Obama Berusaha Dorong Perdamaian di Timur Tengah
Kamis, 22 September 2016 | 00:28 WIB
New York – Pada saat Presiden Barack Obama berkuasa, dia menyiratkan masalah perdamaian di Timur Tengah sebagai salah satu prioritasnya. Namun pada kenyataannya, Obama hanya membuat sedikit kemajuan dibandingkan yang dilakukan rekan-rekan senegaranya untuk mencapai perdamaian Timur Tengah.
Sekarang, masa jabatan Obama tersisa empat bulan lagi dan muncul pertanyaan apakah Obama masih serius mengenai perdamaian di Timur Tengah.
Namun, tak ada seorang pun di Washington yang memperkirakan muncul terobosan mendadak dalam pertikaian antara pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan otoritas Palestina Mahmud Abbas.
Meski demikian, dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, pada Rabu (21/9), Obama akan melakukan pertemuan dengan pemimpin Israel dan mungkin untuk terakhir kalinya.
Muncul berbagai pertanyaan dari pertemuan kedua pemimpin negara itu, apakah hasil pertemuan terbukti akan menjadi catatan kali lain yang menegangkan menuju jalan buntu atau tawaran akhir untuk memengaruhi sekumpulan berkas yang dihadapi dan kemudian kecewa terhadap semua pendahulunya.
"Ini akan menjadi upaya deklarasi untuk menempatkan catatan apa yang diyakni Amerika sebagai parameter-parameter solusi. Dan ini akan menjadi upaya untuk menempatkan tandatangan atau stempel Obama pada sebuah isu yang mungkin dia sangat peduli," ungkap Aaron David Miller dari Wilson Center, sekaligus mantan penasehat senior.
Pada 22 Januari 2009, Obama menandai hari keduanya setelah dilantik sebagai pemimpin Dunia Bebas dengan mencalonkan George Mitchell sebagai utusan perdamaian Timur Tengah.
Mantan senator itu telah menjadi orang penting dalam perundingan untuk mengakhiri konflik Irlandia Utara Inggris, dan promosinya dipandang sebagai tanda keseriusan pemimpin muda AS.
Presiden sendiri berjanji untuk bersikap agresif dalam mengupayakan perdamaian abadi antara Israel dan Palestina.
Namun sudah delapan tahun berlalu dan belum ada yang berhasil. Bahkan Israel dan tetangga-tetangganya masih terus melakukan kekerasan politik, meskipun mendapat pengawasan tingkat tinggi dari dunia internasional.
Apapun ketegangan pribadi yang merusak hubungan Obama dan Netanyahu, pemimpin Gedung Putih ini masih dapat menikmati akses untuk mengganggu.
Pekan lalu, Obama mendukung kontrak bantuan militer AS ke Israel selama 10 tahun dengan nilai US$ 38 miliar. Hasil perundingan yang sudah diprediksikan, tapi salah satu menekankan adanya ketegangan.
Namun kebaikan hati Obama belum cukup menekan pemerintah negara Yahudi untuk menerima dasar kompromi masa depan.
Jika Obama ingin meninggalkan Israel-Palestina maka para lawannya akan membawanya ke dalam isu pemilu.
Tapi seperti diduga, penerusnya Hillary Clinton dari Demkrat dan Donald Trump dari Republik, telah menerapkan kebijakan-kebijakan imigrasi.
Sebelum terpilih sebagai presidenAS pada Desember 2000, Bill Clinton juga memiliki tujuan yang jelas untuk Timur Tengah, yakni menginginkan dua negaa saling berdampingan satu sama lain, dan saling berbagi bagian ibu kota di Yerusalem.
"Hal ini dilakukan dengan cara tidak diumumkan, dengan jarak pandang media yang sedikit karena sejujurnya, Clinton masih percaya ada kesempatan unuk mencapai kesepakatan," pungkas Miller.
Sedangkan Obama tidak memiliki harapan, dia tahu kesepakatan akan sulit dicapai di hari-hari jelang berakhirnya masa jabatan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




