Komitmen SBY Ratifikasi FCTC Dipertanyakan

Senin, 15 September 2014 | 15:39 WIB
DM
FB
Penulis: Dina Manafe | Editor: FMB

Jakarta - Dukungan internasional kepada pemerintah Indonesia untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Kerangka Kerja Pengendalian Produk Tembakau semakin menguat. World Health Organisation (WHO) dan Unicef memberikan dukungan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat tanggal 25 Maret 2014 lalu, supaya Indonesia menjadi negara ke-178 yang aksesi regulasi internasional itu.

Namun, hingga saat ini, kurang dari 30 hari lagi masa kepemimpinan SBY belum ada tanda-tanda pemerintah aksesi FCTC. SBY dinilai mengabaikan dukungan internasional tersebut.

"Padahal sebelumnya Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Kesehatan Nasfsiah Mboi sudah menyatakan kesiapan Indonesia mengaksesi FCTC di masa pemerintahan SBY. Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Linda Amalia Sari Gumelar juga menyatakan dukungan," kata Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia, Hery Chariansyah, pada acara diskusi nasional "Urgensi FCTC Untuk Perlindungan Anak", yang dibuka Linda Amalia Sari Gumelar, di Jakarta, Senin (15/9).

Menurut Herry, kedua badan dunia tersebut sangat memahami bahwa industri rokok bereaksi keras terhadap aksesi FCTC, namun mereka mengingatkan Indonesia pada komitmen bersama dunia untuk melawan meningkatnya epidemi penyakit tidak menular, di antaranya penyakit yang disebabkan produk tembakau.

Hingga saat ini, 177 negara anggota WHO telah meratifikasi FCTC, yang mewakili sekitar 87,9% populasi dunia. Sayangnya, Indonesia menjadi satu-satunya di kawasan Asia Pasifik yang belum meratifikasinya. Dampaknya, Indonesia dikucilkan dalam pergaulan internasional, khususnya berkaitan dengan pertemuan yang membahas upaya pembangunan kesehatan dunia, misalnya pengendalian penyakit tidak menular.

Dijelaskan Hery, begitu kuatnya dukungan dari dalam maupun luar negeri terhadap aksesi FCTC, terkait juga dengan pentingnya upaya untuk memberikan perlindungan kepada anak yang ditargetkan sebagai perokok pemula oleh industri rokok.

"Anak dan remaja subjek paling menarik bagi industri rokok, karena dianggap sangat berpotensi untuk menciptakan perokok perokok pengganti. Karenanya tidak sedikit penelitian didedikasikan industri rokok untuk menggaet generasi muda," kata Hery.

Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, 30% dari total penduduk Indonesia adalah anak-anak atau sekitar 82 juta jiwa lebih. Ini jumlah yang sangat besar untuk menentukan masa depan bangsa. Karenanya, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi hak anak, termasuk hak kesehatannya. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah paparan dari asap rokok. Saat ini, 40,3 juta anak usia 0-14 tahun tinggal bersama perokok dan terpapar asapnya sebagai perokok pasif.

"Yang lebih memprihatinkan lagi, perokok anak semakin banyak, bahkan usianya semakin muda dan di beberapa daerah ada balita yang sudah mulai merokok. Mereka berisiko terkena penyakit mematikan, seperti pneumonia dan pertumbuhan paru yang lambat. Ini berakibat sampai pada dewasanya. Selain itu, rokok sebagai awal perilaku negatif lainnya, seperti narkoba, miras, dan lainnya," kata Linda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon