Jelang Ramadan, DPD Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga

Selasa, 26 Mei 2015 | 20:18 WIB
RW
YD
Penulis: Robertus Wardi | Editor: YUD
Farouk Muhammad
Farouk Muhammad (Antara/Ismar Patrizki)

Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Farouk Muhammad meminta pemerintah segera menyiapkan langkah-langkah koordinasi dan antisipasi terhadap kenaikan harga bahan pangan menjelang bulan Ramadan.

"Hanya dalam hitungan hari, kita akan segera memasuki bulan suci Ramadan. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat punya kecenderungan akan mengubah pola hidup terutama konsumsi, selama kurang lebih satu bulan penuh. Peningkatan konsumsi tersebut diprediksi akan meningkat sekitar 30 persen hingga 40 persen," kata Farouk Muhammad melalui keterangan pers yang terima SP, Selasa (26/5).

Ia menjelaskan hampir setiap memasuki bulan suci Ramadan, harga pangan selalu naik tanpa ada intervensi optimal dari pemerintah untuk menahannya. Kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintah ditengah pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Kewaspadaan terutama dalam antisipasi terhadap gejolak harga pangan yang menimbulkan inflasi, pasokan atau stok bahan pangan hingga hari raya Idul Fitri, dan distribusi bahan pangan yang terjamin hingga ke seluruh Indonesia.

Senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menambahkan, DPD RI mendesak agar Pemerintah perlu segera merampungkan peraturan atau payung hukum tentang pengendalian harga kebutuhan pokok dan barang penting, agar nantinya pemerintah akan memiliki wewenang untuk mengendalikan harga khususnya pada waktu-waktu tertentu.

"Jangan sampai nanti kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok menganggu konsentrasi masyarakat yang akan beribadah selama bulan suci," jelasnya.

DPD RI juga meminta agar persoalan stok bahan pangan selama bulan Ramadan hingga hari raya nanti harus benar-benar diperhatikan. Konsentrasi dan monitoring stok bahan pangan jangan hanya dilakukan dikota-kota besar saja, tetapi harus mencakup seluruh wilayah di Indonesia terlebih untuk komoditas pangan strategis.

Seperti beras, Pemerintah harus terbuka menginformasikan ketersediaan bahan pangan tersebut yang tersimpan di Bulog maupun memonitoring persediaan di pasaran.

"Pemerintah harus memiliki data yang akurat, berapa tingkat kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan dan stok yang dimiliki. Kebijakan Impor beras harusnya menjadi opsi terakhir yang diambil oleh pemerintah jika terjadi kerawanan atau kurangnya pasokan beras," tuturnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon