Krisis Minyak karena Perang Iran, Mobil Bensin Tekor 5 Kali dari EV
Sabtu, 4 April 2026 | 09:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Gejolak konflik bersenjata di Iran kini berdampak langsung pada dompet masyarakat global. Terganggunya pasokan minyak mentah dunia telah memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Fenomena ini kembali mempertegas jurang perbedaan antara biaya operasional kendaraan konvensional dan kendaraan listrik (EV).
Sebuah laporan terbaru dari organisasi advokasi energi bersih, Transport & Environment (T&E), yang dikutip Inside EV, Sabtu (4/4/2026) mengungkapkan bahwa pemilik mobil listrik jauh lebih terlindungi dari guncangan ekonomi akibat perang. Studi tersebut memprediksi bahwa pengemudi mobil berbahan bakar fosil akan merasakan beban biaya lima kali lebih berat dibandingkan mereka yang sudah beralih ke teknologi baterai.
Dalam hitungan teknisnya, jika harga minyak dunia bertahan di atas angka US$ 100 per barel, biaya perjalanan sejauh 100 kilometer untuk mobil bensin akan membengkak menjadi sekitar € 14,20 (sekitar Rp 240.000). Angka ini mengalami kenaikan yang cukup tajam dibandingkan harga normal sebelumnya.
“Sebaliknya, meski tarif listrik juga diprediksi mengalami kenaikan akibat krisis energi global, dampaknya terhadap pemilik EV tergolong minim. Untuk jarak yang sama, pengemudi mobil listrik diperkirakan hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar € 6,50. Kenaikannya pun sangat tipis, yakni hanya sekitar € 0,70 dibandingkan sebelum krisis terjadi,” tulis laporan tersebut.
Lucien Mathieu, Direktur Mobil di T&E, menyatakan bahwa ketergantungan pada minyak bumi membuat sebuah negara rentan terhadap keputusan politik sepihak dari negara-negara produsen minyak. "Seorang pemimpin dunia atau otoritas di wilayah konflik bisa saja menutup keran minyak, tetapi mereka tidak bisa mengontrol angin dan matahari yang menjadi sumber energi listrik kita," tegasnya.
Stabilitas harga listrik menjadi kunci utama mengapa EV lebih unggul di masa krisis. Berbeda dengan harga BBM di pompa bensin yang bisa berubah dalam hitungan hari mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia, tarif listrik cenderung lebih stabil karena proses produksinya yang terdiversifikasi, termasuk menggunakan sumber energi terbarukan.
Selain masalah efisiensi biaya bagi individu, penggunaan mobil listrik juga berdampak besar pada kedaulatan energi sebuah kawasan. Tahun lalu saja, Uni Eropa mengimpor sekitar 1 miliar barel minyak hanya untuk kebutuhan transportasi darat. Namun, kehadiran 8 juta unit EV yang sudah mengaspal berhasil menghemat sekitar 46 juta barel minyak, atau setara dengan penghematan anggaran sebesar €2,9 miliar.
Meski kebijakan pelarangan mesin pembakaran (combustion engine) di masa depan sempat mengalami pelonggaran akibat lobi industri, tren pasar justru menunjukkan hal sebaliknya. Di Eropa, penjualan mobil listrik justru melonjak 21 persen pada Februari lalu, di saat pasar global lainnya sedang mengalami penurunan.
Badan Energi Internasional (IEA) pun mengonfirmasi bahwa transisi menuju sistem energi yang lebih terikat pada listrik dan energi terbarukan akan secara drastis mengurangi risiko masyarakat terhadap volatilitas harga bahan bakar fosil. Energi bersih bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan strategi bertahan hidup secara ekonomi.
Pada akhirnya, memilih mobil listrik bukan hanya soal menjaga kualitas udara atau efisiensi energi semata. Di tengah kondisi dunia yang semakin tidak menentu dan konflik geopolitik yang sulit diprediksi, kendaraan listrik terbukti menjadi investasi yang lebih cerdas untuk melindungi finansial konsumen dari ketidakpastian harga energi global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




