Hadapi Samin-Sinar Mas, Rothschild Minta Bantuan Siberian Coal

Rabu, 22 April 2015 | 06:04 WIB
FN
FB
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: FMB
Nat Rothschild.
Nat Rothschild. (JG Photo/JG Photo)

Jakarta – Nathaniel Rothschild menggandeng Siberian Coal Energy Company (SUEK) Plc, perusahaan tambang batubara terbesar kelima di dunia asal Rusia, untuk menghadapi kubu Samin Tan-Sinar Mas di Asia Resource Minerals Plc (ARMS). Rothschild dan Sinar Mas kini bersaing untuk menguasai hingga 100 persen saham Asia Resource, induk usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

Rothschild melalui NR Holdings dan SUEK akan mengajukan penawaran bersama secara tunai (cash offer) kepada para pemegang saham Asia Resource. NR Holdings dan SUEK akan membuat perusahaan patungan yang secara khusus ditujukan untuk mengakuisisi saham Asia Resource yang belum dimiliki Rothschild.

Penawaran tersebut akan tergantung dari hasil rekapitalisasi, dimana NR Holdings berkomitmen menyerap saham baru Asia Resource melalui rights issue. Sebelumnya, Rothschild sendiri mengajukan penawaran senilai US$ 100 juta.

"NR Holdings memahami pemegang saham tertentu lebih memilih untuk menjual saham mereka dengan harga premium dibanding harga saat ini. Dengan demikiam, NR Holdings dan SUEK mempertimbangkan penawaran tunai ini," ungkap manajemen NR Holdings dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).

Rothschild belum menjelaskan lebih rinci rencana cash offer. Namun, penawaran bersama SUEK itu muncul kurang dari sepekan setelah Grup Sinar Mas menyatakan komitmennya mengucurkan dana US$ 310 juta untuk mengakuisisi dan menyuntikkan modal ke Asia Resource, termasuk Berau Coal.

SUEK merupakan perusahaan terbuka sekaligus induk usaha OJSC Siberian Coal Energy. OJSC SUEK merupakan perusahaan tambang batubara terbesar di Rusia sekaligus produsen terbesar kelima di dunia dalam hal cadangan batubara terbukti dan potensial.

OJSC SUEK memiliki cadangan batubara terbukti dan potensial sebanya 5,6 miliar ton. Pada 2014, SUEK menghasilkan 98,9 juta ton batubara, yang sebanyak 40,4 juta ton hasil produksinya diekspor. Perseroan memiliki 17 tambang terbuka yang beroperasi di sembilan daerah berbeda di Rusia.

Belum lama ini, Samin Tan dikabarkan meminta bantuan Sinar Mas untuk menggagalkan rencana Rothschild. Sinar Mas melalui Asia Coal Energy Ventures (ACE) mengumumkan penawaran tandingan yang lebih menarik, yakni suntikan modal disertai potensi akuisisi pada harga 41 pence per saham.

Sumber Investor Daily yang mengetahui rencana itu, mengungkapkan, penawaran Sinar Mas itu diharapkan bisa mendorong pemegang saham menolak tawaran Rothschild dalam RUPS Asia Resource dan Berau, masing-masing pada 22 dan 30 April 2015.

"Rothschild telah menekan manajemen Asia Resource saat ini untuk berpihak pada rights issue yang dijamin NR Holdings. Namun, penawaran Sinar Mas diharapkan bisa menggagalkan rencana itu," kata sumber tersebut, baru-baru ini.

Sebelumnya, manajemen pengelola ACE, yaitu Argyle Street Management Limited (ASML), menyatakan, penawaran versi Rothschild tidak memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menjual sahamnya. Di samping itu, open offer akan dilakukan pada harga yang lebih tinggi dibandingkan harga saham Asia Resource sebenarnya.

"Karena itu, kami berencana menolak semua usulan rekapitalisasi yang akan diajukan pada rapat umum pemegang saham (RUPS) Asia Resource 22 April 2015. Kami mendesak agar pemegang saham lain melakukan hal yang sama," jelas manajemen ASML.

Saat ini, ASML mengantongi sebanyak 11,1 juta (4,65 persen) saham Asia Resource. Sementara itu, sebanyak 17,5 persen saham dikendalikan oleh Rothschild, sedangkan Samin Tan menguasai 23,8 persen saham melalui PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk (BORN). Adapun Raiffeisen Bank memiliki porsi 23,8 persen, yang sebetulnya merupakan saham gadai milik Samin Tan melalui Ravenwood Acquisition Company Limited.

Setelah rencana rights issue selesai, Asia Resource akan melanjutkan proses restrukturisasi utang obligasi Berau Coal sebesar US$ 450 juta dan US$ 500 juta.

Berau Coal berencana untuk menukarkan surat utang senilai US$ 450 juta yang memiliki bunga 12,5 persen dan jatuh tempo 2015, dengan surat utang baru yang jatuh tempo pada Juli 2019.

Selain itu perseroan juga siap menukarkan surat utang senilai US$ 500 juta, yang memiliki bunga 7,25 persen dan jatuh tempo pada 2017, dengan surat utang baru yang jatuh tempo pada Desember 2020.

Berau Coal telah mencapai kesepakatan prinsip restrukturisasi hutang tersebut dengan streering committee yang mengantongi 23,7 persen dari total surat utang. Steering Committee tersebut beranggotakan para pemegang surat utang yang memiliki 50,6 persen dari total surat utang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon