Pahlawan Konservasi Indonesia 2012
Rabu, 22 Februari 2012 | 15:45 WIB
The Nature Conservancy di Indonesia memberikan penghargaan pada masyarakat penjaga alam.
Menandai 20 tahun keberadaan lembaga The Nature Conservancy di Indonesia. Kemarin (21/2) mereka memberikan penghargaan kepada penjaga alam yang melindungi ekosistem dan mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya alam Indonesia.
"Dalam 20 tahun, program kami telah berkembang dan berevolusi dari sebatas menyodorkan solusi bagi konservasi tetapi juga menggunakan pengalaman dan pembelajaran yang ada guna membangun kebijakan dan prioritas yang secara politik dan finansial dapat langsung mendukung replikasi kesuksesan konservasi pada skala nasional dan global," kata Charles Bedford, Direktur Pelaksana Regional TNC Asia Pasifik .
The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi yang bekerja di seluruh dunia untuk melindungi daratan dan perairan tempat kehidupan bergantung. Berdiri tahun 1951, TNC berikut lebih dari sejuta anggota telah membantu melindungi lebih dari 6 juta hektar di Amerika Serikat dan lebih dari 41 juta hektar di seluruh dunia
Pemenang penghargaan Penjaga Alam 2012:
Patroli Masyarakat Tanjung Batu – Kemitraan Prakarsa Masyarakat dari Berau di Kalimantan Timur
Masyarakat di kampung Tanjung Batu memutuskan untuk bertindak ketika penangkapan ikan yang merusak kian merajalela tanpa ada sanksi hukum. Mereka membentuk JALA (Jaringan Nelayan), sebuah organisasi masyarakat untuk menjaga wilayah perairan kampung Tanjung Batu seluas 44.274 hektar. JALA melakukan kegiatan patroli bulanan dengan melibatkan petugas penegak hukum dari kepolisian, angkatan laut, angkatan darat, dan DKP Berau. Untuk mendukung kegiatan patroli mereka, JALA menggunakan sumberdaya lokal yang tersedia. Untuk kapal patroli, JALA menggunakan kapal dari DKP Berau; sementara untuk pendanaan patroli, JALA secara kolektif mengumpulkan uang dari anggotanya sebagai sumberdana satu-satunya. Jumlahnya pun sukarela, namun sumberdana dari
anggotanya tidak akan pernah berkurang.
Nelwan Watem – Tokoh Adat Berkomitmen Tinggi dari Kofiau, Raja Ampat
Tokoh berusia 56 tahun ini figur yang tidak asing ditelinga masyarakat kampung Dibalal, Distrik Kofiau. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Kampung pada tahun 1987 dan saat ini dipilih sebagai Ketua Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam di Dibalal. Nelwan Watem yang hanya lulusan SD telah memimpin di lingkungan gereja, adat, serta pemerintahan kampng untuk memajukan Kofiau. Beliau menjadi sosok yang berpengaruh dalam pengembangan konservasi, patroli masyarakat dan penegakkan hukum, pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan sasi dan pembangunan gereja di Kofiau. Komitmen dan semangat Beliau yang tinggi akan “sampai akhir hayatnya” untuk Kofiau
Rajak Umkabu – Pelindung Perairan dari Misool Timur Selatan, Raja Ampat
Rajak Umkabu yang berusia 55 tahun, telah memimpin kegiatan konservasi tradisional dan modern di Misool. Sebagai seorang nelayan dan pembuat kapal, ia sangat memahami pentingnya menjaga lingkungan. Rajak telah menjabat sebagai Ketua Adat Misool Barat sejak tahun 2004 dan terlibat langsung dalam pelarangan penggunaan kompressor dan operasional bagan di wilayah Misool Barat. Ia berjuang untuk membuat area sasi masyarakat dan juga sebagai Koordinator patroli masyarakat.
Ir. Anak Agung Ngurah Agung. Dipl. HE. MSc – Pemimpin Konservasi dari Bali
Agung, merupakan fotografer dengan gelar Master dibidang Pendidikan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Transportasi, dan saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Sebagai komite pengarah untuk Kelompok Kerja Kawasan Konservasi Laut Nusa Penida, Beliau terlibat aktif dalam penetapan kawasan yang dilindungi dan telah menjadi pendukung sejati serta peserta aktif dalam rencana pengelolaan jangka panjang kawasan konservasi laut Nusa Penida.
I Wayan Suarbawa – Penjaga Laut dari Nusa Penida di Bali
Suarbawa dan mitranya mendirikan organisasi berbasis masyarakat yang fokus terhadap isu perairan dan wilayah pesisir Pulau Lembongan, Nusa Penida. Setelah menerima pelatihan dari TNC pada tahun 2003, Suarbawa seorang pembudidaya rumput laut, menjadi pendukung konservasi di Lembongan. Ia tidak pernah menyerah untuk menggiatkan penanaman mangrove dan penetapan peraturan adat atau awig-awig untuk pelarangan penebangan mangrove. Selain itu, ia juga bekerja untuk memetakan wilayah pesisir, pendidikan lingkungan dan pelatihan konservasi perairan.
TIM P4KPP Laut Sawu – Kebersamaan dalam Upaya Konservasi, Taman Nasional Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur
P4KPP merupakan kelompok yang lengkap untuk Taman Nasional Laut Sawu. Didirikan atas Surat Keputusan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2009, P4KPP merupakan kemitraan sejati antara pemerintah, masyarakat, LSM lokal dan perhimpunan nelayan. Dengan duduk bersama, mereka mampu menghadapi segala tantangan. Walaupun tidak memiliki anggaran dana dari pemerintah, dedikasi dan komitmen kelompok ini terhadap konservasi Laut Sawu telah menghasilkan draft Rencana
Anna Salean, MSi – Srikandi Perikanan Berkelanjutan, Nusa Tenggara Timur
Ramah namun tegas ketika berbicara tentang konservasi. Di usianya yang ke-55 tahun, komitmen Ibu Anna terhadap konservasi tidak terbantahkan. Sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdi selama 10 tahun, Beliau mengawasi pengembangan perikanan berkelanjutan di NTT dan penetapan peraturan Gubernur tentang pengelolaan terumbu karang. Lulusan Institut Perikanan, Beliau berperan aktif untuk mendukung penetapan Taman Nasional Perairan Laut Sawu seluas 3.5 juta hektar.
Wa Ode Masrinta – Pembela yang Berpengaruh, Pulau Tomia, Taman National Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Di usianya yang ke-44, Masrinta telah menjadi pilar kekuatan dan tekad dari pengelolaan yang berkelanjutan dan konservasi lingkungan perairan Wakatobi. Ia telah bekerja di masyarakat untuk menambah penghasilan suaminya, yang seorang nelayan, dan nelayan lainnya dengan membuat ikan asin bersama ibu-ibu di kampungnya. Inisiatif yang Beliau gagas ini menyebar ke kampung-kampung lainnya. Pada tahun 2003-2006, penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan telah menurunkan hasil tangkap dan konflik pun merebak diantara nelayan lokal dan nelayan dari Sulawesi. Masrinta memimpin unjuk rasa terhadap kurangnya perhatian pemerintah.
La Wiu – Penegak Konservasi, Pulau Wangi-Wangi, Taman National Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Pria usia 43 tahun ini merupakan seorang nelayan tradisional yang memiliki komitmen terhadap konservasi. Beliau telah menerima pelatihan dari program bersama TNC-WWF Wakatobi dan menyebarkan pemahamannya kepada masyarakat sekitar tentang konservasi dan terus menyadarkan nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan cara merusak dan penambangan karang. Sebagai Ketua Kelompok Pesisir I Liya Mawi, pendirian sederhana – pergi ke laut dan mencegah pelaku penangkapan ikan yang merusak dengan melacak mereka dan mengawasi wilayah tersebut. La Wiu terus bekerja bersama dengan nelayan tradisional untuk menghentikan praktek penangkapan ikan yang merusak dengan menyita kapal para pelaku.
Alimun – Pemrakarsa Budidaya dari Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Alimun lahir dan dibesarkan di kampung Bobo. Pria usia 70 tahun ini merupakan seorang peternak lebah yang seumur hidupnya lekat dengan Taman Nasional Lore Lindu. Beliau adalah petani dan telah bekerja untuk memromosikan pertanian menetap dengan sistem terasering setelah menerima pelatihan pada tahun 1998. Pada tahun 2005, ia merintis budidaya ternak lebah untuk menghasilkan madu. Inisiatifnya memperoleh perhatian dari pemerintah daerah dan Beliau pun melatih masyarakat sekitar di kampungnya cara berternak lebah.
Ahina Boka – Penyuluh Lingkungan Hidup dari Sulawesi Selatan (Kabupaten Lore Utara)
Ibu Ahina adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Lore Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau aktif dalam pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk kelas 4, 5 dan 6 di wilayah Taman Nasional Lore Lindu. Saat ini Ahina bekerja dengan 7 sekolah dan 21 guru untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup. Ia juga aktif dalam kegiatan kepramukaan, penanaman pohon, dan advokasi pendidikan lingkungan hidup. Ibu Ahina sangat percaya bahwa pendidikan lingkungan hidup merupakan pendidikan wajib bagi anak-anak untuk melindungi serta melestarikan lingkungan, khususnya Taman Nasional Lore Lindu.
Menandai 20 tahun keberadaan lembaga The Nature Conservancy di Indonesia. Kemarin (21/2) mereka memberikan penghargaan kepada penjaga alam yang melindungi ekosistem dan mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya alam Indonesia.
"Dalam 20 tahun, program kami telah berkembang dan berevolusi dari sebatas menyodorkan solusi bagi konservasi tetapi juga menggunakan pengalaman dan pembelajaran yang ada guna membangun kebijakan dan prioritas yang secara politik dan finansial dapat langsung mendukung replikasi kesuksesan konservasi pada skala nasional dan global," kata Charles Bedford, Direktur Pelaksana Regional TNC Asia Pasifik .
The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi yang bekerja di seluruh dunia untuk melindungi daratan dan perairan tempat kehidupan bergantung. Berdiri tahun 1951, TNC berikut lebih dari sejuta anggota telah membantu melindungi lebih dari 6 juta hektar di Amerika Serikat dan lebih dari 41 juta hektar di seluruh dunia
Pemenang penghargaan Penjaga Alam 2012:
Patroli Masyarakat Tanjung Batu – Kemitraan Prakarsa Masyarakat dari Berau di Kalimantan Timur
Masyarakat di kampung Tanjung Batu memutuskan untuk bertindak ketika penangkapan ikan yang merusak kian merajalela tanpa ada sanksi hukum. Mereka membentuk JALA (Jaringan Nelayan), sebuah organisasi masyarakat untuk menjaga wilayah perairan kampung Tanjung Batu seluas 44.274 hektar. JALA melakukan kegiatan patroli bulanan dengan melibatkan petugas penegak hukum dari kepolisian, angkatan laut, angkatan darat, dan DKP Berau. Untuk mendukung kegiatan patroli mereka, JALA menggunakan sumberdaya lokal yang tersedia. Untuk kapal patroli, JALA menggunakan kapal dari DKP Berau; sementara untuk pendanaan patroli, JALA secara kolektif mengumpulkan uang dari anggotanya sebagai sumberdana satu-satunya. Jumlahnya pun sukarela, namun sumberdana dari
anggotanya tidak akan pernah berkurang.
Nelwan Watem – Tokoh Adat Berkomitmen Tinggi dari Kofiau, Raja Ampat
Tokoh berusia 56 tahun ini figur yang tidak asing ditelinga masyarakat kampung Dibalal, Distrik Kofiau. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Kampung pada tahun 1987 dan saat ini dipilih sebagai Ketua Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam di Dibalal. Nelwan Watem yang hanya lulusan SD telah memimpin di lingkungan gereja, adat, serta pemerintahan kampng untuk memajukan Kofiau. Beliau menjadi sosok yang berpengaruh dalam pengembangan konservasi, patroli masyarakat dan penegakkan hukum, pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan sasi dan pembangunan gereja di Kofiau. Komitmen dan semangat Beliau yang tinggi akan “sampai akhir hayatnya” untuk Kofiau
Rajak Umkabu – Pelindung Perairan dari Misool Timur Selatan, Raja Ampat
Rajak Umkabu yang berusia 55 tahun, telah memimpin kegiatan konservasi tradisional dan modern di Misool. Sebagai seorang nelayan dan pembuat kapal, ia sangat memahami pentingnya menjaga lingkungan. Rajak telah menjabat sebagai Ketua Adat Misool Barat sejak tahun 2004 dan terlibat langsung dalam pelarangan penggunaan kompressor dan operasional bagan di wilayah Misool Barat. Ia berjuang untuk membuat area sasi masyarakat dan juga sebagai Koordinator patroli masyarakat.
Ir. Anak Agung Ngurah Agung. Dipl. HE. MSc – Pemimpin Konservasi dari Bali
Agung, merupakan fotografer dengan gelar Master dibidang Pendidikan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Transportasi, dan saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Sebagai komite pengarah untuk Kelompok Kerja Kawasan Konservasi Laut Nusa Penida, Beliau terlibat aktif dalam penetapan kawasan yang dilindungi dan telah menjadi pendukung sejati serta peserta aktif dalam rencana pengelolaan jangka panjang kawasan konservasi laut Nusa Penida.
I Wayan Suarbawa – Penjaga Laut dari Nusa Penida di Bali
Suarbawa dan mitranya mendirikan organisasi berbasis masyarakat yang fokus terhadap isu perairan dan wilayah pesisir Pulau Lembongan, Nusa Penida. Setelah menerima pelatihan dari TNC pada tahun 2003, Suarbawa seorang pembudidaya rumput laut, menjadi pendukung konservasi di Lembongan. Ia tidak pernah menyerah untuk menggiatkan penanaman mangrove dan penetapan peraturan adat atau awig-awig untuk pelarangan penebangan mangrove. Selain itu, ia juga bekerja untuk memetakan wilayah pesisir, pendidikan lingkungan dan pelatihan konservasi perairan.
TIM P4KPP Laut Sawu – Kebersamaan dalam Upaya Konservasi, Taman Nasional Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur
P4KPP merupakan kelompok yang lengkap untuk Taman Nasional Laut Sawu. Didirikan atas Surat Keputusan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2009, P4KPP merupakan kemitraan sejati antara pemerintah, masyarakat, LSM lokal dan perhimpunan nelayan. Dengan duduk bersama, mereka mampu menghadapi segala tantangan. Walaupun tidak memiliki anggaran dana dari pemerintah, dedikasi dan komitmen kelompok ini terhadap konservasi Laut Sawu telah menghasilkan draft Rencana
Anna Salean, MSi – Srikandi Perikanan Berkelanjutan, Nusa Tenggara Timur
Ramah namun tegas ketika berbicara tentang konservasi. Di usianya yang ke-55 tahun, komitmen Ibu Anna terhadap konservasi tidak terbantahkan. Sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdi selama 10 tahun, Beliau mengawasi pengembangan perikanan berkelanjutan di NTT dan penetapan peraturan Gubernur tentang pengelolaan terumbu karang. Lulusan Institut Perikanan, Beliau berperan aktif untuk mendukung penetapan Taman Nasional Perairan Laut Sawu seluas 3.5 juta hektar.
Wa Ode Masrinta – Pembela yang Berpengaruh, Pulau Tomia, Taman National Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Di usianya yang ke-44, Masrinta telah menjadi pilar kekuatan dan tekad dari pengelolaan yang berkelanjutan dan konservasi lingkungan perairan Wakatobi. Ia telah bekerja di masyarakat untuk menambah penghasilan suaminya, yang seorang nelayan, dan nelayan lainnya dengan membuat ikan asin bersama ibu-ibu di kampungnya. Inisiatif yang Beliau gagas ini menyebar ke kampung-kampung lainnya. Pada tahun 2003-2006, penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan telah menurunkan hasil tangkap dan konflik pun merebak diantara nelayan lokal dan nelayan dari Sulawesi. Masrinta memimpin unjuk rasa terhadap kurangnya perhatian pemerintah.
La Wiu – Penegak Konservasi, Pulau Wangi-Wangi, Taman National Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Pria usia 43 tahun ini merupakan seorang nelayan tradisional yang memiliki komitmen terhadap konservasi. Beliau telah menerima pelatihan dari program bersama TNC-WWF Wakatobi dan menyebarkan pemahamannya kepada masyarakat sekitar tentang konservasi dan terus menyadarkan nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan cara merusak dan penambangan karang. Sebagai Ketua Kelompok Pesisir I Liya Mawi, pendirian sederhana – pergi ke laut dan mencegah pelaku penangkapan ikan yang merusak dengan melacak mereka dan mengawasi wilayah tersebut. La Wiu terus bekerja bersama dengan nelayan tradisional untuk menghentikan praktek penangkapan ikan yang merusak dengan menyita kapal para pelaku.
Alimun – Pemrakarsa Budidaya dari Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Alimun lahir dan dibesarkan di kampung Bobo. Pria usia 70 tahun ini merupakan seorang peternak lebah yang seumur hidupnya lekat dengan Taman Nasional Lore Lindu. Beliau adalah petani dan telah bekerja untuk memromosikan pertanian menetap dengan sistem terasering setelah menerima pelatihan pada tahun 1998. Pada tahun 2005, ia merintis budidaya ternak lebah untuk menghasilkan madu. Inisiatifnya memperoleh perhatian dari pemerintah daerah dan Beliau pun melatih masyarakat sekitar di kampungnya cara berternak lebah.
Ahina Boka – Penyuluh Lingkungan Hidup dari Sulawesi Selatan (Kabupaten Lore Utara)
Ibu Ahina adalah Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Lore Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau aktif dalam pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk kelas 4, 5 dan 6 di wilayah Taman Nasional Lore Lindu. Saat ini Ahina bekerja dengan 7 sekolah dan 21 guru untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup. Ia juga aktif dalam kegiatan kepramukaan, penanaman pohon, dan advokasi pendidikan lingkungan hidup. Ibu Ahina sangat percaya bahwa pendidikan lingkungan hidup merupakan pendidikan wajib bagi anak-anak untuk melindungi serta melestarikan lingkungan, khususnya Taman Nasional Lore Lindu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
HUKUM & HANKAM
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
BERITA VIDEO
ARTIKEL TERPOPULER
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




