KONI DIY Sebut Sanksi Komdis untuk PSS Berlebihan

Kamis, 27 November 2014 | 09:47 WIB
FE
WP
Penulis: Fuska Sani Evani | Editor: WBP
PSS Sleman
PSS Sleman

Yogyakarta - Sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kepada pelaku gol bunuh diri PSS Sleman dipandang terlalu berlebihan. Untuk itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), secara terbuka mendukung upaya banding manajemen PSS.

Diketahui, pelaku gol bunuh diri pada pertandingan babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia antara PSS Sleman melawan PSIS Semarang dihukum larangan bermain sepak bola seumur hidup oleh Komisi Disiplin PSSI serta denda sebesar Rp 100 juta. Begitu halnya Pelatih PSS Sleman, Hery Kiswanto, dan pelatih PSIS Semarang, Eko Riyadi, dihukum seumur hidup tak boleh berkecimpung dalam dunia sepak bola

Ketua Umum KONI DIY, GBPH Prabukusumo mengatakan, sanksi tersebut secara langsung telah membunuh karier beberapa pemain PSS. "Terutama yang mendapat sanksi larangan main sepak bola seumur hidup. Menurut saya sanksi itu berlebihan," katanya, Kamis (27/11).

Menurut Prabukusumo, para pemain sebenarnya telah berkorban waktu, tenaga, dan bahkan mananggung risiko cedera. "Saya paham mereka telah mencederai konsep fairplay, tapi tidak perlu sampai seumur hidup, saya mendukung langkah banding untuk meringankan sanksi," kata Prabukusumo.

Menurut Prabukusumo, upaya banding tidak hanya ditujukan kepada Komisi Banding (Komding) PSSI, namun juga ke Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nachrowi. Harapannya, agar Menpora bisa berfikir lebih arif, sebab sanksi itu telah mengubur mimpi para atlet berprestasi.

"Coba dipikirkan, mencari atlet itu tidak gampang. Pembinaan mereka juga butuh dana yang besar. Mereka bukan penjahat, karena itu, kami di KONI DIY akan mendukung manajemen PSS," tegasnya.

Sementara itu, Direktur PT Putra Sleman Sembada yang juga Manajer PSS Sleman Supardjiono, meyakini upaya banding atas hukuman yang diterima manajemen, pelatih dan beberapa pemain PSS Sleman akan diterima PSSI. Supardjiono yang juga dikenai hukuman seumur hidup dan denda Rp 200 juta, mengatakan bahwa PSSI memberikan peluang banding.

"Saya pun kaget dengan keputusan itu. Kecewa karena sudah mengeluarkan biaya besar untuk membawa PSS Sleman sampai delapan besar," ucapnya.

Sedangkan para suporter PSS yang tergabung dalam Slemania, menuntut manajemen PSS Sleman untuk terbuka dan membeberkan kenyataan di balik sepak bola "Gajah’"

Ketua Slemania, Lilik Yulianto, mengatakan manajemen harus terbuka dan mengakui dalang sepakbola "Gajah" ini. Jika tidak transparan, menandakan manajemen PSS Sleman tidak sehat. Padahal dalam kasus ini para pemain mendapat hukuman yang sangat berat dari PSSI.

Menurut Lilik, para pemain hanya disuruh. "Kami sangsi kalau Eri Febrianto dikatakan sebagai otak dari sepak bola "Gajah" itu. Dia cuma sekretaris tim yang kesehariannya sopir, nggak punya pengaruh besar di manajemen," tuntut Lilik.

Selain itu Lilik juga berharap PSSI memikirkan ulang hukuman bagi para pemain PSS. Banyak pemain PSS yang tidak terlibat juga turut dihukum berat. Padahal dalang gol bunuh diri itu hingga kini belum terungkap jelas. "Kami akan segera membuat petisi untuk ini," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon