Tak Ada Masyarakat Bengkulu Masuk Gafatar

Senin, 25 Januari 2016 | 09:56 WIB
U
FB
Penulis: Usmin | Editor: FMB
Sejumlah warga eks Gafatar berjalan membawa tas di pemukiman mereka di kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar, 19 Januari 2016. Antara/Jessica Helena Wuysang
Sejumlah warga eks Gafatar berjalan membawa tas di pemukiman mereka di kawasan Monton Panjang, Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalbar, 19 Januari 2016. Antara/Jessica Helena Wuysang

Bengkulu - Sampai saat ini, tidak ditemukan masyarakat Bengkulu masuk sebagai anggota organisasi kemasyarakatan (Ormas) Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Hal ini berdasarkan hasil pelacakan para Kepala Kemenag kabupaten dan kota se- Provinsi Bengkulu.

"Dari hasil pengecekan kita di setiap kabupaten dan kota di Bengkulu, tidak ditemukan masyarakat Bengkulu masuk anggota Gafatar. Apalagi sampai berangkat ke Kalbar, tidak ada sama sekali," kata Kepala Kanwil Kemenag Bengkulu, Suardi Abbas kepada SP dan Beritasatu.com, di Bengkulu, Senin (25/1).

Meski demikian, Kepala Kanwil Kemenag Bengkulu mengaku organisasi Gafatar sempat masuk ke daerah ini, tapi karena tidak mendapat respon dari masyarakat, maka organisasi ini bubar.

"Sebelumnya Gafatar sempat masuk ke Bengkulu Utara, Kepahiang, dan Kota Bengkulu, tapi tidak berkembang karena tidak mendapat reskon dari masyarakat setempat," ujarnya.

Karena tidak mendapat respon dari masyarakat Bengkulu, maka para pendiri Gafatar ini menghilang dari daerah ini, dan pindah ke Kalbar.

"Informasinya mereka lari ke Kalimantan Barat (Kalbar), tapi yang lari ke Kalbar ini bukan masyarakat asli Bengkulu, tapi warga asal Pulau Jawa yang datang ke sini mendirikan Gafatar," ujarnya.

Karena itu, sampai sekarang tidak ada laporan warga Bengkulu ikut Gafatar di Kalbar. Hal ini terjadi karena masyarakat Bengkulu tidak tertarik masuk organisasi tersebut.

"Jadi, Ormas Gafatar yang sempat berdiri di tiga kabupaten dan kota Bengkulu, tidak berkembang karena tidak ada pengikutnya. Sebab, ajaran Gafatar tidak masuk akal sehat, dan tak sesuai dengan ajaran Islam dan Pancasila," ujarnya.

Suardi Abbas mengatakan, meski tidak ditemukan pengikut Gafatar di Bengkulu, tapi pihaknya terus memantau organisasi ini di setiap desa dan kecamatan, siapa tahu secara diam-diam masih ada pengikutnya, terutama di kabupaten dan kota yang sempat dibentuk ormas tersebut.

"Yang jelas, jika ditemukan pengikut Gafatar di Bengkulu, akan diberikan percerahan oleh petugas Kemenag kecamatan agar mereka tidak terjebat lebih jauh masuk ke organisasi tersebut," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon