Cegah Kerusakan Lingkungan, Petani di Dieng Diversifikasi Tanaman
Jumat, 3 Oktober 2014 | 10:35 WIB
Banjarnegara - Para petani di dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau), terutama di sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Tulis, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah mulai melakukan diversifikasi tanaman untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat teknik penanaman ladang kentang yang searah dengan kemiringan lahan.
Kesadaran petani ini setelah selama lima tahun (2009-2014) mendapat pelatihan program Strengthenin Community Based Forest and Watershed Management (SCBFWM) hasil kerja sama Ditjen Bina Pengelolaan DAS Kementerian Kehutanan (Kemhut) dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Global Environment Facility (GEF).
"Selama ini dataran tinggi Dieng didominasi jenis tanaman kentang," kata Sri Endarwati (40), petani sekaligus pengelola kios Exotic Carica, salah satu usaha Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Alam Lestari Dieng bentukan Perhutani saat ditemui di lokasi, belum lama ini.
Dia mengaku, sudah mengurangi produksi kentang pada lahan seluas satu hektare (ha) untuk ditanami carica. "Awalnya saya hanya menanam kentang, tapi setelah diberikan pengarahan mengenai potensi tanaman carica, akhirnya saya memilih Carica sebagai tanaman utama," ujar Sri.
Menurut Sri, budidaya tanaman carica bisa menyejahterakan kehidupan petani. "Apalagi produk ini sekarang ini menjadi oleh-oleh khas Dieng," lanjut Sri yang kiosnya berada di Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Menurut Sri, penanaman carica jauh lebih praktis dan ekonomis dibandingkan kentang. "Tidak perlu diberi pupuk, selain itu tunasnya juga dapat dari biji buah carica yang sudah matang, kalau kentang perlu pupuk dan penyemprotan insektisida dan rawan longsor," tandas Sri.
Berbeda lagi dengan Isnurhadi (41), selaku ketua kelompok usaha tani Wanalestari yang memiliki lahan seluas 1,5 ha di Desa Pekasiran, Kecamatan Bantur, Kabupaten Banjarnegara. Isnurhadi mengganti kentang dengan tanaman Eucalyptus yang menghasilkan minyak kayu putih, dan tanaman terung Belanda.
"Sebesar 15 persen lahannya untuk tanaman Eucalyptus, sisa untuk tanaman seperti akasia, wortel, carica, cabai, terong belanda, dan tembakau," kata dia.
Dia mengaku, pemanfaatan batang pohon Eucalyptus sifatnya jangka panjang selama lima tahun. Oleh sebab itu, diperlukansistem tumpang sari dengan tanaman lainnya seperti terung Belanda dan cabai yang memiliki potensi pasar cukup bagus.
Bersama 52 anggota petani lainnya yang pada umumnya memiliki lahan seluas 0,5 sampai 1,5 hektar, para petani di Desa Pekasiran mulai membudidayakan varietas unggulan lainnya selain kentang. "Salah satu produk andalan kami adalah dodol carica dengan rasa cabai pedas dan terung belanda," tandas Isnurhadi.
Sementara para petani di Desa Pegundungan, Kecamatan Pajawaran, Kabupaten Banjarnegara sama sekali tidak membudidayakan kentang. Kepala Desa Pegundungan, Murti, mengatakan dari 342.290 ha lahan, sebanyak 70 persen digunakan untuk tanaman cabai. "Sisanya untuk budidaya tanaman jagung dan singkong, oleh sebab itu desa kami mendapat julukan desa jagung oleh Dinas Pertanian karena konsumsi sehari-hari warga kami adalah nasi tiwul dan nasi jagung," ujar Murti.
Menurut Murti, saat ini tengah dibudidayakan kopi jenis arabica. Sebanyak 12.500 bibit kopi yang didanai PT Indonesia Power ( anak perusahaan PT PLN) membantu petani di Desa Pegundungan tersebut.
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Anang Widi Cahyono mengatakan pengelolaan DAS penting bagi masyarakat dan instansi pemerintah terkait. "Kondisi dataran tinggi Dieng yang selama ini dipenuhi dengan kentang membuat kami harus mensosialisasi pada petani. Hal ini diperlukan untuk mencegah longsor dan lahan kritis akibat pembukaan ladang di kawasan perbukitan Dieng," ujar Anang.
Menurut Anang BPDAS memiliki fungsi melakukan perencanaan, konservasi dan pengendalian DAS. "Salah satu sub DAS yang selama ini menjadi pilot project dari konservasi dan pemberdayaan ekonomi petani adalah Sub DAS Tulis," tambah Anang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




