Albert Burhan
Menjadi "Champion" Penerbangan Domestik
Senin, 23 Februari 2015 | 04:07 WIB
Terlahir kembali pada 2012, setelah sempat berhenti beroperasi pada 2008, Citilink Indonesia langsung melaju kencang. Di tahun pertamanya beroperasi, Citilink Indonesia hanya mampu merebut dua persen pasar di segmen low cost carrier (LCC). Namun, hanya dalam dua tahun, Citilink kini menguasai 17 persen market share penumpang kelas LCC dengan mengangkut 7,8 juta penumpang sepanjang tahun lalu.
Hebatnya, pertumbuhan tersebut diraih di tengah lesunya industri penerbangan nasional pada tahun lalu. Tahun ini, Citilink ingin terus terbang tinggi dan menargetkan mengangkut 11 juta penumpang. Tantangan itu kini berada di hadapan Albert Burhan, CEO Citilink Indonesia yang baru dilantik awal pekan lalu untuk menggantikan Arif Wibowo yang naik pangkat menjadi CEO Garuda Indonesia.
Di tengah sengitnya persaingan dan ASEAN Open Sky yang di depan mata, Albert mengaku tak gentar. Kompetisi dengan persaingan tingkat tinggi justru memacu adrenalin mantan ketua tim hoki Institut Teknologi Bandung tersebut. Bahkan, dirinya ingin membawa Citilink tak hanya menjadi penantang, namun menjadi champion di pasar domestik. Sebab, menguasai pasar Indonesia sama artinya menguasai pasar Asia Tenggara. Apa yang akan dilakukan Citilink ke depan? Berikut penuturan Albert.
Selamat! Setelah dua bulan menjadi plt CEO, Anda akhirnya ditetapkan menjadi CEO definitif. Anda lulusan ITB, pascasarjana di bidang finance. Mengapa memilih berkarier di dunia penerbangan?
Terima kasih. Industri ini menantang, risikonya tinggi dan sangat kompleks. Karena itu saya bekerja di teknik itu hanya sebentar saja, setelah itu langsung masuk Garuda. Industri ini tekanannya sangat besar. Misalnya, kursi yang kita jual itu hanya berharga sebelum terbang. Setelahnya itu hangus. Beda dengan menjual barang atau makanan yang masih bisa dijual meski jam makan sudah lewat. Jadi cara bisnisnya beda. Belum lagi masalah-masalah yang didalamnya, misalnya delay dan komplain dari penumpang. Itu semua tantangan. Apalagi, industri ini mendapat perhatian dari banyak kalangan sampai petinggi. Ambil contoh tragedi yang menimpa MH370. Itu yang mengeluarkan komentar sampai level kepala negara. Jadi ini industri yang sangat menantang.
Anda bukan orang baru di Citilink dan kini menjadi CEO, bagaimana keadaan Citilink saat ini?
Keadaaan Citilink saat ini sangat baik. Sebagian yang diharapkan pemegang saham sewaktu membentuk Citilink sudah mulai tercapai. Itu terbukti dengan kita menjadi maskapai yang tumbuh paling tinggi dalam dua tahun ini. Tahun lalu kita mengangkut 7,8 juta penumpang atau naik 41 persen. Padahal industri penerbangan tahun lalu tumbuhnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya industri tumbuh dua sampai tiga kali lipat GDP, tapi tahun lalu sama seperti GDP, hanya sekitar lima persen. Di tengah kondisi itu kita tumbuh sangat baik. Di segmen LCC market share kita menjadi 17 persen dari tahun pertama hanya dua persen. Secara total industri market share kita sekitar 12 persen. Jadi secara umum, perkembangan kita bagus. Namun, kita tidak boleh langsung puas, sebab prosesnya masih panjang. Pada 2012 kita buat megaleap sampai 2018. Kita akan berjalan terus sesuai dengan perencanaan kita.
Bagaimana untuk tahun ini?
Tahun ini kita targetkan tumbuh lagi jadi 11 juta penumpang. Dari sisi armada tahun lalu kita sudah punya 32 pesawat dan tahun ini akan masuk lagi lima yang baru, satu sudah masuk di awal tahun. Sesuai megaleap yang kita tetapkan, Citilink memang masih akan terus ekspansi. Target kita pada 2018 ada 50 pesawat. Tahun ini kita juga akan menambah beberapa rute baru, namun fokus utama adalah menambah frekuensi di beberapa rute existing. Kenapa? Karena kita melihat competitiveness kita masih bisa dioptimalkan. Misalnya kita di beberapa rute baru ada lima frekuensi, sementara kompetitor lebih banyak. Ini artinya masih banyak ruang untuk kita tingkatkan. Sesuai megaleap, kita juga akan mulai masuk ke rute internasional.
Rencananya tahun ini kita akan membuka penerbangan ke Kuala Lumpur, Singapura dan Perth. Itu memang rute gemuk, favorit, tapi agak over capacity. Jadi kita akan pelajari, kalau demand-nya masih banyak, ya kita akan masuk. Selain itu Citilink juga melayani carter ke Tiongkok dan Jedah. Dalam seminggu kita ada dua kali terbang dari Surabaya ke Jeddah. Untuk ke tiongkok kita melayani carter di empat kota, sebulan 28 kali. Itu semua carter.
Jadi tahun ini Anda akan mulai membuka rute regional. Apakah ini berkaitan dengan ASEAN Open Sky yang sudah dekat?
Oh ya, bagaimanapun pasar di regional itu ada dan kita harus masuk. ASEAN Open Sky memberi kemudahan bagi kita untuk masuk ke pasar regional. Citilink punya rencana untuk membuat entitas usaha di negara lain, untuk masuk ke pasar mereka. Tapi dengan ASEAN Open Sky ini, kita sedang melihat seberapa perlu itu dilakukan. Karena ASEAN Open Sky mempermudah hal itu. Lebih banyak yang bisa kita terbangi dengan ASEAN Open Sky. Karena itu kita mulai menjajaki peluang di pasar regional.
Namun, fokus kita tetap di domestik. Sebab kalau terlalu cepat kita keluar, sementara di base-nya sendiri masih lemah, itu bisa cepat rontok. Apalagi membuka pasar di luar tidak mudah. Kalau di luar negeri, kita mesti menyesuaikan berbagai hal, karena regulasi berbeda, market berbeda, tuntutan juga berbeda.
Kalau di Indonesia, kita sudah tahu market dan kompleksitasnya. Jadi kita harus perkuat dulu pasar domestik. ASEAN Open Sky membuat pasar kita menjadi 700 juta penduduk, tapi itu ditentukan oleh pasar 250 juta yang ada di dalam negeri. Pendorong utama pertumbuhan ASEAN itu kan Indonesia. Jadi kita harus kuat dulu di sini, supaya ketika asing masuk kita sudah kuat. Karena itu Citilink harus jadi champion di pasar domestik.
Bagaimana caranya?
Citilink selalu bersaing di sisi value. Jadi maksudnya pelayanan lebih yang bisa kita berikan dengan biaya minimal. Misalnya melayani orang dengan senyum yang lebih lebar, ramah, di pesawat pakai pantun, dan hal-hal kecil lainnya tapi memberi kesan. Value ini membuat kami memperlakukan penumpang dengan baik. Selain itu kita fokus pada on time performance. Sebab kalau delay itu sangat mengganggu. Itu paling tidak enak, baik bagi penumpang maupun bagi kami.
Selain itu kami akan meningkatkan berbagai inovasi yang sudah kami lakukan. Kami sangat optimistis, apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan dan jarak terbangnya itu enam jam dari barat ke timur. Selain itu jumlah penerbangan per orang per kapita per tahun masih sangat rendah. Jadi peluang untuk LCC tumbuh masih sangat baik.
Secara image, apa yang Anda harapkan dikenal orang dari Citilink?
Sejak awal kita memang memberi kesan muda pada Citilink. Image itu akan terus kita jaga. Apalagi warna kita hijau dan ini memang sengaja kita pilih untuk memberi kesan teduh, tenang, dan muda. Saat ini tim saya banyak orang-orang muda dan kreatif. Mereka buat Citilink TV, flash mob, event-event seperti fashion show, lamaran pernikahan di pesawat. Itu semua sangat kreatif dan muda. Sasaran kami jelas, sosial media. Itu advertising yang sangat efektif dan murah. Jadi kami akan tetap menampilkan kesan muda.
Performa keuangan bagaimana? Kita tahu industri penerbangan mengalami tekanan keuangan yang berat dalam dua tahun terakhir.
Ya betul, tekanan terhadap industri ini cukup berat dalam dua tahun terakhir. Harga fuel yang sempat tinggi dan berbagai regulasi di sektor pajak menjadi tantangan kita. Apalagi di masa awal Citilink memang merugi, sebab kita di tahap ekspansi dan skala ekonomi masih kecil. Tapi tahun lalu di kuartal tiga dan empat kita sudah mulai untung. Untuk full year kemungkinan masih tergerus dengan rugi yang terjadi di semester pertama. Namun kalau dilihat rencana kita di awal, capaian kita bahkan lebih baik dari target. Misalnya, pada 2012 kita hitung rugi besar, karena di tahun pertama. Tapi realisasinya tidak sebesar yang kita perkirakan. Di 2013 kita targetkan ruginya mengecil, realisasinya lebih kecil lagi. Tahun lalu di semester dua kita bisa untung. Tahun ini, kalau di kuartal satu kita bisa profit, maka secara full year kita akan untung. Dan kita optimistis itu akan tercapai.
Beberapa waktu lalu sempat heboh diskusi mengenai maskapai LCC dan aspek keselamatan. Apa tanggapan Anda?
Mengenai safety memang tidak bisa ditawar. Itu mutlak harus dipenuhi maskapai entah dia LCC maupun full service. Citilink sendiri untuk aspek safety disupervisi langsung oleh Garuda, jadi sangat terjaga tingkat safety-nya. Hal itu semakin terbukti dengan audit yang dilakukan pihak lain. Contohnya beberapa waktu lalu kita diaudit oleh Pemerintah Arab Saudi, karena kita ditawari terbang reguler umrah dan haji. Otoritas Saudi terkenal sangat ketat karena mereka mengacu ke Eropa. Mereka datang untuk mengaudit kita dan satu LCC lain.
Jadi kami mendukung ketegasan regulator. Peraturan kita sudah bagus, namun implementasinya yang masih kurang. Pemerintah harus lebih tegas, sebab ini juga mempengaruhi bisnis maskapai. Ambil contoh premi asuransi. Kalau regulator tegas menjalankan peraturan, itu juga memberi pengaruh untuk mengurangi biaya premi asuransi. Dan jangan lupa, premi asuransi maskapai itu besar.
Namun jangan dikaitkan LCC berarti safety-nya kurang. Tiket murah itu berasal dari efisiensi bisnis yang kami lakukan, bukan karena mengurangi aspek safety. Misalnya, ASK (available seat kilometres) kita sepanjang tahun 2014, di luar fuel, itu lebih rendah 16 persen daripada cost di 2013. Fuel kan memang di luar kendali kita, tapi yang lain di dalam kontrol kita. Itu turun. Artinya kita melakukan banyak efisiensi. Misalnya begini, negosiasi kita waktu baru berdiri dengan sekarang sudah beda. Dulu waktu di awal kita kontrak ground handling itu satu paket, jadi sekali landing ada 15 item misalnya. Ternyata yang kita pakai cuma tujuh item. Sekarang kita bisa negosiasi, karena secara skala ekonomi kita sudah mulai besar. Jadi di aspek-aspek itulah kami melakukan efisiensi.
Peraturan batas bawah yang baru ditetapkan regulator, disebut akan mempersulit LCC dan menguntungkan full service. Bagaimana tanggapan Anda?
Dalam perhitungan kami sih bedanya masih jauh. Bahkan kalaupun harga seat-nya dijual sama, seat kita kan tetap lebih banyak dari full service. Jadi kita tetap lebih untung. Tapi kan kenyataannya, harga murah di full service juga tidak banyak. Mereka tidak akan mungkin harganya mepet ke bawah, karena pasti sudah bersaing dengan LCC yang jauh lebih efisien.
Jadi dari sisi bisnis LCC akan terus berkembang?
Ya, bahkan LCC punya market share lebih besar di industri dibanding full service. Apalagi untuk domestik dan regional peluang tumbuh LCC lebih besar. Full service menang di penerbangan jarak jauh. Di banyak negara, LCC sudah mulai mendominasi market share dan merebut pasar full service. Tapi kebanyakan itu memang maskapai yang didirikan khusus untuk LCC. Belum ada maskapai seperti Citilink yang dibentuk oleh maskapai full service dan bisa sukses. Karena British Airways juga buat LCC dan kurang sukses. Karena itu kita awalnya juga diragukan. Tapi sekarang kita mulai menarik perhatian analis. Karena ini LCC yang dibangun maskapai full service dan ada peluang bisa sukses.
Terakhir, apa saja yang dibutuhkan Citilink dan maskapai nasional lain untuk bisa bersaing dalam ASEAN Open Sky?
Pertama adalah infrastruktur. Selain penambahan kapasitas di sejumlah bandara, juga yang penting adalah menambah waktu operasional bandara. Masih banyak bandara kita yang sudah tutup pukul 18.00 WIB. Kalau lebih banyak bandara yang beroperasi 24 jam itu akan sangat baik. Untuk itu, tentu runway perlu dilengkapi penerangan supaya bisa terbang 24 jam.
Selain itu, kita perlu equal playing field dengan negara lain. Misalnya fuel kita lebih mahal dibanding Singapura. Padahal fuel itu 60 persen dari cost maskapai. Belum lagi bea masuk yang dibebankan untuk komponen pesawat. Di negara lain itu tidak ada. Kalau untuk bersaing dengan maskapai asing, kita confidence kok bisa bersaing. Toh sudah banyak nama besar di Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia dan terbukti maskapai nasional bisa bersaing. Apalagi kalau sejumlah hambatan itu diselesaikan dan kita bisa punya equal playing field, maka kompetisinya akan lebih menarik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




