Anak Jalanan Tidak Mau Kontak Mata
Minggu, 18 Desember 2011 | 12:13 WIB
Anak jalan cenderung tidak mau menatap mata kalau bicara dengan orang lain.
Setiap anak jalanan juga berhak mendapatkan pendidikan, demikian diungkapkan Frisca Hutagalung, koordinator Sahabat Anak, di Jakarta, hari ini.
Sahabat Anak adalah LSM yang diawali dari sebuah gerakan volunterisme para pemuda sejak tahun 1997 untuk membantu anak jalanan menyelesaikan pendidikan mereka.
"Untuk definisi anak jalanan, kita golongkan menjadi tiga, ada anak jalanan 'on the street', 'off the street', and 'vulnerable on the street'. Itu adalah target kami," jelas Frisca menambahkan kerja mereka berkutat pada anak berusia 6 hingga 15 tahun.
"Tapi, kita tidak lepas begitu saja. Kita harapkan agar setelah mereka lepas dari Sahabat Anak, mereka bisa menyalurkan sifat relawana mereka di tempat lain."
Hingga kini, Sahabat Anak berada di delapan daerah dan memiliki mitra di tujuh daerah.
"Untuk metode pendidikan, kami serahkan kepada daerah masing-masing. Ada yang dites dulu sebelum masuk sekolah terbuka. Ada anak yang putus sekolah.n daftar kembali tapi dengan sistem paket, ada paket A, paket B, atau paket C," jelasnya.
Bekerja dengan anak-anak kelas menengah ke bawah, atau anak jalana memang perlu kesabaran. Titi, salah satu pendamping dari mitra Sahabat Anak, mengatakan bahwa anak jalan cenderung tidak mau menatap mata kalau bicara dengan orang lain.
"Jadi, ya gitu, kesannya tidak sopan atau pemalu. Karena, untuk anak jalanan sebagian besar tidak mau kontak mata. Mungkin malu atau minder," jelas Titi mencontohkan laku Bayu, bocah 11 tahun, anak jalanan binaannya yang terus tertunduk saat diajak bicara.
Setiap anak jalanan juga berhak mendapatkan pendidikan, demikian diungkapkan Frisca Hutagalung, koordinator Sahabat Anak, di Jakarta, hari ini.
Sahabat Anak adalah LSM yang diawali dari sebuah gerakan volunterisme para pemuda sejak tahun 1997 untuk membantu anak jalanan menyelesaikan pendidikan mereka.
"Untuk definisi anak jalanan, kita golongkan menjadi tiga, ada anak jalanan 'on the street', 'off the street', and 'vulnerable on the street'. Itu adalah target kami," jelas Frisca menambahkan kerja mereka berkutat pada anak berusia 6 hingga 15 tahun.
"Tapi, kita tidak lepas begitu saja. Kita harapkan agar setelah mereka lepas dari Sahabat Anak, mereka bisa menyalurkan sifat relawana mereka di tempat lain."
Hingga kini, Sahabat Anak berada di delapan daerah dan memiliki mitra di tujuh daerah.
"Untuk metode pendidikan, kami serahkan kepada daerah masing-masing. Ada yang dites dulu sebelum masuk sekolah terbuka. Ada anak yang putus sekolah.n daftar kembali tapi dengan sistem paket, ada paket A, paket B, atau paket C," jelasnya.
Bekerja dengan anak-anak kelas menengah ke bawah, atau anak jalana memang perlu kesabaran. Titi, salah satu pendamping dari mitra Sahabat Anak, mengatakan bahwa anak jalan cenderung tidak mau menatap mata kalau bicara dengan orang lain.
"Jadi, ya gitu, kesannya tidak sopan atau pemalu. Karena, untuk anak jalanan sebagian besar tidak mau kontak mata. Mungkin malu atau minder," jelas Titi mencontohkan laku Bayu, bocah 11 tahun, anak jalanan binaannya yang terus tertunduk saat diajak bicara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




