Ekonomi Makro Stabil, Harga SUN Diprediksi Menguat
Senin, 12 September 2016 | 22:03 WIB
Jakarta - Harga surat utang negara (SUN) selama perdagangan pekan ini diperkirakan menguat, karena didorong stabilitas ekonomi makro yang cenderung terjaga, khususnya nilai tukar rupiah dan inflasi. Imbal hasil (yield) SUN bertenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada rentang 6,6-6,9%.
"Meski dibayang-bayangi oleh faktor penaikan Fed rate, sejauh ini kondisi domestik yang masih menarik menjadi hal yang mendorong investor untuk terus mengakumulasi SUN," jelas analis PT Capital Asset Management kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (12/9).
Menurut dia, adanya imbas dari kebijakan tax amnesty dan peraturan OJK yang mewajibkan investor institusi untk memiliki batas minimal di SUN akan menjadi faktor utama yang akan mendorong bergairahnya pasar SUN sampai akhir tahun ini.
Sepanjang pekan lalu, harga SUN masih bergerak variatif merespon sentimen dari The Fed dan sentimen dari pasar domestik. Yield SUN tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level 6,8%, pada akhir pekan lalu akhirnya ditutup di level 6,9%.
"Sentimen dari kondisi inflasi yang makin terkendali dan penyataan BI yang membuka pelonggaran suku buku ke depan menjadi faktor yang membuat pergerakan harga SUN di pasar sekunder masih aktraktif," ujar Desmon.
Kondisi yang sama juga terjadi di pasar primer. Investor masih terus memburu lelang SUN yang dapat dilihat dari jumlah penawaran uang masuk yang masih cukup besar. "Meski nilainya turun dibandingkan beberapa minggu sebelumnya, namun kondisi ini sudah cukup baik dibandingkan awal tahun ini," paparnya.
Sementara itu, analis PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menilai, dengan imbal hasil global naik, sentimen pelemahan bisa kembali ke SUN. Harapan tambahan stimulus oleh ECB ternyata gagal menemui kenyataan, sehingga mendorong imbal hasil terutama di Eropa untuk naik cukup signifikan pekan lalu.
"Itu cukup untuk mendorong imbal hasil global untuk naik, termasuk US Treasury yang juga terbantu data initial jobless claims yang turun signifikan, salah satu indikator membaiknya pasar tenaga kerja AS," jelas dia.
Ia melanjutkan, dari domestik, membaiknya pertambahan uang tebusan tax amnesty menekan ketakutan pelebaran defisit APBN 2016 walaupun saat ini Pemerintah sudah siap untuk melakukan pemangkasan anggaran lagi jika pelebaran defisit tidak terhindarkan – posisi uang tebusan tax amnesty akhir September akan menjadi acuan utama.
Dari pasar SUN imbal hasil mulai turun terbatas dan posisi kepemilikan asing belum kembali ke atas 39%, menandakan sentimen positif domestik belum jauh menungguli sentimen negatif dari risiko fiskal. "Fokus saat ini perlahan mulai beralih ke FOMC meeting serta RDG BI rate di minggu ke empat September 2016," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




