Menlu RI-Saudi Akan Rutin Bertemu Bahas Berbagai Isu
Jumat, 3 Maret 2017 | 12:21 WIB
Jakarta - Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia telah meningkatkan status mekanisme bilateral Indonesia dan Saudi. Menteri luar negeri kedua negara akan melakukan pertemuan rutin setidaknya satu tahun sekali untuk membahas berbagai isu lewat forum Sidang Komisi Bersama (SKB).
Mekanisme SKB antara Indonesia dan Saudi sebenarnya bukan hal baru, tapi selama ini hanya dipimpin oleh pejabat setingkat dirjen. Dari pihak Indonesia diwakilkan oleh dirjen di Kementerian Luar Negeri, sedangkan dari pihak Saudi diwakilkan oleh pejabat dari Kementerian Tenaga Kerja.
"SKB ini akan direvitalisasi, ditingkatkan menjadi pertemuan antara menlu Indonesia dan menlu Saudi. Jadi akan lebih luas isu yang dibahas, bahkan kalau diperlukan masuk sektor-sektor lain," kata juru bicara Kemlu, Arrmanatha Nasir, di Jakarta, Kamis (2/3).
Menurut Arrmanatha, SKB selama ini tidak tentu jadwal pertemuannya, sehingga akan dioptimalkan minimal setahun sekali. Dia mengatakan perluasan kerja sama ini menunjukkan hubungan RI-Saudi yang semakin meningkat, tidak lagi terbatas pada tiga isu tradisional yaitu haji, tenaga kerja, dan energi.
"Dulu SKB itu dipimpin senior officials, dari Indonesia dipimpin dirjen, dan Arab justru dipimpin dirjen dari Kementerian Tenaga Kerja. Ini menunjukkan bagaimana pandangan dan terbatasnya lingkup hubungan Indonesia dan Saudi," ujar Arrmanatha.
Dia menambahkan intensitas hubungan RI-Saudi terjadi dalam kurun dua tahun terakhir selama masa jabatan Presiden Joko Widodo. Menlu RI Retno Marsudi telah tiga kali melakukan kunjungan ke Saudi, sebaliknya Menlu Saudi Adel al-Jubeir juga telah dua kali melakukan kunjungan resmi ke Indonesia.
"Kunjungan Raja Arab seperti 'crown' dari hubungan baru yang diperluas ini, tidak hanya tradisional tapi isu-isu lainnya, khususnya ekonomi, pendidikan, transnational organize crime, pariwisata, dan lain-lain," ujar Arrmanatha.
Dia mencontohkan kerja sama penanganan kejahatan lintas batas (transnational organize crime) antara Indonesia dan Saudi bisa meliputi terorisme, narkoba, peredaran uang palsu, penggunaan senjata, dan korupsi.
"Ini tentunya termasuk kerja sama intelijen," tambahnya.
Sementara itu, Raja Salman dalam pidatonya di Gedung DPR/MPR RI menyerukan untuk bersatu melawan terorisme. Salman mendesak agar meningkatkan perlawanan kepada terorisme, termasuk di negara Islam.
"Tantangan kita, khususnya umat Muslim, yang dihadapi sekarang adalah terorisme. Kita harus merapatkan barisan dalam memerangi terorisme, radikalisme, dan berusaha membawa perdamaian dunia demi kepentingan bersama," kata Raja Salman
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




