Melongok Asiatique The Riverfront, Wisata Malam yang "Happening" di Bangkok
Jumat, 6 Maret 2015 | 10:46 WIB
Bangkok - Bangkok sudah lama terkenal sebagai tempat wisata kaum adam mencuci mata melihat geliat kehidupan malam dan juga destinasi pelesir kaum hawa untuk urusan belanja.
Tapi apa tempat wisata malam yang cocok untuk semuanya termasuk anak-anak di ibu kota Siam itu? Ini mungkin jawabnya.
Bulan bulat bersinar penuh di langit Bangkok, Kamis (5/3) malam. Ferris wheel atau bianglala setinggi 60 meter, di mana dari sini pengunjung bisa melihat kota Bangkok dari ketinggian yang dihiasi lampu berpendar biru tak henti berputar.
Anak-anak, bapak-ibu, dan semua orang dari semua umur--dan tentu dari berbagai negara--berjalan lalu lalang, berkerumun, duduk manis melihat Sungai Chao Phraya yang membelah ibu kota negara Gajah Putih itu, atau sekalian menumpang free shuttle boat.

Yang lainnya ada yang duduk menikmati santapan malam, seafood umumnya, atau berbelanja di kios-kios dengan berbagai barang jajanan. Berbagai pilihan ada tinggal kemampuan isi dompet masing-masing.
Itulah sepenggal gambaran Asiatique The Riverfront yang memang berada tepat di pinggir sungai yang tak pernah surut sepanjang tahun itu.
Tempat ini di masa lalu adalah gudang-gudang yang jadi saksi bisu manisnya perdagangan jalur Eropa-Asia.
"Ini baru dibuka tahun 2012 lalu. Dulunya tempat ini adalah gudang dan pelabuhan untuk para pedagang Eropa. Sekarang ya sudah bagus begini cocok untuk wisata malam keluarga," kata Saifullah, pria Thailand yang menjadi pramuwisata.
Pemandu wisata berusia 32 tahun itu memang ada benarnya. Setiap orang yang pergi ke Bangkok kini memang menyempatkan untuk datang ke sana untuk singgah, jalan-jalan, atau ngopi. Happening banget.

Pada papan informasi yang dipasang di sana tertera jelas jika sejarah peradaban perdagangan di bekas gudang yang kini disulap jadi tempat wisata itu dimulai masa Raja Chulalongkorn sejak ratusan lalu.
Raja Siam yang cerdas itu melihat bagaimana ekspansinya negara-negara Eropa melakukan penjajahan. Untuk mengerem itu, raja lalu berinisiatif mengajak pengusaha Denmark untuk bekerja sama.
Hingga pada tahun 1884, raja berhasil mengajak pengusaha Denmark Andersen and Co mendirikan East Asiatic Company untuk mengekspor kayu jati ke benua biru. Langkah ini ternyata mampu mengerem hasrat menjajah.
Tak butuh lama, berkat ketekunannya, usaha Andersen terus berkembang. Kayu-kayu Asia itu mengalir dibawa dengan kapal beribu-ribu mil jauhnya ke Eropa.
Pada 1941, saat masa perang dunia II, tentara Jepang berusaha untuk menduduki Bangkok dan termasuk merebut perusahaan Andersen namun gagal--dan membuat Thailand menjadi negara Asean yang tidak pernah diduduki penjajah.
Tahun 1984, perusahaan itu akhirnya ditutup dan gudang-gudang itu menjadi terbengkalai sebelum akhirnya disulap menjadi lokasi wisata malam menarik pada 2012.
Jadi membayangkan andai kawasan Kota Tua di Jakarta, di Semarang, atau sepanjang Pantai Utara hingga Surabaya pun bisa disulap menjadi wisata belanja dan sejarah seperti ini. Tentu tak kalah ciamiknya dengan Asiatique The Riverfront.
Tapi kapan?
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




