Korut Lancarkan Lagi Tes Hulu Ledak Nuklir

Sabtu, 10 September 2016 | 00:49 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Korea Utara pamerkan peluru-peluru kendali selama parade milite 2015 di halaman Kim Il-Sung Square, Pyongyang.
Korea Utara pamerkan peluru-peluru kendali selama parade milite 2015 di halaman Kim Il-Sung Square, Pyongyang. (AFP Photo)

Seoul - Korea Utara (Korut) pada Jumat (9/9) mengklaim telah behasil menguji hulu ledak nuklir yang dapat dipasang pada rudal. Aksi ini mengundang kecaman dari Korea Selatan (Korsel) dan dianggap sebagai kecerobohan gila yang dilakukan penguasa muda Korut Kim Jong Un.

Para ahli mengatakan ledakan di lokasi pengujian nuklir Punggye-ri adalah yang kelima dan paling kuat karena sampai 10 kiloton.

"Jika kita menempatkannya dalam perspektif, lebih kecil dari Hiroshima atau Nagasaki, tapi masih mampu merobek jantung kota," kata Karl Dewey, seorang analis dari IHS Janes.

Media pemerintah Pyongyang menyatakan, tes yang dilakukan setelah serangkaian peluncuran rudal balistik ini sesuai tujuan, yakni hulu ledak yang cocok dengan hulu ledak miniatur pada roket.

"Ilmuwan nuklir kami melakukan uji coba ledakan nuklir terbaru pada hulu ledak nuklir yang dikembangkan pada lokasi uji nuklir negara itu," kata presenter TV Korut Ri Chun-Hee.

Dia menambahkan, negaranya mengirimkan pesan ucapan selamat kepada para ilmuwan nuklir atas keberhasilan uji ledak hulu ledak nuklir.

Presiden AS Barack Obama mengingatkan konsekuensi serius tindakan Korut. Ia mengatakan telah menelepon para pemimpin Korsel dan Jepang untuk berunding atas masalah ini.

Presiden Korsel Park Geun Hye menentang kecerobohan gila dari Kim, yang sejak mengambil kendali setelah kematian ayahnya pada 2011 telah melakukan serangkaian pembersihan dan tes senjata yang dirancang untuk menunjukkan kekuatan dan mengonsolidasikan kekuasaan.

"Rezim Kim Jong Un hanya akan mendapatkan lebih banyak sanksi dan isolasi dan provokasi, seperti akan lebih mempercepat jalan bagi kehancuran diri sendiri," kata Park.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov, dalam pertemuan di Jenewa, Swiss mengatakan pihaknya menyerahkan masalah tersebut kepada PBB.

Tes Jumat ini bertepatan dengan pasukan AS dan Korsel membuka kembali pendaratan Incheon, 66 tahun setelah dimulainya Operasi Krom, pertempuran yang membawa dampak signifikan dalam Perang Korea.

Indikasi pertama dari sebuah ledakan bawah tanah muncul ketika monitor seismik mendektesi gempa buatan dengan kekuatan 5,3 di dekat lokasi nuklir Punggye-ri.

"Ledakan 10-kiloton hampir dua kali kekuatan uji coba nuklir keempat dan kurang sedikit dari pengeboman Hiroshima, yang sekitar 15 kiloton," kata Kim Nam Wook dari badan meteorologi Korsel.

Tapi perhatian segera bergeser dari kekuatan ledakan, karena Korut menyatakan itu adalah miniatur hulu ledak. Jika Korut dapat membuat perangkat nuklir kecil yang cukup muat pada roket -dan meningkatkan jangkauan serta akurasinya- mungkin dapat mencapai tujuannya yang sering diumbar untuk menyerang AS.

Namun, warga Korut yang berkumpul di sekitar layar publik untuk menonton pengumuman resmi dari tes yang bertepatan dengan ulang tahun ke-68 pendiri negara, justru bergembira.

"Bajingan AS mungkin mengatakan ini dan itu, tapi kami tidak takut apa pun saat kekuatan militer kami semakin kuat," kata seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya.

Jepang mengutuk tes tersebut sebagai hal yang benar-benar tidak dapat diterima. Sedangkan Kepala badan pengawas atom PBB mengatakan aksi tersebut jelas pelanggaran atas berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon