Brexit Tidak akan Hancurkan Uni Eropa

Rabu, 14 September 2016 | 23:06 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Jean-Claude Juncker.
Jean-Claude Juncker. (AFP)

Strasbourg – Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengeluarkan pernyataan untuk mempersatukan Uni Eropa (UE), menyusul peristiwa Brexit. Dia juga menambahkan bahwa Uni Eropa tidak berada dalam bahaya perpecahan namun harus berjuang melawan galloping populism.

Dalam pidato negara serikat tahunannya, pada Rabu (14/9), Juncker mengumumkan beberapa rencana termasuk pembentukan markas pertahanan Uni Eropa dalam rangka menemukan landasan bersama setelah mengalami krisis satu tahun dan perpecahan dalam blok itu.

"Uni Eropa masih belum cukup bersatu," ujar Juncker kepada Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, seraya menambahkan bahwa 12 tahun ke depan adalah waktu yang penting untuk menyelamatkan.

"Ada perpecahan di luar sana dan sering kali terjadi perpecahan di mana kita harus bersatu lebih lanjut – meninggalkan ruang untuk galloping populism," tambahnya, dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris.

Pidato Juncker yang sangat dinanti-nantikan ini terjadi dua hari, sebelum 27 pemimpin Uni Eropa bertemu tanpa keikutsertaan Inggris di Bratislava, ibu kota Slovakia, untuk pertemuan puncak yang bertujuan menyusun peta jalan masa depan setelah Inggris memilih keluar dari Uni Eropa.

Kepala eksekutif Uni Eropa ini juga memperingatkan bahwa Inggris tidak dapat berharap memperoleh akses masuk dengan cara a la carte ke pasar tunggal Uni Eropa jika mereka menghidupkan kembali kontrol imigrasi. Hal itu mengisyaratkan adanya pengerasan meluas terhadap posisi Eropa jelang negosiasi dengan London.

"Kami menghormati dan pada saat yang sama menyesali keputusan Inggris, tetapi Uni Eropa tidak berada dalam risiko seperti itu," kata Juncker, yang secara resmi meluncurkan gugus tugas Komisi Brexit, pada Rabu.

Di sisi lain, Juncker juga menyerang balik lonjakan nasionalisme dan rasisme. Hal itu merujuk pada pembunuhan pria Polandia yang terjadi baru-baru ini di Inggris. "Kami warga Eropa tidak pernah bisa menerima buruh Polandia dilecehkan, dipukuli, atau bahkan dibunuh di jalan-jalan Harlow," tegasnya.

Akan tetapi pidatonya disambut remeh oleh para pemimpin populis di Parlemen Eropa. Mereka menuding Uni Eropa sudah gagal menangani sejumlah besar masalah termasuk krisis migrasi dan ekonomi yang stagnan.

Bahkan, Nigel Farage, ketua Partai Kemerdekaan Inggris yang mendesak terjadinya Brexit, mengkritik fokus yang ditujukan kepada militer Eropa. Farage pun berkomentar: "Setelah mendengarkan Anda, saya senang kami memilih untuk keluar."

Sedangkan pemimpin sayap kanan Prancis, Marine Le Pen menyebutkan Juncker menolak untuk mendengarkan keinginan besar warga Eropa untuk mendapatkan kemerdekaan mereka kembali.

Dengan terpecahnya negara-negara di Uni Eropa, khususnya terkait krisis migrasi terbesar di benua itu sejak Perang Dunia II, maka pidato Juncker difokuskan pada keamanan dan ekonomi untuk menemukan cara-cara bekerja sama pasca-Brexit.

"Kita harus memiliki markas besar Eropa dan bekerja menuju kekuatan militer," tutur Juncker, merujuk pada rencana lama menghadapi sikap permusuhan Inggris dan yang akan muncul pada pertemuan puncak, Jumat (16/9).

Namun ia menekankan bahwa hal ini harus saling melengkapi dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sehubungan dengan munculnya kekhawatiran bahwa Uni Eropa akan membuat marah aliansi militer yang dipimpin Amerika Serikat, yang juga bermarkas di Brussels.

Tingkatkan Investasi
Dalam pidato tersebut, Juncker mengusulkan rencana investasi sebesar dua kali lipat hingga 630 miliar euro atau seara US$ 708 miliar, dan menyampaikan langkah-langkah untuk membantu para pemuda yang dilanda krisis utang zona euro.

Dia juga meminta kepada pasukan penjaga perbatasan dan pantai Uni Eropa yang baru untuk segera bekerja dengan 200 penjaga dan 50 kendaraan yang dikerahkan di Bulgaria, pada Oktober atau satu tahun di mana lebih dari satu juta pengungsi dan migran tiba di Uni Eropa.

Selain itu, dia juga menyampaikan rencana investasi yang ambisius untuk negara-negara di Afrika dengan tujuan membendung krisis migrasi. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon