Indonesia Darurat Obat Antiular Berbisa

Kamis, 18 Agustus 2016 | 14:34 WIB
GG
JM
Penulis: Gardi Gazarin | Editor: JEM
Tri Maharani (tengah berdiri), saat mempraktikkan penanganan korban digigit ular.
Tri Maharani (tengah berdiri), saat mempraktikkan penanganan korban digigit ular. (istimewa)

Jakarta -  Indonesia darurat obat antiular berbisa. Di Tanah Air, hanya ada satu industri obat antiracun gigitan hewan melata mematikan itu. Satu perusahaan farmasi dengan produksi tiga jenis serum. Padahal di Indonesia ada 33 tiga jenis ular berbisa dengan jumlah warga korban gigitan masuk dalam kategori cukup banyak, sepertti di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.Sebanyak 30 jenis obat antibisa ular bisa di Indonesia didapat dari impor, dan harganya jauh lebih mahal.

"Melihat minimnya industri serum antibisa ular diharapkan pemerintah melalui industri farmasi Indonesia dapat melengkapi produksi 30 serum antibisa ular yang belum diproduksi tersebut," ujar Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Paru Dungus Madiun Dr Tri Maharani didampingi dosen Intitut Pertanian Bogor (IPB) juga pengamat reptil Mirza Kusrini dan Ketua Pecinta Ular Berbisa Arbi saat ditemui SP di sela peluncuran dan bedah buku "Pro Kontra Ular Berbisa di Jabodetak" karya Nathan Rusli di Studio @America Pacific Place Jakarta, Selasa (16/8) malam.

Menurut Tri Maharani yang penasihat WHO di bidang gigitan ular Asia Tenggara, jika digigit ular berbisa, harus cepat ditangani dokter. "Selain penanganan dini, kondisi pasien juga harus ditenangkan jangan panik. Selama dari lokasi kejadian terkena serangan binatang itu dibawa ke rumah sakit dengan dibawa kendaran dalam kondisi jangan mudah ada guncangan," ujarnya.

Dikatakan, pengobatan bisa ular juga jangan percaya pada mitos-mitos seperti di film. Sebab, akibat bisa ular yang tidak ditangani oleh medis secara cepat dan tepat, bisa berakibat fatal, menuju kematian. Simak kematian pedangdut Irma Bule yang meninggal akibat digigit ular king kobra pada sebuah atraksinya di Karawang, beberapa waktu lalu. Peristiwa itu semakin menyadarkan kalangan medis untuk membuat masyarakat lebih memahami tindakan darurat untuk penanganan gigitan ular berbisa.

Menurutnya, gigitan ular berbisa harus segera ditangani cepat dengan menghambat penyebaran bisa (imobilisasi) pada aliran darah dengan membebat tekan (mengikat kain ato perban elastis) pada daerah yang terkena gigitan. Dengan perban elastis dibuat tidak bergerak dengan spalk sebagai penguat dari kayu, bambu atau kardus.

Penanganan saat menolong Irma Bule dengan cara diisap, katanya, hal itu salah. Sebab tindakan tersebut justru bisa menyebabkan kerusakan jaringan. Selain diisap pada bekas gigitan, Irma Bule yang sedang tampil dalam pertunjukkan kurun waktu itu masih dibiarkan menari lagi sebelum akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit dan nyawanya tidak tertolong lagi.
Pasien gigitan ular berbisa seharusnya langsung dibawa ke rumah sakit, kemudian bila tidak ada serum bisa ular maka dapat diberikan terapi oksigenasi bahkan ventilator.

Tri Maharani menambahkan, kasus gigitan ular yang membawa korban jiwa di Indonesia sangat besar, dan ironisnya banyak keluarga yang tidak melaporkan tetapi menerima kenyataan tersebut sebagai nasib buruk.

Melihat kenyataan tersebut, alumni fakultas kedokteran spesial gawat darurat (emergency) dan pelatih gawat darurat di Universitas Brawijaya, Malang, itu berkomitmen, menolong para korban dengan melakukan sosialisasi penanganan dini terhadap kasus gigitan ular dengan membagikan pengobatan dengan serum bisa ular (sabu) yang diimpor dari Thailand secara pribadi.

"Saya sempat belikan serum tersebut karena untuk menolong seorang bocah yang kritis, dan harus cepat diobat. Walau harganya puluhan juta, saya bagikan gratis untuk menolong pasien, saya lega bila melihat mereka sembuh," ujar Maharani yang  juga ketua Remote Envenomation Consultant Service (RECS) atau lembaga layanan konsultasi media penanganan hewan berbisa ini.

Pengurus Heretplogi Indonesia ini menjelaskan, pasien yang terkena gigitan ular adalah orang-orang sehat dan bila bisa ditangani dengan baik maka dapat sehat kembali, dan mereka bukan pasien penyakit kronis.

Tri Maharani saat dinas di Puskesmas Bondowoso Jatim 2015, menangani 85 kasus gigitan ular berbisa semuanya sembuh dan sehat dengan metode pengobatan tersebut. Untuk korban sama di kota-kota lain sering melaporkan kasus gigitan ular antara lain Serang, Provinsi Banten dan Papua, dan banyak korban yang meninggal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon