Pengetahuan Terbatas, Alasan Masyarakat Pilih Kontrasepsi Jangka Pendek

Selasa, 20 Oktober 2015 | 16:29 WIB
CO
B
Penulis: Carla Isati Octama | Editor: B1
IUD, salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
IUD, salah satu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). (Istimewa/Istimewa)

Jakarta - Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terbatasnya pengetahuan masyarakat akan berbagai jenis alat kontrasepsi menjadikan masyarakat lebih memilih metode kontrasepsi jangka pendek.

"Pengetahuan masyarakat masih terbatas mengenai berbagai macam kontrasepsi, sehingga orang lebih banyak tahu yang jangka pendek daripada kontrasepsi jangka panjang," ujar Sekretaris Utama BKKBN, Ambar Rahayu, saat ditemui di Forum Tematik Bakohumas di Jakarta, Selasa (20/10).

Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, suntik KB paling banyak digunakan di Indonesia dengan persentase mencapai 31,9 persen. Sementara penggunaan intra uterine device (IUD) hanya mencapai 3,9 persen.

"Suntik KB itu ada yang setiap bulan, dua bulan, dan tiga bulan. Kalau lupa sehari suntik, bisa meningkat kesuburannya. Beda dengan kontrasepsi jangka panjang, yang membuat pengguna terproteksi selama lima tahun," lanjut Ambar.

Hal sama juga dikemukakan oleh Ketua BKKBN Surya Chandra Surapaty. Saat ditemui di acara BKKBN di Bekasi, Surya menjelaskan, metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntik KB, pil, dan kondom, drop out-nya lebih tinggi.

"Padahal, yang diperlukan adalah metode kontrasepsi yang tidak banyak drop out-nya yakni kontrasepsi jangka panjang seperti susuk KB, implan, IUD, tubektomi, dan vasektomi," tutur Surya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon