitas Proaktif Tanggulangi Narkoba

Sabtu, 31 Mei 2014 | 09:26 WIB
FS
B
Penulis: Fana F Suparman | Editor: B1
Penyandang disabilitas saat mengikuti program 'Bakti Sosial Akbar' kerjasama antara Pertamina, LPPCI Yayasan Fajar sejati dan HWPCI Jabar dalam rangka 'Hari Disabilitas Internasional' di Auditorium Wyata Guna Bandung.
Penyandang disabilitas saat mengikuti program 'Bakti Sosial Akbar' kerjasama antara Pertamina, LPPCI Yayasan Fajar sejati dan HWPCI Jabar dalam rangka 'Hari Disabilitas Internasional' di Auditorium Wyata Guna Bandung. (Antara/Agus Bebeng)

Jakarta - Komunitas disabilitas kerap menjadi sasaran sindikat narkoba untuk mengedarkan barang haram. Tak hanya itu, komunitas ini juga rentan terjerat penyalahgunaan narkoba. Itulah mengapa komunitas disabilitas tak ingin hanya menjadi objekPencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), tapi juga sebagai subjek nyata yang mendukung gerakan P4GN di negeri ini secara proaktif.

Komunitas disabilitas berharap dapat dirangkul dan memperoleh kesetaraan dalam konteks penanganan narkoba.

"Komunitas kami perlu dirangkul, karena komunitas disabilitas itu juga bisa jadi sasaran empuk sindikat narkoba," kata Prof Irwanto PhD, seorang peneliti HIV/AIDS dari Unika Atma Jaya, sekaligus tokoh pemerhati masalah disabilitas saat berkunjung ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Jumat (31/5).

Irwanto menjelaskan, komunitas disabilitas rawan dimanfaatkan dan diperdaya sindikat peredaran narkoba. Sindikat memanfaatkan dan memperdaya kaum disabilitas untuk menghindari kecurigaan.

"Seperti kita yang pakai kursi roda dan masuk bandara, mana ada orang curiga kita bawa barang terlarang? Yang pasti kita akan dilayani dan diberikan akses yang mudah untuk masuk ke satu tempat. Dalam kasus seperti ini kita tentu harus waspada, agar jangan sampai sindikat memperdaya," kata Irwanto.

Selain itu Irwanto mengungkapkan, seseorang yang menyandang disabilitas saat dewasa rentan terjerat penyalahgunaan narkoba. Mereka yang menyandang disabilitas saat dewasa mudah tergoda menyalahgunakan narkoba sebagai bentuk pelarian karena rasa depresi yang dialaminya.

"Tentu situasi itu akan potensial bagi orang seperti ini untuk menyalahgunakan narkoba sebagai pelarian dari rasa depresi atau keterpurukan jiwanya," jelas Irwanto.

Untuk itu, Irwanto mengusulkan adanya workshop bagi komunitas disabilitas agar mendapat imunitas. Dengan demikian, komunitas disabilitas tidak mudah terperdaya sindikat, dan terjebak godaan penyalahgunaan narkoba.

Usulan workshop bagi komunitas disabilitas disambut Deputi Rehabilitasi BNN, Dr Diah Setia Utami, yang akan segera merancang formulasi kegiatan workshop tersebut. Diah menilai dengan workshop, BNN dan komunitas disabilitas dapat saling belajar dan menggali kebutuhan program para penyandang disabilitas dalam mengatasi masalah narkoba.

"Kita bisa berbagi pengalaman pada mereka baik dari berbagai aspek, baik dari segi pemberantasannya, seperti bagaimana mengenali narkoba dan tidak mudah diperdaya oleh rayuan sindikat, atau dari sisi pencegahan, rehabilitasi hingga pemberdayaan masyarakat yang bisa dicari formulanya agar komunitas ini bisa banyak berperan," paparnya.

Diah menyatakan, sejauh ini belum ada satupun negara yang mengimplementasikan program yang melibatkan komunitas disabilitas dalam penanganan narkoba. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon