Irshad Manji: Harapan Kebebasan dan Cinta Masih Terbuka

Sabtu, 5 Mei 2012 | 14:19 WIB
IM
B
Penulis: Ismira Lutfia/ Ardi Mandiri | Editor: B1
Pegiat Islam reformis dan penulis buku asal Kanada Irshad Manji saat berdiskusi soal bukunya di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat (4/5) malam. Sementara, diskusi itu diganggu oleh sekelompok orang dari FPI.
Pegiat Islam reformis dan penulis buku asal Kanada Irshad Manji saat berdiskusi soal bukunya di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat (4/5) malam. Sementara, diskusi itu diganggu oleh sekelompok orang dari FPI. (twitter)
"Tadi malam di Salihara, masyarakat Indonesia yang progresif menunjukkan mengapa ada harapan dalam Islam: mereka berdiri untuk kebebasan dan cinta di hadapan kebencian dan premanisme."

Irshad Manji, pengarang buku 'Allah, Liberty and Love', mengatakan, harapan bagi kebebasan berpendapat masih terbuka.

"Tadi malam di Salihara, masyarakat Indonesia yang progresif menunjukkan mengapa ada harapan dalam Islam: mereka berdiri untuk kebebasan dan cinta di hadapan kebencian dan premanisme," ujar Manji dalam pernyataan tertulisnya yang dibagikan dalam jumpa pers, di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5).

Seperti diketahui, bedah buku karangan Manji, seorang lesbian asal Kanada, diadakan tadi malam oleh Komunitas Salihara. Namun, acara yang dihadiri oleh kurang lebih 150 peserta itu dibubarkan paksa aparat polisi, yang mengaku mendapat desakan dari organisasi masyarakat, seperti Forum Betawi Rempug (FBR), Forum Pembebasan Islam (FPI) dan Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) dan warga setempat karena isi buku dianggap menyebarkan homoseksualitas.

Manji menambakan, dengan melakukan itu, warga-warga Jakarta yang pemberani tersebut justru mewujudkan cita-cita terbaik dalam Al Qur'an dan merujuk hal ini pada Surat Ar Ra'd ayat 11 bahwa "Tuhan tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

"Hal ini memerlukan keberanian moral," ujar Manji, sambil menambahkan bahwa keberanian moral warga Jakarta adalah hasil dari kepemimpinan oleh komunitas pembela hak asasi manusia setempat.

"Dalam beberapa kejadian baru-baru ini, aktivis hak asasi manusia telah menempatkan hidup mereka dalam resiko untuk terus membuat Indonesia sebagai model bagi dunia untuk Islam yang pluralistik," ujar Manji.

Manji, yang mendirikan Moral Courage Project (MCP), sebuah program pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam keberagaman budaya, identitas dan pluralism, mengatakan bahwa MCP salut pada keberanian, energi dan integritas Muslim yang reformis di Indonesia.

"Mereka menjadi potensi bagi kemajuan, bukan hanya di Indonesia tapi juga untuk Muslim di mana pun," ujar Manji.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon