Presiden Erdogan Tolak Penuhi Persyaratan Brussels
Kamis, 12 Mei 2016 | 23:29 WIB
Ankara – Hasil kesepakatan untuk memberikan perjalanan bebas visa kepada warga Turki ke lebih banyak negara di Uni Eropa (UE) berada dalam keadaan bahaya, Kamis (12/5). Itu karena Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menantang dengan berjanji tidak akan memenuhi syarat utama yang ditetapkan oleh Brussels.
Pernyataan yang dilontarkan Erdogan jelas mengancam masa depan kesepakatan itu. Bahkan Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker blak-blakan mengatakan kepada Erdogan bahwa warga Turki hanya dapat menikmati perjalanan ke wilayah-wilayah bebas visa Schengen, jika seluruh persyaratan dipenuhi dan itu akan menjadi masalah presiden jika gagal terwujud.
Perjalanan bebas visa yang dijanjikan tersebut merupakan pilar penting dari kesepakatan yang dicapai Maret agar Turki bersedia membendung arus migran ke Uni Eropa dan sekarang masalah migran juga berada dalam bahaya.
Erdogan pun menuding Uni Eropa munafik karena meminta Ankara untuk menerapkan undang-undang kontra teror dengan imbalan perjalanan bebas visa. Padahal mereka sedang dalam pergolakan melawan kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan (PKK).
"Uni Eropa muncul dan berkata 'lunakkan pendekatan Anda terhadap organisasi teroris'," ujar Erdogan dalam pidato di Ankara. Pernyataannya itu merujuk pada PKK.
Dia pun berbalik bertanya: "Sejak kapan Anda memimpin negara ini? Siapa yang memberikan Anda wewenang?"
"Mereka percaya bahwa mereka memiliki hak atas diri mereka sendiri untuk melawan teror namun mereka sadar itu membutuhkan biaya sangat mahal dan tidak dapat kami terima. Saya katakan dengan jelas, inilah yang disebut munafik," pungkas dia.
Turki menyimpulkan kesepakatan yang dicapai dengan Uni Eropa, pada Maret, bahwa itu bertujuan membatasi aliran migran ke Eropa dengan imbalan insentif politik termasuk perjalanan bebas visa serta bantuan senilai miliaran euro dari Brussels kepada para pengungsi.
Namun, Ankara diwajibkan memenuhi lima syarat yang tersisa dari total 72 supaya rakyat Turki dapat menikmati perjalanan bebas visa ke negara-negara di Eropa.
Di sisi lain, militer Turki masih memerangi PKK di daerah mayoritas Kurdi di bagian tenggara sehingga Turki mengatakan pihaknya belum dapat mengubah undang-undang kontra-terornya.
Sementara itu, komentar Juncker mengindikasikan Uni Eropa belum melihat adanya ruang untuk berunding jika Turki belum memenuhi semua persayaratan.
"Kami menganggap sangat penting untuk memenuhi persyaratan ini, jika tidak maka kesepakatan antara Uni Eropa dan Turki tidak akan terjadi. Jika Erdogan ingin terus melanjutkan strateginya maka dia harus menjawab pertanyaan rakyat Turki mengapa Eropa menyangkal janji perjalana bebas visa bagi rakyat Turki. Itu bukan masalah saya tapi itu jadi masalah buatnya," kata Juncker di Berlin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




