Mendikbud Ambilalih Konflik UI Akhir Desember
Kamis, 22 Desember 2011 | 16:41 WIB
Nuh mengatakan jangan sampai ada upaya saling memberhentikan satu dengan lain yang bukan tradisi perguruan tinggi.
Tidak ingin konflik antara Majelis Wali Amanat (MWA) dan pihak rektorat Universitas Indonesia (UI) berkepanjangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) mengundang kedua pihak untuk duduk bersama malam ini.
Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengatakan jangan sampai ada upaya saling memberhentikan satu dengan yang lain yang menurutnya bukan tradisi dari perguruan tinggi.
"Kita junjung tinggi tradisi dan nilai-nilai kemulian yang ada di Perguran Tingi. Karena itu saya selalu tekankan untuk duduk bersama dan tidak saling meniadakan antara satu dengan yang lain," kata Nuh, kepada wartawan, Jakarta hari ini.
Kemendikbud sudah mengundang Rektorat, MWA dan Senat UI pada 13 September untuk memberikan tiga opsi yang bisa dipilih.
Opsi pertama kelembagaan dan rumah (rektorat) rektorat masih ada dengan orang-orang yang sama seperti sekarang. Kedua rumah masih ada tapi pengurusnya diganti sesuai dengan masa bakti.
Opsi ketiga adalah adalah rumah-rumah kepengurusan UI dikonversi sesuai dengan PP No 66/ 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.
Nuh mengimbau UI, sebagai perguruan tinggi yang sudah lama berdiri, untuk menyelesaikan persoalannya secara internal. Meski Kemendikbud memiliki wewenang, dirinya tidak mau intervensi.
"Perguruan Tinggi kan isinya Doktor dan Professor, masa tidak bisa menyelesaikan," ujarnya.
Nuh menegaskan jika sampai akhir Desember belum ada kesepatan opsi yang dipilih, Kemendikbud akan mengambil alih karena di dalam MWA ada suara kementerian ada 35 persen.
Undangan pertemuan nanti malam agar semua pihak bisa saling mengakui dan tidak ada keinginan untuk saling meniadakan.
"Masa tugas MWA habis 12 Januari dan Rektor Agustus 2012. Apa tidak ingin di akhir bakti memberikan kontribusi? Kalau bisa sudahlah, tutup akhir bakti dengan yang manis," ujarnya
Persoalan internal di Universitas Indonesia mencuat setelah Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri mengirim surat kepada MWA bahwa berdasarkan pada PP 66/2010 bahwa MWA sudah tidak memiliki kewenangan dan dirinya bertanggung jawab kepada Mendikbud setelah perubahan UI menjadi PTN. Namun hal ini dianggap sebagai pengunduran diri Gumilar sebagai rektor oleh MWA.
Tidak ingin konflik antara Majelis Wali Amanat (MWA) dan pihak rektorat Universitas Indonesia (UI) berkepanjangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) mengundang kedua pihak untuk duduk bersama malam ini.
Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengatakan jangan sampai ada upaya saling memberhentikan satu dengan yang lain yang menurutnya bukan tradisi dari perguruan tinggi.
"Kita junjung tinggi tradisi dan nilai-nilai kemulian yang ada di Perguran Tingi. Karena itu saya selalu tekankan untuk duduk bersama dan tidak saling meniadakan antara satu dengan yang lain," kata Nuh, kepada wartawan, Jakarta hari ini.
Kemendikbud sudah mengundang Rektorat, MWA dan Senat UI pada 13 September untuk memberikan tiga opsi yang bisa dipilih.
Opsi pertama kelembagaan dan rumah (rektorat) rektorat masih ada dengan orang-orang yang sama seperti sekarang. Kedua rumah masih ada tapi pengurusnya diganti sesuai dengan masa bakti.
Opsi ketiga adalah adalah rumah-rumah kepengurusan UI dikonversi sesuai dengan PP No 66/ 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.
Nuh mengimbau UI, sebagai perguruan tinggi yang sudah lama berdiri, untuk menyelesaikan persoalannya secara internal. Meski Kemendikbud memiliki wewenang, dirinya tidak mau intervensi.
"Perguruan Tinggi kan isinya Doktor dan Professor, masa tidak bisa menyelesaikan," ujarnya.
Nuh menegaskan jika sampai akhir Desember belum ada kesepatan opsi yang dipilih, Kemendikbud akan mengambil alih karena di dalam MWA ada suara kementerian ada 35 persen.
Undangan pertemuan nanti malam agar semua pihak bisa saling mengakui dan tidak ada keinginan untuk saling meniadakan.
"Masa tugas MWA habis 12 Januari dan Rektor Agustus 2012. Apa tidak ingin di akhir bakti memberikan kontribusi? Kalau bisa sudahlah, tutup akhir bakti dengan yang manis," ujarnya
Persoalan internal di Universitas Indonesia mencuat setelah Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri mengirim surat kepada MWA bahwa berdasarkan pada PP 66/2010 bahwa MWA sudah tidak memiliki kewenangan dan dirinya bertanggung jawab kepada Mendikbud setelah perubahan UI menjadi PTN. Namun hal ini dianggap sebagai pengunduran diri Gumilar sebagai rektor oleh MWA.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




