Pengembangan Iptek Tunggu Implementasi Janji Capres-Cawapres

Selasa, 1 Juli 2014 | 14:02 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Calon wakil presiden nomor urut satu Hatta Rajasa (kanan), cawapres nomor urut dua Jusuf Kalla (kedua kiri), moderator Dwikorita Karnawati (kedua kanan) menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh penyanyi, Regina Idol sebelum memulai acara Debat Cawapres 2014 dengan tema
Calon wakil presiden nomor urut satu Hatta Rajasa (kanan), cawapres nomor urut dua Jusuf Kalla (kedua kiri), moderator Dwikorita Karnawati (kedua kanan) menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh penyanyi, Regina Idol sebelum memulai acara Debat Cawapres 2014 dengan tema "Pembangunan Sumber Daya Manusia dan IPTEK" di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, 29 Juni 2014. (Beritasatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta - Janji calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam debat bertema pengembangan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) diharapkan terimplementasi jika kelak terpilih. Dana riset yang masih minim serta iklim riset yang belum kondusif harus dipecahkan oleh presiden dan wakil presiden terpilih mendatang.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim berharap kedua cawapres ini dapat menjanjikan harapan bagi perkembangan Indonesia ke depan. Dua indikator penting dalam mengukur daya saing internasional menurutnya adalah: pertama, jumlah tenaga kerja iptek (MIPA dan teknik) per sejuta tenaga kerja. Kedua, belanja research and development per GDP. Dalam Dua indikator iptek tersebut tergambar kedudukan Indonesia yang amat rendah tidak selaras dengan tingkat status ekonomi dan pendapatan per kapita Indonesia.

"Kedua cawapres menyinggung masalah SDM dan iptek secara komprehensif. Misalnya, dalam masalah anggaran Hatta Rajasa mengatakan akan menambah Anggaran Riset Rp 10 triliun dalam lima tahun. Atau Cawapres JK mengemukakan anggaran pendidikan dalam APBN yang 20%, akan banyak meningkatkan kesiapan anggaran bagi riset-riset kita," katanya di Jakarta, Selasa (1/7).

Sesuai program mereka, lanjut Lukman, ada upaya kelembagaan yang menyatukan Kemristek ke dalam ranah pendidikan. Namun menurutnya, besar anggaran riset yang berbasis APBN dari kedua cawapres belum memadai. Penambahan Rp 10 triliun dalam lima tahun berarti baru dua kali lipat dari kondisi saat ini, artinya per total GDP Indonesia belum beranjak jauh.

Kemudian kedua cawapres ada yang menyinggung tentang upaya makro yang mencakup lingkup kegiatan di industri, perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Meningkatkan nilai tambah dengan mengendalikan ekspor bahan mentah yang menjadi titik betat industri nantinya.

"Menurut saya, bagaimana meningkatkan partisipasi swasta dalam investasi riset ini belum dielaborasi secara lebih konkret. Padahal hal ini sangat penting untuk meningkatkan total belanja iptek nasional yang dalam dokumen MP3I telah menyebutkan Indonesia harus membelanjakan 1% PDB per tahun mulai 2014 ini. Artinya harus 12 kali lipat lebih besar," jelasnya.

Terlepas dari kekurangan yang masih ada tersebut, Lukman mengapresiasi debat cawapres yang mengangkat tema SDM dan iptek. Karena, kedua cawapres telah menjanjikan peningkatan bidang iptek. "Perhatian pemimpin pemerintahan tertinggi kita dalam masalah peranan iptek dan SDM dalam pemerintahan yang akan dibentuk setelah pilpres nanti diharapkan terimplementasikan," ungkap Lukman.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon