Update Harga Emas Dunia Naik 1,3 Persen, Perak Turun 0,5 Persen
Rabu, 1 April 2026 | 21:07 WIB
London, Beritasatu.com – Harga emas dunia melanjutkan penguatan untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu (1/4/2026), mendekati level tertinggi dalam hampir dua pekan, seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya perhatian pasar terhadap konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap kebijakan moneter global.
Harga emas spot naik 1,3% menjadi US$ 4.728,75 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 19 Maret pada sesi sebelumnya. Sementara itu, emas berjangka AS menguat 1,7% menjadi US$ 4.755,70 per ons.
Sementara harga perak spot turun 0,5% menjadi US$ 74,70 per ons, platinum melemah 0,3% menjadi US$ 1.942,80 per ons, dan paladium turun 0,8% menjadi US$ 1.464,88 per ons.
Pelemahan dolar AS selama dua hari berturut-turut membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
Analis pasar menilai harga emas berpotensi kembali menembus US$ 5.000 per ons apabila ketegangan geopolitik mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga kembali menguat.
“Fokus pasar saat ini tertuju pada Iran dan Selat Hormuz, termasuk bagaimana konflik ini berkembang dan arah ke depan,” ujar analis pasar dilansir dari Reuters.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah meminta gencatan senjata melalui unggahan di media sosial Truth Social. Namun, Trump menegaskan AS akan mempertimbangkan hal tersebut setelah Selat Hormuz kembali dibuka secara aman.
Sepanjang Maret, harga emas spot tercatat turun lebih dari 11% akibat kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Emas umumnya dipandang sebagai aset lindung nilai saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan inflasi. Namun, suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Analis menilai berakhirnya konflik dapat menjadi pedang bermata dua bagi harga emas. Di satu sisi, meredanya ketegangan akan mengurangi permintaan aset aman. Di sisi lain, penurunan harga minyak dan inflasi berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS pada 2026.
Dari sisi data ekonomi, laporan ketenagakerjaan nasional menunjukkan peningkatan stabil pada sektor swasta AS sepanjang Maret. Penjualan ritel AS juga naik solid pada Februari, meskipun lonjakan harga bahan bakar akibat perang berpotensi menekan belanja masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




