SBY: Kita Kehilangan Perancang Pembangunan Handal

Jumat, 9 Maret 2012 | 16:53 WIB
IS
B
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  dan Wakil Menag Nasaruddin Umar  berdoa untuk almarhum mantan Kepala Bappenas Widjojo Nitisastro yang disemayamkan di gedung Bappenas, Jakarta.FOTO : Widodo S. Jusuf/ANTARA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Menag Nasaruddin Umar berdoa untuk almarhum mantan Kepala Bappenas Widjojo Nitisastro yang disemayamkan di gedung Bappenas, Jakarta.FOTO : Widodo S. Jusuf/ANTARA
Emil Salim menyebut yang bisa dipelajari dari Widjojo adalah cara berpikirnya yang rasionil dan berorientasi pada masyarakat yang lemah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan masyarakat Indonesia kehilangan seorang tokoh terbaik, karena di masa hidup almarhum Widjojo Nitisastro memiliki andil dan jasa yang besar untuk pembangunan bangsa.

“Kita kembali kehilangan beliau (Widjojo Nitisastro) yang memiliki andil, peran, dan jasa. Kita mengenal beliau pada masa pembangunan Orde Baru, dia adalah perancang pembangunan yang handal, banyak pikiran beliau menjadi kebijakan ekonomi,” kata SBY, usai memimpin acara pelepasan jenazah Widjojo, di Gedung Bappenas-Taman Suropati, hari ini.

Menurut SBY, almarhum telah meletakkan dasar ekonomi yang memacu pertumbuhan dan pemerataan.

“Ada adaptasi dan stategi kebijakan ekonomi pada jaman itu dimana Indonesia dalam ekonominya dibangun dengan strategi yang tepat, itu tidak lepas dari pemikiran Bapak Widjojo Nitisastro,” kata Presiden.

Bekas Kepala Bappenas, Emil Salim, menyebut yang bisa dipelajari dari Widjojo adalah cara berpikirnya yang rasionil dan berorientasi pada masyarakat yang lemah.

“Yang beliau pesankan adalah berpikir rasionil, berorientasi kepada masyarakat lemah, harus berpikir global. Juga, bagaimana supaya bisa melakukan pengembangan perdagangan antar negara berkembang atau maju yang lebih berimbang. Jadi kalau free trade harus fair, jangan untungkan negara maju saja,” kata Emil.

Selain itu, kata Emil, disertasi Widjoyo tentang kependudukan supaya ada pengendalian pertambahan penduduk. Tujuannya, supaya tidak menjadi beban bagi pembangunan nasional.

“Maka, lahirlah program KB, SD Inpres, dan Puskesmas. Selama rakyat masih ada, pendidikan dan kesehatan tetap penting. Program-program itu relevan hingga saat ini,” kata Emil, yang mengagumi koleganya itu sebagai sosok pekerja keras.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon