Walhi: Suhu Udara Kota Batu Kian Kritis
Rabu, 2 Mei 2012 | 07:55 WIB
Suhu kritis terutama disebabkan semakin menyusutnya keberadaan ruang terbuka hijau di daerah itu.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur simpul Malang menilai, suhu udara Kota Batu saat ini sudah kian kritis, akibat semakin menyusutnya keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di daerah itu.
Koordinator Walhi Jatim simpul Malang, Purnawan D Negara, di Malang, Rabu (2/5), mengemukakan bahwa menyusutnya RTH tersebut karena pengalihan baik lahan RTH maupun hutan, menjadi kawasan rekreasi maupun hotel di kota itu.
"Padahal, Kota Batu berada di dataran tinggi. Yang seharusnya suhu udaranya dingin, sekarang panas. Selain itu, Kota Batu selama ini kan menjadi penyangga wilayah Malang Raya, termasuk sumber airnya," katanya.
Dikatakan Purnawan, karena RTH sudah banyak yang beralih fungsi dan tidak terjaganya kondisi hutan, maka kota yang seharusnya bebas banjir itu, sekarang setiap hujan deras selalu banjir. Bahkan menurutnya pula, lahan Kota Batu kini juga sudah tidak bisa lagi menghasilkan tanaman apel seperti belasan tahun lalu.
Selain itu, kata Purnawan, akibat pengalihan fungsi RTH yang berlebihan tersebut, sumber air di daerah itu juga mulai menyusut. Awalnya katanya, sumber air di Kota Batu ada sebanyak 111 titik, namun saat ini tinggal 56 titik saja, dengan debit air yang jauh berkurang.
Menyinggung rencana pembangunan salah satu hotel di kawasan konservasi sumber air Gemulo, Purnawan mengatakan bahwa hal itu sangat mengganggu lingkungan dan keberadaan sumber air itu sendiri. "Seharusnya sumber air yang masih tersisa ini dijaga, dilindungi, dan dilestarikan, bukan sebaliknya justru diganggu dengan bangunan yang cukup besar dan tinggi," ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, pengalihan RTH menjadi kawasan wisata dan hotel di Kota Batu, memang tercatat semakin gencar. Bahkan dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan pembangunan hotel di daerah itu sangat pesat. Pada 2011 saja misalnya, ada empat hotel berbintang yang dibangun di daerah itu, sehingga Kota Batu kini tercatat memiliki 10 hotel berbintang.
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur simpul Malang menilai, suhu udara Kota Batu saat ini sudah kian kritis, akibat semakin menyusutnya keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di daerah itu.
Koordinator Walhi Jatim simpul Malang, Purnawan D Negara, di Malang, Rabu (2/5), mengemukakan bahwa menyusutnya RTH tersebut karena pengalihan baik lahan RTH maupun hutan, menjadi kawasan rekreasi maupun hotel di kota itu.
"Padahal, Kota Batu berada di dataran tinggi. Yang seharusnya suhu udaranya dingin, sekarang panas. Selain itu, Kota Batu selama ini kan menjadi penyangga wilayah Malang Raya, termasuk sumber airnya," katanya.
Dikatakan Purnawan, karena RTH sudah banyak yang beralih fungsi dan tidak terjaganya kondisi hutan, maka kota yang seharusnya bebas banjir itu, sekarang setiap hujan deras selalu banjir. Bahkan menurutnya pula, lahan Kota Batu kini juga sudah tidak bisa lagi menghasilkan tanaman apel seperti belasan tahun lalu.
Selain itu, kata Purnawan, akibat pengalihan fungsi RTH yang berlebihan tersebut, sumber air di daerah itu juga mulai menyusut. Awalnya katanya, sumber air di Kota Batu ada sebanyak 111 titik, namun saat ini tinggal 56 titik saja, dengan debit air yang jauh berkurang.
Menyinggung rencana pembangunan salah satu hotel di kawasan konservasi sumber air Gemulo, Purnawan mengatakan bahwa hal itu sangat mengganggu lingkungan dan keberadaan sumber air itu sendiri. "Seharusnya sumber air yang masih tersisa ini dijaga, dilindungi, dan dilestarikan, bukan sebaliknya justru diganggu dengan bangunan yang cukup besar dan tinggi," ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, pengalihan RTH menjadi kawasan wisata dan hotel di Kota Batu, memang tercatat semakin gencar. Bahkan dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan pembangunan hotel di daerah itu sangat pesat. Pada 2011 saja misalnya, ada empat hotel berbintang yang dibangun di daerah itu, sehingga Kota Batu kini tercatat memiliki 10 hotel berbintang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




