Pengacara: Lima Korban Bentrok di Riau Diduga Disekap

Jumat, 3 Februari 2012 | 16:54 WIB
RN
B
Penulis: Ratna Nuraini | Editor: B1
Ribuan warga yang tergabung dalam Forum Rakyat Bersatu Sumatera Utara (FRB SU) melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Sumut, Medan, beberapa waktu lalu.
Ribuan warga yang tergabung dalam Forum Rakyat Bersatu Sumatera Utara (FRB SU) melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Sumut, Medan, beberapa waktu lalu. (Antarafoto)
Korban hilang terdiri dari satu wanita dan empat laki-laki dewasa.

Lima warga yang menjadi korban hilang saat bentrok masa dengan sejumlah anggota Brimob Sipirok, Sumatra Utara, Kamis (2/2), menurut informasi terakhir diduga disekap oleh pihak perusahaan.

"Informasi terakhir yang saya dapat, kelima warga yang hilang kemarin itu diculik oleh pihak perusahaan, lewat pasukan Brimob yang menembaki warga juga," kata kuasa hukum masyarakat Nasir Sihotang, pagi ini.

Bentrok warga Desa Batang Kumuh, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu dengan PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) menurut informasi masyarakat dan kepolisian, besar kemungkinan dipicu konflik tapal batas yang tidak kunjung tuntas.

"Sebenarnya perkara ini sudah sejak lama, yakni sejak 1998. Dan masalah sengketa ini juga telah dimenangkan oleh masyarakat saat di adili di Pengadilan Negeri (PN) Pasir Pangarayan, Rokan Hulu," katanya.

Saat ini, demikian Nasir, perkara tersebut juga tengah menjalani tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA). Tapi, pihak perusahaan justru ngotot dan malah mengirim beberapa alat berat ke lokasi lahan yang bermasalah.

Warga yang tidak menerima upaya penggarapan oleh perusahaan, kata dia, kemudian melakukan pelarangan terhadap operasional alat berat yang didatangkan.

Namun kondisi itu, menurut Nasir, tidak diterima oleh pihak perusahaan, bahkan kemudian petugas keamanan di PT MAI menembaki warga. "Dalam insiden ini, ada enam orang warga yang tertembak, dan lima lainnya diculik. Penculikan ini juga banyak disaksikan oleh warga di lokasi bentrok," kata Nasir.

Keenam korban tembak, masing-masing Osmar Sihombing (30), Franky Dolok Pasaribu (30), Nomos Sihombing (34), Johanes Sitorus (35), dan Ranto Sirait (27) dan Joni Sihotang (58). Sementara lima korban hilang belum diketahui secara pasti identitasnya.

"Banyak warga menyaksikan penembakan dan penculikan ini," kata Nasir lagi.

Untuk korban hilang, kata Nasir, terdiri dari satu wanita dan empat laki-laki dewasa. Mereka dibawa dengan menggunakan mobil mengarah ke kompleks perusahaan dan bukan ke kantor polisi.

"Hal ini tentunya sangat janggal. Kemungkinan penculikan ini dilakukan pihak perusahaan sebagai trik untuk menakut-nakuti warga," kata Nasir.

Di lain pihak, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Riau AKB Syarif Pandiangan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Sumut untuk menyelidiki kasus tersebut.

"Selain itu, kami juga telah mengirimkan sejumlah anggota dari Satuan Intel untuk menyelidiki atau memata-matai kasus ini," katanya.

Sementara pihak PT MAI, sampai sekarang belum bersedia untuk di konfirmasi oleh sejumlah wartawan, baik secara langsung maupun via telepon.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon