Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam

Rio Abdurachman P
Rio Abdurachman P

Ketua Komite Tetap Standardisasi dan Regulasi Industri Event DPP Kadin Indonesia.

Selasa, 31 Maret 2026 | 14:35 WIB

Di sebuah sudut Kabupaten Karo, ketika kabut turun perlahan di antara ladang dan desa-desa yang sunyi, ada seorang anak muda yang bekerja dengan cara yang tak semua orang pahami. Namanya Amsal.

Ia bukan pejabat. Bukan kontraktor besar. Ia hanya seorang videografer.

Namun hari ini, Amsal menjadi simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: benturan antara masa depan dan cara lama melihat nilai.

Ilustrasi videografer. - (Istimewa/-)
Ilustrasi videografer. - (Istimewa/-)

Nilai yang Tidak Terlihat oleh Angka
Amsal tidak menjual beton. Ia tidak menjual jalan. Ia menjual sesuatu yang lebih abstrak dan justru lebih mahal, yakni narasi, rasa, dan perspektif.

Dalam industri kreatif, harga bukan sekadar output akhir berupa video berdurasi beberapa menit. Harga adalah akumulasi dari ide yang tidak terlihat, jam eksplorasi kreatif, peralatan, pengalaman, dan intuisi, proses revisi yang sering tak tercatat, risiko kegagalan yang selalu mengintai.

Di pasar yang sehat, harga Rp 30 juta untuk video profil desa bukanlah angka yang aneh. Bahkan, dalam banyak konteks industri, angka tersebut masih tergolong moderat, tergantung kompleksitas produksi, jumlah kru, dan kualitas storytelling yang dihasilkan.

Namun, di hadapan logika hukum yang kaku, semua itu direduksi menjadi satu pertanyaan sederhana. “Berapa harga wajarnya?”

Dan ketika kreativitas dipaksa masuk ke tabel Excel, yang hilang bukan hanya angka, tetapi masa depan.

Ketika Hukum Kehilangan Konteks Zaman
Kasus Amsal bukan sekadar perkara hukum. Ini adalah alarm.

Sebuah tanda bahwa sebagian dari sistem kita masih bekerja dengan paradigma lama: nilai hanya diukur dari yang kasat mata.

Jika jasa editing bisa dianggap nol, jika proses kreatif tidak diakui sebagai biaya,
maka kita sedang mengatakan kepada generasi muda: ide kalian tidak bernilai.

Padahal, dunia hari ini bergerak sebaliknya. Negara-negara maju justru membangun ekonomi mereka di atas intellectual property, creative economy, dan digital storytelling.

Jika hukum tidak mampu membaca perubahan ini, maka hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan penghambat.

Ketika Hukum Bertemu Nurani di Komisi III DPR

Di ruang Komisi III DPR, hukum tidak hanya dibaca sebagai deretan pasal, tetapi diuji sebagai keadilan yang hidup di tengah masyarakat.

Tampak di layar kaca, Hinca Pandjaitan dan Habiburokhman hadir bukan sekadar sebagai legislator, melainkan penjaga arah penegakan hukum. Keduanya menegaskan bahwa fungsi Komisi III tidak berhenti pada pengawasan administratif terhadap aparat, tetapi juga memastikan hukum tetap selaras dengan perkembangan zaman dan rasa keadilan publik.

Kasus Amsal menjadi refleksi penting. Ketika nilai kreatif tidak dipahami, dan hukum dipaksakan tanpa melihat konteks industri yang berubah, maka yang muncul bukan kepastian hukum melainkan ketidakadilan yang terstruktur.

Pada titik inilah Komisi III mengambil peran krusial: menjadi jembatan antara teks hukum dan realitas. Karena ketika hukum kehilangan konteks, yang terjadi bukan keadilan, melainkan kekeliruan yang dilegalkan.

Industri Kreatif: Marginal Hari Ini, Dominan Besok

Sebagai ketua Komtap Kadin Bidang Acara, saya melihat langsung bagaimana video telah menjadi tulang punggung industri event hari ini.

Tidak ada acara tanpa dokumentasi.
Tidak ada brand tanpa storytelling.
Tidak ada engagement tanpa visual.

Video bukan lagi pelengkap. Ia adalah produk utama.

Namun ironisnya, industri ini masih sering diperlakukan sebagai sektor “pinggiran”, tidak memiliki standar harga yang dipahami secara luas, dan rentan disalahartikan oleh pendekatan administratif.

Padahal jika kita bicara masa depan, event akan semakin digital, brand akan semakin visual, serta komunikasi akan semakin berbasis konten

Dan di tengah semua itu, videografer seperti Amsal adalah fondasinya.

Harga Ideal dalam Industri Kreatif

Sudah saatnya kita mengakui bahwa industri kreatif membutuhkan pendekatan harga yang berbeda. Harga ideal tidak bisa ditentukan hanya oleh biaya produksi fisik atau pembanding administratif semata.

Namun, harus mempertimbangkan nilai ide (creative concept value), keahlian, pengalaman kreator, kualitas storytelling dan impact, kebutuhan teknis produksi, hak cipta, dan penggunaan konten.

Dalam banyak industri global, ide bisa bernilai lebih mahal daripada eksekusinya, karena ide adalah pembeda. Dan pembeda adalah sumber nilai.

Amsal Adalah Kita Semua

Cerita Amsal bukan cerita tunggal. Ia adalah representasi dari fotografer di kota kecil, desainer freelance, content creator muda , filmmaker independen, dan seterusnya.

Mereka yang bekerja di ruang sunyi, tanpa perlindungan yang cukup, tetapi justru membawa wajah Indonesia ke masa depan.

Jika hari ini mereka takut, maka kita sedang menciptakan generasi yang memilih aman bukan berani.

Jangan Hukum Masa Depan
Kita tidak sedang membela satu orang. Kita sedang menentukan arah sebuah bangsa.

Apakah kita ingin menjadi negara yang menghargai kreativitas, memahami perubahan zaman dan melindungi inovasi, atau negara yang masih terjebak pada cara lama dalam menilai dunia baru?

Hukum seharusnya memberi keadilan, bukan ketakutan.

Karena jika kreativitas dipidana, maka yang mati bukan hanya industri, tetapi masa depan itu sendiri.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon