Senat Brasil Setuju Gelar Sidang Pemakzulan Rousseff
Rabu, 10 Agustus 2016 | 23:53 WIB
Brasilia – Senat Brasil, pada Rabu (10/8) pagi waktu setempat, sepakat menggelar sidang pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Dilma Rousseff. Proses tersebut akan berujung pada berakhirnya jabatan Rousseff.
Sementara itu keputusan untuk menggelar sidang pemakzulan dilakukan melalui pemungutan suara atau voting, di mana terdapat 59 anggota senat yang mendukung pemakzulan Rousseff, dan 21 senat yang menentang.
Sedangkan untuk pelaksanaan sidang pemakzulan ditetapkan dibuka sekitar 25 Agustus atau empat hari setelah upacara penutupan pesta olahraga Olimpiade di Rio de Janeiro. Sidang diperkirakan berlangsung selama lima hari termasuk putusan yang dikeluarkan hakim.
Senat sendiri telah menangguhkan jabatan Rousseff, presiden perempuan pertama di Amerika Selatan, pada 12 Mei atas tudingan melakukan pelanggaran terhadap undang-undang anggaran dengan tujuan menutupi kondisi perekonomian negara yang merosot.
Namun Rousseff (68 tahun) mengibaratkan pemakzulan itu sebagai aksi kudeta yang dilakukan oleh musuh-musuh politiknya.
Di sisi lain, ada awal pelaksanaan sidang Senat yang berlangsung secara maraton, mulai Selasa (9/8), Ketua Mahkamah Agung Ricardo Lewandowski mengingatkan para anggota senat bahwa mereka akan melakukan salah satu praktek paling serius berdasarkan konstitusi.
Lawan-lawan Rousseff sendiri tidak kesulitan untuk mencapai mayoritas 81 suara Senat untuk memulai langkah-langkah mengakhiri skandal kepresidenannya.
"Apa yang kami bicarakan hari ini tentang pembelaan konstitusi dan demokrasi itu sendiri. Mereka yang melakukan kejahatan harus bertanggung jawab. Persyaratan sesuai pada tempatnya untuk menyingkirkan Dilma Rousseff," ujar Senator Aecio Neves, salah satu rival penentang paling kuat Rousseff.
Sementara itu di Sao Paulo terdapat Sekitar 250 pendukung Rousseff yang menggelar demonstrasi. Bahkan di ruang Senat di Brasilia, para sekutu Rousseff memberikan pembelaan.
"Hari ini bukan hari yang baik untuk demokrasi kita. Ada aliansi politik yang berbau kudeta," kata salah satu Senator Paulo Raocha.
Pemilihan waktu krisis politik yang sedang berlangsung ini pun terasa sangat canggung bagi Brasil – yang sedang memamerkan kekuatan perkembangan ekonomi dan stabilitas politik dengan pelaksanaan Olimpiade pertama di Amerika Selatan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




