Update Harga Emas dan Perak Dunia: Kompak Turun Tajam
Kamis, 2 April 2026 | 20:45 WIB
London, Beritasatu.com – Harga emas dunia turun tajam pada Kamis (2/4/2026) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Penurunan ini dipicu lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat.
Harga emas spot tercatat melemah 3% menjadi US$ 4.612,54 per ons. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat turun 3,6% ke level US$ 4.637,70.
Sementara harga perak spot turun 5,8% menjadi US$ 70,80 setelah sempat melemah lebih dari 7%. Sementara itu, platinum turun 2,3% ke level US$ 1.918,60 dan paladium terkoreksi 0,9% menjadi US$ 1.459,31.
Meski terkoreksi, emas masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 2,4% setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 19 Maret 2026 pada perdagangan sebelumnya.
Kenaikan harga minyak yang mendekati 8% terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan melanjutkan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut mengecewakan investor yang sebelumnya berharap adanya sinyal meredanya konflik.
Analis Natixis Bernard Dahdah mengatakan, sejak awal konflik, harga emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan harga minyak.
“Setelah pernyataan Trump, harga minyak naik sekitar 6% hingga 7%, memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini membuat pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tidak akan segera menurunkan suku bunga, sehingga menekan harga emas,” ujarnya dilansir dari Reuters.
Ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga semakin menguat. Sementara itu, peluang penurunan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 14% dari sebelumnya sekitar 25%, berdasarkan data CME FedWatch Tool.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun serta penguatan indeks dolar turut menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis pasar senior Tradriset, Nikos Tzabouras, menilai dolar Amerika Serikat kini menjadi aset safe haven utama, sehingga aliran dana ke emas tertahan.
“Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama memperkuat tekanan terhadap emas. Namun, permintaan struktural tetap kuat dan logam mulia ini masih berpotensi kembali menguat hingga mencetak rekor tertinggi baru,” tulisnya dalam riset.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




