Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat
Sabtu, 4 April 2026 | 08:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas dunia masih tertahan selama libur panjang Paskah, Sabtu (4/4/2026), di tengah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Diketahui, data tenaga kerja AS jauh lebih kuat dari perkiraan hingga membuat prospek emas akan semakin tertekan.
Mengutip CNBC, pada perdagangan terakhir sebelum libur, harga emas tercatat turun sekitar 1,72% ke level US$ 4.676 per ons troi. Namun, data ekonomi AS kembali menunjukkan ketangguhannya. Sepanjang Maret 2026, penciptaan lapangan kerja tercatat jauh melampaui ekspektasi pasar, yang berpotensi menahan laju kenaikan harga emas.
Data Bureau of Labor Statistics yang dirilis menunjukkan bahwa nonfarm payrolls, indikator penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian bertambah sebanyak 178.000. Capaian ini melampaui proyeksi ekonom yang sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan sekitar 65.000 pekerjaan.
Pertumbuhan lapangan kerja terutama didorong oleh sektor kesehatan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Sementara itu, jumlah pekerja di lingkungan pemerintahan federal masih mengalami penurunan.
Sejalan dengan hal itu, tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3% dari posisi 4,4% pada Februari. Angka ini lebih baik dari perkiraan pasar yang memperkirakan stagnan.
Meski data tenaga kerja menunjukkan hasil solid, pasar emas belum memberikan respons karena masih tutup selama libur panjang Paskah. Namun, ketika pasar kembali dibuka, tekanan terhadap harga emas diperkirakan akan meningkat seiring ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.
Beberapa waktu terakhir, harga emas bergerak cenderung melemah dan berada dalam fase konsolidasi. Data ekonomi AS yang kuat membuat pelaku pasar menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, yang menjadi sentimen negatif bagi emas.
Selain itu, konflik di Iran turut memicu gangguan rantai pasok global, khususnya di sektor energi, yang mendorong harga minyak menembus US$ 100 per barel. Lonjakan harga energi ini meningkatkan tekanan inflasi global dan membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Harga emas berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, terutama jika data ekonomi AS tetap solid.
Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, emas masih memiliki peluang menguat jika muncul tanda-tanda perlambatan ekonomi atau meningkatnya risiko stagflasi.
Emas diproyeksikan kembali menarik sebagai aset safe haven apabila tekanan ekonomi global meningkat, yang dapat mendorong bank sentral mulai melonggarkan kebijakan moneter, termasuk memangkas suku bunga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




