17 Korban Metromini Kontra KRL Teridentifikasi

Senin, 7 Desember 2015 | 12:45 WIB
BM
JS
Penulis: Bayu Marhaenjati | Editor: JAS
Petugas bersama warga mengevakuasi korban tabrakan yang melibatkan KRL (Commuterline) dengan metro mini di Angke, Jakarta, 6 Desember 2015.
Petugas bersama warga mengevakuasi korban tabrakan yang melibatkan KRL (Commuterline) dengan metro mini di Angke, Jakarta, 6 Desember 2015. (Twitter)

Jakarta - Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya, kembali mengidentifikasi satu korban kecelakaan maut metromini dengan Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line, di perlintasan kereta, Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat. Total korban meninggal dunia 18 orang, 17 telah teridentifikasi, dan satu orang menunggu data dari keluarga.

"Terkait kasus kecelakaan metromini kemarin, pada saat ini sudah teridentifikasi 17 korban. Semuanya, sudah diambil keluarganya. Jadi 16 korban sudah diambil semalam, tadi pagi teridentifikasi lagi satu orang dan dibawa ke Tegal," ujar Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Musyafak, di Mapolda Metro Jaya, Senin (7/12).

Dikatakan Musyafak, satu korban meninggal saat ini masih berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

"Satu ini saya sampaikan ada beberapa ciri, seperti tinggi badan 162 sentimeter, usia 20 sampai 30 tahun, dan jenis kelamin laki-laki. Ada tanda khusus, namun tidak bisa saya sampaikan di sini untuk menghindari pengakuan dari sekelompok orang, sehingga tidak benar," ungkapnya.

Ia menjelaskan, korban itu belum teridentifikasi bukan karena kesulitan dari kondisi jenasah. Namun, belum ada pihak keluarga atau masyarakat yang lapor ke kami.

"Sekarang masih kami buka Posko Anthemortem di RSCM, kami menerima pengaduan atau masyarakat yang merasa kehilangan keluarganya untuk kami data dan kami cocokan nanti. Kalau cocok kami serahkan," katanya.

Menyoal kenapa ciri-ciri khusus korban tidak bisa disampaikan, Musyafak menegaskan, untuk menghindari ada pengakuan dari orang yang bukan keluarga korban.

"Korban ini Mr X atau tidak ada identitas KTP. Tapi benda-benda melekat masih ada. Itulah domain yang tidak bisa saya sampaikan. Nanti saya khawatir ada beberapa orang atau kelompok yang mengakui, karena ini terkait dengan asuransi dan lainnya. Kami harus profesional dan menyerahkan korban sesuai dengan datanya," tandasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon