Ciputra Kaji Penerbitan DIRE Rp 5 Triliun

Senin, 18 Januari 2016 | 21:54 WIB
NA
B
Penulis: Nuriy Azizah | Editor: B1
Ciputra Development Tbk
Ciputra Development Tbk (Istimewa)

Jakarta – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mengkaji penerbitan dana investasi real estate (DIRE) atau real estate investment trust (REIT) melalui anak usahanya, PT Ciputra Property Tbk (CTRP). Perseroan berpotensi mengantongi dana sebesar Rp 5 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Ciputra Development Tulus Santoso mengatakan, perseroan masih menanti peraturan pemerintah (PP) terbaru terkait DIRE, yang akan dirilis pada kuartal I tahun ini.

"Akan segera terbitkan tentunya, jika peraturan sudah keluar. Kami akan cari underwriter untuk minta tanggapan mereka. Semua butuh proses. Dari DIRE minimal bisa dapat Rp 5 triliun," kata Tulus di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, nantinya perseroan bakal menerbitkan DIRE melalui Ciputra Property yang memiliki aset senilai Rp 10 triliun. Ciputra Property membawahi aset-aset yang menyumbang pendapatan berulang (recurring income), yakni pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bali, dan Kalimantan.

Secara total, perseroan mengelola empat mal, tujuh hotel, satu apartemen servis, satu gedung kantor, dan lapangan golf. Proyek-proyek itu di antaranya Ciputra World dan CitraDream Hotel.

Seperti diberitakan, Kementerian Keuangan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memfinalisasi aturan perpajakan DIRE. Sesuai rencana, nantinya bakal dirilis peraturan baru, yang mana pajak penghasilan (PPh) final akan dipangkas menjadi 1% dari sebelumnya 5% atas keuntungan dari pengalihan aset atau capital gain.

Sebelumnya, pada 2015, pemerintah telah lebih dulu menghapus pajak berganda melalui aturan KIK DIRE dalam Peraturan Menteri Keuangan No 200 tahun 2015.

Tulus melanjutkan, selain penerbitan DIRE, perseroan juga bakal meraup dana segar melalui penjualan pemasaran (marketing sales) unit properti. Perseroan menargetkan raihan marketing sales mampu menembus Rp 10 triliun atau naik 8,7% dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 9,2 triliun.

"DIRE itu kan extraordinary. Hanya skema pembiayaan, bukan jual dalam arti operasional, di luar marketing sales Rp 10 triliun," kata dia.

Sebelumnya, Tulus mengatakan, perseroan optimistis marketing sales dapat terdongkrak, apabila Bank Indonesia (BI) bisa memangkas suku bunga acuan (BI rate) hingga 1%. Pemangkasan tersebut diyakini mampu meningkatkan daya beli secara signifikan. Secara historis, menurut Tulus, jika BI rate turun 1%, penjualan perseroan akan meningkat 10-30%.

"Tiga tahun ini kami relatif flat. Jadi, kami harapkan BI rate bisa turun sebesar 1%. Marketing sales pun kami harap juga bisa tembus Rp 10 triliun," kata dia.

Lebih lanjut, Tulus mengatakan, jika penurunan BI rate hanya terealisasi di bawah 1%, Tulus menilai belum akan berdampak secara signifikan. Hal itu, disebabkan daya beli masih relatif rendah, karena kondisi perekonomian belum pulih.

"Saat ini memang kondisi ekonomi lebih baik tapi sebaik apa kita belum tau. Bursa saham di Tiongkok awal tahun saja sudah disuspensi dua kali," ujar dia.

Tulus menambahkan, tahun ini, marketing sales masih akan ditopang oleh produk residensial. Sedangkan produk high-rise terutama apartemen diproyeksi menyumbang 15-20% terhadap total marketing sales tahun ini.

Sesuai rencana, perseroan bakal melangsungkan ekspansi lima proyek tahun ini, yang merupakan carry over dari tahun lalu. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, perseroan berencana meluncurkan sekitar 10 proyek.

Mayoritas proyek tertunda yang akan dilangsungkan tahun ini berada di luar Pulau Jawa, yakni Citra Garden Hill Samarinda, Citraland Jayapura, Citraland Lampung, Citra Kendari, dan Citra Garden City Malang. Sementara itu, proyek yang ada di Jakarta mayoritas berbasis high-rise building, yakni Ciputra Internasional Office tower II, Citraplaza Kemayoran, dan proyek mixed use di Fatmawati, Jakarta.

Sementara itu, kinerja perseroan tahun ini diperkirakan cenderung flat. Laba bersih diproyeksi sebesar Rp 1,3 triliun dan pendapatan sebesar Rp 7 triliun.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1-1,5 triliun. Sebagian dari belanja modal tahun ini akan didanai oleh kas internal. Sisanya bakal diperoleh dari pinjaman bank pada kuartal II tahun ini.

Perseroan akan menggunakan sebagian capex sebesar Rp 500 miliar untuk mengakuisisi lahan. Perseroan masih akan fokus untuk menambah cadangan lahan (land bank) di Jakarta dan Surabaya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon